Madu Mantan Dulu

Madu Mantan Dulu
Bab 22 Kondisi Rendra


__ADS_3

POV Nindi.


Aku bingung menjawab pertanyaan anakku. Karena Marsya malah mengakuinya di depan anakku, kalau dia itu istrinya Mas Rendra. Meski aku tahu, kalau dia itu memanglah istrinya Mas Rendra juga. Tapi aku belum siap menceritakan semuanya pada kedua anakku, tentang status Marsya yang merupakan istrinya Mas Rendra, dan juga Mawar yang merupakan saudara kedua anakku.


"Bunda, kenapa tidak menjawab pertanyaanku sih? Memangnya mamanya kak Mawar itu istri Ayah juga?" Rara kembali bertanya padaku.


Saat aku akan menjawab pertanyaan Rara. Tiba-tiba saja, Dokter Erdianto pun ikut bertanya sambil menunjuk ke arahku dan juga Marsya.


"Jadi siapa istrinya pak Rendra Anggara Atmajaya, ibu ini apa ini?" tanyanya.


"Dia istrinya, Dok. Tadi itu, lidahku refleks mengaku sebagai istrinya. Maafkan saya ya Mbak Nindi, dan aku juga minta maaf sama Rara dan Arsen. Karena ucapanku barusan, membuat Rara dan Arsen jadi salah paham," jawab Marsya yang meminta maaf padaku dan juga kedua anakku.


Aku menanggapi jawabannya dengan tersenyum simpul. Sedangkan kedua anakku tidak menanggapinya, mereka berdua sepertinya sedang memikirkan tentang ucapan Marsya.


"Semoga saja, Rara dan Arsen tidak berpikir tentang Marsya yang merupakan istri ayahnya juga. Karena aku belum siap menceritakan semuanya pada kedua anakku," batinku penuh harap.


"Oh, jadi ini istrinya? Kalau begitu, mari Bu ikut pergi ke ruangan saya, ada yang mau saya bicarakan mengenai kondisi pak Rendra," ucap Dokter Erdianto yang mengajakku pergi ke ruangannya.


"Iya Dok," sahutku.


Aku pun segera pergi ke ruangan Dokter Erdianto. Setelah aku berpamitan dengan Mama dan kedua anakku, serta Mawar dan Marsya.


Sesampainya di ruangan Dokter Erdianto, aku di persilahkan duduk. Sebelum Dokter Erdianto mulai membicarakan tentang kondisi Mas Rendra kepadaku.


"Dari hasil pemeriksaan, kondisi pak Rendra mengalami benturan yang sangat keras di bagian kepalanya. Sehingga membuat pak Rendra mengalami amnesia," ucap Dokter Erdianto yang memberitahukan kepadaku, tentang kondisi Mas Rendra yang mengalami amnesia.


"Apa! Amnesia, Dok?" tanyaku yang kaget mendengar ucapan Dokter Erdianto.

__ADS_1


"Iya betul, Bu. Pak Rendra mengalami Amnesia Disosiatif kondisi seperti itu membuat pak Rendra tidak bisa mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Akibat terjadi kecelakaan yang dia alami," jelas Dokter Erdianto.


"Apakah suami saya akan pulih kembali ingatannya, Dok?" tanyaku lagi.


"Saya belum bisa memastikannya, tapi semoga saja amnesianya tidak permanen," jawab Dokter Erdianto yang belum bisa memastikan kondisi Amnesia, yang di alami oleh Mas Rendra.


Setelah Dokter Erdianto selesai berbicara denganku, mengenai kondisi Mas Rendra. Aku segera ke luar dari dalam ruangannya, dan pergi menghampiri Mama dan kedua anakku yang menungguku di depan ruangan Dokter Erdianto.


"Bagaimana kondisi Ayah, Bun?" tanya Rara dan Arsen secara bersamaan. Karena kedua anakku mengkhawatirkan keadaan ayahnya.


"Sebentar lagi Ayah akan sembuh, tapi jika Ayah tidak mengingat Rara dan Arsen. Bunda harap, kalian berdua jangan bersedih. Karena Ayah mengalami hilang ingatan," jawabku yang berterus terang. Agar kedua anakku tidak kaget, saat mereka berdua bertemu dengan Mas Rendra yang akan di pindahkan ke ruang rawat.


"Ja___jadi Ayah tidak mengingat kita, Bun?" lirih Rara yang kaget mendengar kondisi ayahnya.


