
POV Gita.
"Yoga ..." lirihku yang melihat kedatangan Yoga anak bungsuku, yang memberitahukan tentang Arsen dan Rara yang sudah mengetahui semuanya kepada Mawar dan Marsya.
"Om Yoga, tidak membohongiku kan?" tanya Mawar pada Yoga, yang datang menghampirinya.
"Iya, Cantik. Arsen dan Rara sudah mengetahui hal itu, jadi Mawar jangan bersedih lagi ya," jawabnya sambil tersenyum manis ke arah Mawar.
Aku benar-benar kesal dengan ucapan Yoga, ingin rasanya aku menjewer telinganya. Karena aku berharap Mawar seperti ini terus, dan dia itu harus mengerti dengan kondisinya yang hanya anak tiri Nindi. Tapi kalau sudah begini, ya mau bagaimana lagi?
Aku menghela nafas. Sebelum memutuskan datang menghampiri Yoga, yang sedang berada di dekat Mawar. Karena aku akan berpura-pura tidak tahu, tentang Arsen dan Rara yang sudah mengetahui semuanya.
"Kamu kata siapa, Ga? Kalau Arsen dan Rara sudah mengetahui semuanya?" tanyaku.
"Tadi itu, aku bertemu dengan Mbak Nindi dan kedua anaknya di depan rumah sakit, Bu. Arsen dan Rara yang melihatku masuk ke dalam rumah sakit, mereka berdua langsung memelukku dan mengatakan semua itu padaku," jawabnya singkat. Aku tahu, dia tidak bisa menceritakan secara detail. Karena ia menjaga perasaan Mawar.
Sebab aku tahu, kedekatan Yoga dengan Mawar. Karena semenjak Mawar dan Marsya tinggal satu kompleks dengan rumahku, Yoga sering datang menemui Mawar. Sedangkan Rendra yang merupakan Papa kandungannya, jarang sekali menemui Mawar dan Marsya.
"Syukurlah, kalau Rara dan Arsen sudah mengetahui semuanya. Jadi tidak ada yang harus di tutupi lagi semuanya, aku senang mendengar kabar ini, pasti Mama juga senang. Iyakan, Mah?" ucap Mawar yang melirik ke arah Marsya, dan aku melihat wajahnya yang tersenyum senang mendengar jawaban dari Yoga.
Aku juga melihat Marsya yang menanggapi ucapan anaknya, dengan mengagukkan kepala sambil ikut tersenyum juga.
Sedangkan aku yang mendengar ucapannya Mawar, mencoba mengatur nafasku secara pelan-pelan dan kemudian memijit pelipisku yang terasa pusing sekali.
Semua kejadian hari ini tidak pernah terpikirkan olehku, bahwa hari ini aku mendengar ucapan Arsen dan Rara yang sudah mengetahui semuanya. Bahkan Mawar yang sudah di beritahu tentang semuanya, ia pun sekarang ini mengetahui tentang Rara dan Arsen yang sudah mengetahui tentang dirinya yang merupakan anaknya Rendra. Aku masih tidak menyangka sama sekali, kalau hari ini benar akan menjadi kenyataan.
"Ibu, kenapa?" tanya Yoga yang melihatku sedang memijit pelipisku.
"Ibu tidak apa-apa, kok. Sebaiknya, kamu ajak Mawar dan Marsya pulang ke rumahnya. Ibu mau menemani Rendra di sini," jawabku yang menyuruh Yoga, untuk mengantar Mawar dan Marsya pulang ke rumahnya.
Aku sengaja menyuruh Yoga mengantar Mawar dan Marsya pulang ke rumah. Karena aku mau membawa Rendra pulang ke rumah Nindi, tanpa sepengetahuan Mawar dan Marsya. Agar mereka berdua tidak ikut pergi bersamaku.
__ADS_1
Aku tidak bisa membayangkan. Jika Mawar dan Marsya mengetahui hari ini Rendra akan pulang, pasti Mawar akan merengek meminta ikut pergi bersamaku, dan ia akan bersikeras ingin merawat Rendra yang sedang kehilangan ingatannya.
Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Karena aku mau yang mengurus Rendra adalah Nindi dan kedua anaknya, agar Rendra cepat mengingat Nindi dan kedua anaknya.
"Iya, Bu. Ayo Mawar, Mbak Marsya kita pulang sekarang," ujar Yoga yang mengajak Mawar dan Marsya pulang ke rumah.
"Bu, aku pulang duluan." Marsya berpamitan padaku. Sebelum ia dan Mawar pulang bersama Yoga.
"Iya," balasku singkat dan sedikit ketus.
Setelah kepergian mereka bertiga, aku segera masuk ke dalam kamar rawat Rendra. Untuk mengajaknya pulang ke rumah.
__________
POV Nindi.
