
POV Nindi.
Saat aku dan anak-anak dalam perjalanan pulang ke rumah orang tuaku, di tengah perjalanan itu. Aku sekilas seperti melihat Merlin kakaknya Marsya, yang sedang berbicara dengan seseorang. Entah itu siapa? Aku pun tidak tahu, dan tidak bisa melihatnya dengan jelas. Karena aku sedang mengendarai mobil, dan aku juga tidak mau tahu lagi mengenai hubungan Mas Rendra dengan Marsya adiknya Merlin. Karena hari Senin besok, aku akan mengurus gugatan perceraianku ke pengadilan.
Aku sudah yakin dengan keputusanku ini. Apalagi kedua anakku pun sudah setuju dengan keputusanku, yang ingin berpisah dengan Mas Rendra.
Saat aku sudah sampai di rumah kedua orang tuaku, aku melihat Mama yang menangis di depan rumah sambil memeluk Papa.
"Bunda, itu Nenek kenapa menangis?" tanya Arsen, yang pastinya ia dan Rara melihat Mama menangis dalam pelukan Papa di depan rumah.
"Bunda juga tidak tahu. Yuk kita turun dari mobil,"
Aku mengajak kedua anakku, untuk segera turun dari mobil. Karena aku ingin mengetahui penyebab Mama menangis, dan aku juga akan bertanya pada kedua orang tuaku, tentang isi rekaman cctv di depan rumah Bu Hema yang belum aku lihat. Karena saat aku dan anak-anak pergi ke acara ulang tahun Felicia, kedua orang tuaku pergi ke rumah Bu Hema untuk melihat rekaman cctv di rumahnya.
"Mama kenapa, Pah?" tanyaku pada Papa.
Saat aku dan anak-anak sudah turun dari mobil, dan ingin mengetahui penyebab Mama menangis di depan rumah.
Mama dan Papa yang melihat kedatanganku bersama anak-anak. Mama segera menghapus air matanya, dan Papa juga melepaskan pelukannya yang sedang memeluk Mama.
Saat Papa akan menjawab pertanyaanku. Rara pun ikut bertanya kepada Papa, pasti ia juga ingin mengetahui penyebab Mama menangis di depan rumah.
__ADS_1
"Kek, Nenek kenapa menangis? Apa yang membuat Nenek menangis, Kek?
"Nenek lagi kangen sama Om Andre, itu yang membuat Nenek menangis."
Aku yang mendengar jawaban Papa, merasa tidak yakin dengan jawabannya. Kalau memang Mama merindukan Andre adikku, pasti Mama dan Papa akan menghubunginya. Atau bisa pergi menemui Andre yang sedang kuliah di luar kota, apalagi hari ini Papa tidak pergi ke kantor. Apa jangan-jangan! Mama menangis seperti itu. Karena Mama dan Papa sudah mengetahui orang yang mengirim surat tempo hari ke rumah ini? Aaakh iya! Pasti Papa dan Mama sudah mengetahuinya, dan penyebab Mama menangis seperti itu. Karena Mama takut orang itu akan segera menghancurkan keluargaku.
Aku ingin sekali bertanya tentang orang yang mengirim surat pada kedua orang tuaku, tapi tidak mungkin aku menanyakan soal itu di depan kedua anakku. Karena kedua anakku mengetahui tentang surat yang Mama temukan di depan rumah, meski kedua anakku tidak mengetahui isi di dalam surat itu. Tapi jika aku menanyakan soal itu di depan kedua anakku, pasti mereka berdua ingin mengetahuinya.
"Jadi yang membuat Nenek bersedih seperti ini. Karena Nenek kangen sama Om Andre, benar begitu, Nek?" tanya Arsen yang aku rasa, ia juga tidak yakin dengan jawaban Papa yang mengatakan itu.
"Iya, Sayang. Nenek dan Kakek merindukan Om Andre, sudah beberapa bulan ini kita tidak bertemu dengannya. Jadi itulah yang membuat Nenek menangis, kedua cucu Nenek yang cantik dan tampan ini. Yuk kita masuk ke dalam. Nenek mau mendengar keseruan kalian pergi ke acara ulang tahun Felicia," jawab Mama yang mengalihkan pertanyaanku dan kedua anakku, dengan cara mengajakku dan kedua anakku masuk ke dalam rumah. Untuk menceritakan keseruan mereka di acara ulang tahun Felicia.