"Iya, Sayang. Ayah pasti akan sembuh dari amnesianya, dan akan mengingat kita semua. Termasuk Rara dan juga kak Arsen anak kesayangannya Ayah," sahutku yang berusaha menghibur kedua anakku. Agar tidak terus bersedih, mendengar kabar ayahnya yang mengalami hilang ingatan.


Entah kapan Mawar dan Marsya datang menghampiriku? Yang sedang bersama Mama dan kedua anakku. Tiba-tiba saja Mawar datang, dan langsung berkata, "Apa! Papaku mengalami hilang ingatan?"


"Kamu jangan memanggil ayahku dengan panggilan Papa terus, aku tidak suka mendengarnya. Kamu itu bukan anak ayahku," ungkap Rara yang kesal mendengar perkataan Mawar, yang memanggil Mas Rendra dengan panggilan Papa.


"Dia itu ..."


"Ayo Mawar kita pergi dari sini. Mama kan tadi sudah bilang, kita pulang saja," ujar Marsya yang memotong ucapan Mawar, dan ia langsung menarik satu tangannya Mawar. Agar pergi menjauh dari tempatku, yang sedang bersama Mama dan kedua anakku.


"Tapi Mah ..."


"Nanti kita bisa datang ke sini lagi." Marsya lagi-lagi memotong ucapan Mawar, dan sekarang ini mereka berdua sudah pergi menjauh.

__ADS_1


"Aku tidak suka melihat Mawar dan mamanya ada di sini, Bun. Apalagi mendengar ucapan Mawar yang memanggil Ayah dengan panggilan Papa terus," gerutu Arsen yang kesal dengan Mawar, yang terus memanggil Mas Rendra dengan panggilan Papa. Arsen juga tidak suka melihat kedatangan Mawar dan Marsya, yang datang ke rumah sakit.


"Iya, Rara juga sama tidak suka," timpal Rara yang setuju dengan perkataan Arsen kakaknya.


"Andai kalian berdua tahu. Kalau sebenarnya Mawar itu adalah saudara kalian berdua," batinku yang tak mampu mengatakan yang sebenarnya pada kedua anakku.


"Anak Bunda yang tampan dan cantik ini. Jangan bilang seperti itu, sudah hiraukan saja ucapannya. Sebaiknya kita pergi ke ruang rawat Ayah," aku berusaha mengalihkan perkataan kedua anakku, yang sedang kesal dengan Mawar.


"Iya Bun, ayo kita pergi sekarang." Rara sangat bersemangat sekali. Ketika aku mengajak mereka pergi ke kamar rawat Mas Rendra.


"Sebelum pergi menemui Ayah, Bunda harus menjawab dulu pertanyaanku. Kenapa Mawar itu, selalu memanggil Ayah dengan panggilan Papa terus? Emangnya Ayahku itu papanya?" tanya Arsen yang mencegah kepergianku, yang mengajaknya pergi ke kamar rawat Mas Rendra. Arsen malah kembali menanyakan tentang Mawar, yang memanggil Mas Rendra dengan panggilan Papa.


"Oh iya, Bunda belum menjawabnya. Cepat jawab Bun, aku ingin tahu." Rara pun ikut menimpali pertanyaan Arsen. Karena ia juga ingin mengetahui kebenarannya, tapi aku tidak bisa memberitahukan semuanya pada kedua anakku sekarang.


"Bunda kan sudah pernah bilang, kalau itu cuman panggilan saja. Tapi bukan berarti Mawar itu anak Ayah, dan kalian berdua ..."


"Kenapa kamu tidak jujur pada kedua anakmu?" tanya orang yang berada di belakangku, yang memotong ucapanku.


Aku yang penasaran, segera menengok ke belakang. Untuk melihat orang yang mengatakan itu.


"Merlin ..."


"Hay, Nin. Kita bertemu lagi," ucapnya sambil tersenyum miring.


"Sepertinya Bunda kalian berdua tidak berani jujur dengan kalian berdua. Kalau Mawar itu sering memanggil Ayah kalian berdua dengan panggilan Papa, itu berarti! Mawar itu adalah ..."


"Ayo anak-anak, kita pergi dari sini. Untuk melihat kondisi Ayah," aku segera menyela ucapan Merlin. Agar kedua anakku tidak mendengar ucapannya, yang mau memberitahukan tentang statusnya Mawar dan Marsya pada kedua anakku.

__ADS_1


__ADS_2