
Nindi kaget mendengar ucapan Arsen putranya, yang memotong pembicaraannya dengan Tomi di telepon.
"Nindi apakah anakmu mendengar pembicaraan kita berdua?" tanya Tomi. Karena ia mendengar suara Arsen, yang bertanya pada Nindi.
Nindi menghela nafas dan membuangnya secara kasar, sebelum ia membenarkan pertanyaan Tomi.
"Iya, Tom."
"Kalau begitu, kita bisa membicarakan semua ini nanti saja," sahut Tomi yang menyuruh Nindi, untuk tidak melanjutkan semua cerita yang belum ia ketahui. Karena kedatangan Arsen, yang mendengar pembicaraannya dengan Nindi di telepon.
"Iya, Tom. Maaf, aku harus matikan panggilan teleponmu." Nindi pun meminta maaf pada Tomi. Sebelum ia mematikan panggilan telepon dari Tomi.
"Sejak kapan Arsen masuk ke dalam kamar? Kenapa langsung masuk tanpa mengetuk pintu dulu?" tanya Nindi yang berusaha mengalihkan pertanyaan Arsen, yang mendengar pembicaraannya dengan Tomi di telepon.
"Maafkan aku, Bun. Aku memang tidak mengetuk pintu kamar. Karena Bunda menutup pintu kamarnya tidak rapat, jadi aku masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu dulu. Tapi aku ingin Bunda menjawab pertanyaanku dengan jujur. Apakah kecelakaan yang di alami Ayah, gara-gara Kakek dan Nenek mengusir Ayah dari rumah? Makanya Bunda, Kakek dan Nenek mengajakku dan Rara tinggal di sini," jawab Arsen yang kembali bertanya pada Nindi. Karena ia meminta jawaban dari Nindi bundanya.
"Bukan karena itu, Nak. Ayah mengalami kecelakaan itu sebuah musibah, yang tidak kita ketahui datangnya. Bukan karena di usir oleh Kakek dan Nenek," sahut Nindi yang berusaha menjelaskan pada Arsen putranya.
"Tapi tadi aku dengar sendiri. Kalau Bunda bilang di telepon, Ayah mengalami kecelakaan saat Ayah pergi dari rumah. Karena di usir sama Kakek dan Nenek," timpal Arsen yang tidak langsung percaya dengan ucapan Nindi bundanya.
"Apa! Ayah di usir sama Kakek dan Nenek?" Rara yang baru masuk ke dalam kamar, ia pun mendengar ucapan Arsen dan membuatnya jadi kaget. Sehingga ia pun ikut menanyakan kebenarannya pada Nindi bundanya.
Nindi menghela nafas panjang, mendengar pertanyaan Rara. Karena Nindi tidak menyangka sama sekali. Kalau ucapan Arsen yang mendengar pembicaraannya dengan Tomi di telepon, membuat Rara pun mengetahui tentang ucapannya.
"Kakek dan Nenek bukannya mengusir Ayah, Nak. Tapi Ayah memang mau pergi ke rumah Omah dan Opa, dan kejadian kecelakaan yang menimpa Ayah itu sebuah musibah yang tidak kita ketahui kapan datangnya. Jadi kalian berdua jangan menuduh seperti itu," jelasnya.
"Apakah benar begitu, Bun?" tanya Rara sekali lagi.
Nindi menanggapi pertanyaan Rara dengan mengagukkan kepalanya, dan ia berharap kedua anaknya bisa percaya dengan ucapannya.
__ADS_1
"Maafkan Bunda, Nak. Yang belum bisa menceritakan semuanya pada kalian berdua," batinnya.
"Bun, besok kita jadikan pergi menjenguk Ayah ke rumah sakit?" tanya Rara yang mengingatkan Nindi, yang sudah berjanji akan mengajaknya pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ayahnya.
"Iya, Sayang. Besok kita pergi menjenguk Ayah, sekarang kalian berdua tidur dulu," jawab Nindi yang menyuruh kedua anaknya untuk tidur.
"Iya Bun," balasnya.
Arsen dan Rara pun segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, hingga mereka semua terlelap dalam tidur.
____________
Keesokan harinya.