Aku dan anak-anak yang akan pergi dari rumah sakit, tidak sengaja bertemu dengan Yoga adiknya Mas Rendra.
Kedua anakku langsung datang menghampirinya, dan mengatakan ketidaksukaan mereka pada Mawar dan Marsya mamanya. Aku membiarkan kedua anakku mengungkapkan isi hatinya pada Yoga, sebab dia juga pasti ikut menyembunyikan rahasia Mas Rendra selama ini.
"Kalian berdua, kenapa?" tanyaku.
"Rasanya keputusanku yang menyuruh Bunda dan Ayah tetap bersama salah, deh. Soalnya, sekarang ini aku lagi mikirin perasaan Bunda, yang pastinya merasakan apa yang aku dan kak Arsen rasakan. Iyakan, Bun?" jawab Rara yang bertanya tentang perasaanku.
"Tentu saja aku, merasakan apa yang kalian berdua rasakan. Bahkan mungkin lebih menyakitkan, karena Ayah kalian berdua sudah membohongi kita selama ini," batinku.
"Apakah Bunda juga kesal melihat mamanya Mawar berada di dekat Ayah?" Arsen pun ikut bertanya tentang perasaanku.
Belum sempat aku menjawab pertanyaan kedua anakku, mereka berdua sudah bertanya lagi padaku.
"Jika Bunda mau berpisah dengan Ayah. Kini aku setuju, Bun."
__ADS_1
"Aku juga setuju, Bun. Aku ingin melihat Bunda bahagia, meski tidak bersama Ayah lagi."
Ku anggukkan kepala, dan tersenyum mendengar ucapan mereka berdua. Karena kedua anakku sekarang setuju dengan keputusanku, yang sudah yakin ingin berpisah dengan Mas Rendra.
Aku tidak mampu mengatakan itu dengan lisanku, apalagi mengungkapkan isi hatiku pada kedua anakku. Sebab bukan cuman rasa kesal dan kecewa saja yang aku rasakan. Kebohongan Mas Rendra selama ini, membuatku ingin segera mengakhiri pernikahanku dengannya. Apalagi sekarang ini, kedua anakku sudah mengetahui perasaanku. Sekarang ini tidak ada lagi keraguan di hatiku, aku juga tidak akan menunda memberikan berkas gugatan perceraianku ke pengadilan lagi.
Sudah ku putuskan, hari senin nanti aku akan memberikan berkas gugatan perceraianku ke pengadilan.
"Astaghfirullah. Besok itu hari minggu, aku belum membeli kado ulang tahun untuk Felicia anaknya Ayu, yang mengundang kedua anakku ke acara ulang tahun anaknya," batinku yang baru ingat dengan acara ulang tahun anaknya Ayu temanku.
"Sayang, kita pergi ke mall yah. Soalnya Bunda mau membeli kado ulang tahun untuk Felicia, yang besok ulang tahun. Sekalian mengajak kalian berdua bermain di Timezone," ucapku.
"Iya Bun," sahut kedua anakku yang tersenyum mendengar ajakanku, yang mengajak mereka bermain di Timezone.
Sesampainya aku dan kedua anakku di mall, aku segera mencari kado ulang tahun untuk Felicia. Sebelum pergi ke wahana permainan, yang ada di dalam mall ini.
Saat aku dan anak-anak sampai di Timezone, aku tidak sengaja bertemu dengan Marsel dan anaknya. Aku pun memutuskan menghampiri mereka berdua.
"Sel, bagaimana keadaan Alvin?" tanyaku yang ingin mengetahui keadaan Alvin, yang terserempet mobilku waktu itu.
"Alhamdulillah. Alvin baik-baik saja, hanya luka kecil. Kamu dan anakmu mau bermain di sini?" jawabnya sambil bertanya balik padaku.
"Syukurlah, kalau Alvin baik-baik saja. Iya, Sel. Kedua anakku mau bermain di sini, oh iya! Bagaimana kalau Alvin bermain bersama Arsen dan Rara," sahutku yang mengusulkan kedua anakku bermain dengan Alvin.
"Pasti lebih seru, kalau bermain bersama-sama,"
"Iya benar, aku setuju."
"Iya aku, juga. Bermain bersama itu mengasyikan dari pada sendirian," timpal Alvin sambil tersenyum senang.
"Ya sudah, kalian bertiga sana bermain. Bunda dan Papanya Alvin melihat di sini," ujarku yang menyuruh mereka untuk pergi bermain di Timezone.
__ADS_1
Saat mereka sudah pergi meninggalkanku dan Marsel, aku pun terlibat obrolan ringan dengannya. Akan tetapi, saat Marsel menanyakan tentang Mas Rendra yang tidak ikut pergi bersamaku. Membuatku termenung, dan tidak langsung menjawab pertanyaannya.
"Kenapa Rendra tidak ikut pergi bersama kalian?"