"Oh begitu. Nanti ceritanya di ruang tamu, yah. Nenek dan Kakek ingin mendengar cerita kalian berdua di acara ulang tahun Felicia," ujar Mama yang menimpali ucapan Rara.
Sesampainya di ruang tamu kedua anakku pun langsung menceritakan keseruan mereka, yang datang ke acara ulang tahun Felicia. Sampai pada akhirnya, kedua anakku menceritakan pertemuan mereka dengan Marsel.
"Apa! Kalian berdua bertemu dengan Om Marsel di acara ulang tahun Felicia?" tanya Mama yang sepertinya kaget mendengar ucapan kedua anakku, yang tidak sengaja bertemu dengan Marsel di acara ulang tahun Felicia.
"Iya, Nek. Om Marsel kan kerja mengantar pesanan makanan, yang di pesan oleh Tante Ayu. Iyakan, Kak?" jawab Rara sambil melirik ke arah Arsen.
"Iya benar, tadi Om Marsel bilang seperti itu kepadaku dan Rara. Aku juga tadinya mengira kedatangan Om Marsel ke acara ulang tahun Felicia. Karena mau mengantar Alvin, tapi ternyata dugaanku itu salah." Arsen pun membenarkan jawaban Rara, dan menceritakan tentang dugaannya yang salah padaku dan kedua orang tuaku.
__ADS_1
"Kalian berdua sana masuk ke dalam kamar, ada yang mau Kakek dan Nenek bicarakan dengan Bunda kalian berdua," ucap Papa yang menyuruh kedua anakku, untuk pergi ke dalam kamar. Ketika Arsen dan Rara sudah selesai menceritakan keseruan mereka berdua di acara ulang tahun Felicia.
"Iya, Kek. Aku dan Rara pergi ke dalam kamar dulu," sahut Arsen yang berpamitan terlebih dahulu. Sebelum ia dan Rara pergi ke dalam kamar.
Setelah kepergian Arsen dan Rara. Aku yang ingin mengetahui kebenarannya, segera bertanya pada Mama dan Papa tentang rekaman cctv di depan rumah Bu Hema terlebih dahulu. Sebelum bertanya tentang Mama yang bersedih di depan rumah.
"Mah, Pah. Bagaimana hasil rekaman cctv di depan rumah Bu Hema? Apakah Mama dan Papa sudah mengetahui orang yang mengirim surat itu?"
"Papa dan Mama sudah mengetahui orangnya, tapi Papa dan Mama tidak mengenal orang itu. Sebentar Papa mau cek handphone Papa dulu," jawab Papa yang menghentikan sejenak ucapannya. Karena ia mau mengambil handphonenya terlebih dahulu.
"Ini orangnya, Nin. Apakah kamu mengenal orang itu?" sambung Papa yang menunjukkan foto di handphonenya kepadaku.
"Aku tidak mengenalnya, Pah. Tapi aku seperti pernah melihat orang itu," sahutku sambil berusaha mengingat orang yang mengirim surat itu. Karena raut wajahnya seperti pernah aku lihat, tapi aku lupa di mana pernah melihatnya.
"Mama kira, kamu mengenalnya. Tapi ternyata kamu juga tidak mengenalnya, bagaimana ini Pah?" tanya Mama pada Papa sambil menitikkan air mata.
"Sudah, Mah. Mama jangan menangis seperti ini, kita akan melaporkan orang itu kepada polisi." Papa mengatakan itu sambil menghapus air mata Mama.
"Mah, jawab dengan jujur pertanyaanku. Apa yang membuat Mama bersedih seperti ini? Jika memang benar Mama dan Papa merindukan Andre. Mama dan Papa bisa menghubunginya, atau pergi ke tempat kosnya."
Aku mengungkapkan apa yang dari tadi ingin aku katakan, sebab aku tidak yakin mendengar ucapan kedua orang tuaku yang merindukan Andre sampai menangis seperti ini.
__ADS_1