Nindi dan kedua anaknya tengah bersiap-siap pergi ke rumah sakit, untuk menjenguk Rendra.
"Tapi aku mau ikut berpamitan dengan Kakek dan Nenek juga, Bun."
"Iya, aku juga."
Arsen dan Rara pun ingin ikut berpamitan dengan Kakek dan Neneknya.
"Ya sudah, ayo kita berpamitan dengan Kakek dan Nenek," sahut Nindi yang akhirnya, memutuskan mengajak kedua anaknya berpamitan dengan kedua orang tuanya.
"Mah, Pah. Aku dan anak-anak mau pamit pergi ke rumah sakit," ucap Nindi yang berpamitan dengan kedua orang tuanya.
"Iya hati-hati di jalannya, maaf Papa tidak bisa menjenguk Rendra bersama kamu dan anak-anakmu. Karena hari ini Papa ada jadwal meeting dengan klien dari luar kota," sahut Darmawan.
"Iya, Pah. Tidak apa-apa," kata Nindi yang mengerti dengan kesibukan Darmawan papanya.
__ADS_1
Namira segera mendekati Nindi. Karena ia ingin berbicara dengan Nindi, tanpa di dengar oleh kedua cucunya dan juga Darmawan suaminya.
"Sebelum kamu dan anak-anak pergi ke rumah sakit. Mama mau kamu menceritakan semuanya pada kedua anakmu, mereka berdua berhak mengetahui semuanya. Mama cuman tidak mau sampai terjadi, kejadian seperti kemarin," bisik Namira di telinga Nindi.
"Tapi ..."
"Sudah kamu nurut saja sama Mama. Nanti saat Papa sudah berangkat ke kantor, barulah kita membicarakan soal itu dengan kedua anakmu." Namira segera menyela ucapan Nindi, yang sudah bisa ia tebak. Kalau Nindi belum siap memberitahukan semuanya pada kedua anaknya.
Nindi menanggapi ucapannya Namira mamanya, dengan mengagukkan kepalanya.
"Sepertinya, memang aku harus menceritakan semuanya pada Rara dan Arsen. Toh Rara sudah mendengar ucapanku, saat di rumah Ibu. Semoga saja kedua anakku, akan mengerti dan memahami keputusan yang sudah aku pilih," batinnya yang mengingat ucapan Rara, yang mau memberitahukan pada Arsen tentang apa yang ia dengar di rumah Gita.
"Nin, mau pergi bareng Papa tidak?" tanya Darmawan.
"Tidak, Pah. Arah rumah sakit dan kantor Papa kan tidak searah, jadi Nindi tidak bisa ikut bareng Papa," jawabnya.
"Iya juga sih, ya sudah Papa berangkat duluan." Darmawan pun berpamitan dengan istri dan anak serta kedua cucunya.
Setelah Darmawan sudah pergi dari rumah, Arsen dan Rara menarik tangan Nindi sambil berkata, "Ayo Bun, kita pergi ke rumah sakit."
"Sebelum kalian berdua pergi ke rumah sakit, ada yang mau Nenek dan Bunda bicarakan dengan kalian berdua. Ayo kita bicaranya di ruang tamu," ucap Namira yang mengajak kedua cucunya berbicara di ruang tamu.
"Bunda dan Nenek mau bicara soal apa?" tanya Arsen penasaran.
"Nanti kita bicaranya di ruang tamu saja, ayo kita pergi ke ruang tamu," jawab Nindi yang mengajak kedua anaknya pergi ke ruang tamu.
"Iya, Bun." Arsen menimpali ajakan Nindi, yang mengajaknya pergi ke ruang tamu.
"Apa yang mau Bunda dan Nenek bicarakan denganku dan kak Arsen? Apa jangan-jangan! Bunda mendengar ucapanku yang berbicara dengan kak Arsen di dalam kamar. Karena saat aku menceritakan tentang itu, deringan ponsel milik Bunda menghentikan ucapanku. Setelah kejadian itu, aku pun tidak membicarakan soal itu lagi pada kak Arsen," batin Rara yang berdiam diri sambil memikirkan ucapan, yang akan di bicarakan oleh Nindi dan Namira neneknya.
__ADS_1