
"Mama memang benar merindukan Andre adikmu, Nin. Masa kamu tidak percaya dengan ucapan Mama dan Papa, meski yang kamu ucapkan itu benar. Mama dan Papa bisa saja menghubungi adikmu, atau datang langsung ke tempat kosnya. Tapi ada sesuatu hal penyebab Mama yang tiba-tiba merindukan adikmu, yang belum kamu ketahui," ucap Namira.
"Apa itu, Mah?" tanya Nindi penasaran.
"Mama dan Papa lagi-lagi menemukan surat, tapi kali ini si pengirim surat bukan cuman mengirim surat ancaman saja. Tapi dia mengirim foto Andre," jawab Namira sambil menunjukkan foto Andre anaknya pada Nindi, yang belum melihat foto dari si pengirim surat.
Nindi terhenyak melihat foto adiknya, yang di kirim oleh si pengirim surat. Karena foto Andre terdapat coretan darah.
"Pantas saja Mama menangis seperti itu, ternyata itu yang membuat Papa dan Mama tiba-tiba merindukan Andre. Karena takut terjadi sesuatu pada Andre," batinnya.
"Mama tadi menangis seperti ini. Karena Mama takut terjadi sesuatu pada adikmu, Nin. Apalagi handphone Andre dari tadi Mama hubungi terus, tapi belum aktif juga sampai sekarang. Mama jadi mencemaskan adikmu," sambung Namira yang mengkhawatirkan keadaan anaknya, yang sedang kuliah di luar kota.
"Semoga saja Andre tidak kenapa-kenapa, Mah." Nindi memeluk Namira, sambil mengusap punggungnya. Ia berusaha menenangkan hati Namira, yang mengkhawatirkan keadaan Andre anaknya.
"Sepertinya, kita harus segera pergi ke kantor polisi. Untuk melaporkan orang itu, apalagi kita sudah mendapatkan bukti rekaman cctv di depan rumah Bu Hema. Tapi kalau Nindi boleh tahu, kapan si pengirim surat itu menaruh foto Andre di depan rumah?" sambung Nindi yang bertanya pada kedua orang tuanya.
"Di dalam rekaman cctv di rumah Bu Hema, orang itu menaruh Foto di atas pot bunga. Kira-kira sekitar jam tiga dini hari, tadi saat kamu dan anak-anak pulang dari acara ulang tahun. Papa dan Mama baru pulang dari rumah Bu Hema, untuk mengambil itu di atas pot bunga," jawab Darmawan sambil menunjuk ke arah foto Andre anaknya, yang sekarang ini di pegang oleh Nindi.
"Oh, berarti saat tadi pagi kita pergi. Si pengirim surat sudah menaruh semua ini, di depan rumah," lirih Nindi pelan sambil terus memperhatikan foto adiknya, dan ia juga memperhatikan raut wajah si pengirim surat yang ada di handphone papanya.
"Iya, Nin."
Saat Nindi dan kedua orang tuanya sedang berbicara, tiba-tiba saja Bi Siti datang menghampiri mereka sambil membawa sebuah kardus.
__ADS_1
"Tuan, Nyonya." Bi Siti memanggil Namira dan Darmawan sambil berlari.
"Ada apa, Bi?" tanya Namira pada Bi Siti, yang heran dengan kedatangan Bi Siti menghampirinya sambil berlari dan membawa kardus.
"Bibi menemukan ini, di halaman belakang rumah. Saat Bibi sedang menyapu," jawab Bi Siti sambil memberikan kardus yang ia bawa pada Namira.
"Itu apa isinya, Bi?" tanya Nindi yang penasaran dengan isi kardus yang di bawa Bi Siti.
"Bibi tidak tahu, Non. Karena Bibi tidak melihat isi di dalamnya, permisi Bibi mau ke belakang lagi," jawabnya yang berpamitan pergi pada Nindi dan kedua orang tuanya. Untuk melanjutkan kembali pekerjaannya, yang belum selesai.
"Cepat di buka kardusnya, Mah." Darmawan menyuruh Namira istrinya, untuk segera membuka kardus itu. Ketika Bi Siti sudah pergi. Karena ia pun penasaran dengan isi kardus, yang sekarang ini berada di tangan istrinya.
"Iya, Pah." Namira mengatakan itu sambil mengagukkan kepalanya.
Namira pun segera membuka isi kardus itu. Saat kardus berhasil di buka oleh Namira, mereka semua terhenyak melihat isi di dalam kardus yang berisi boneka yang ada foto Andre di dalamnya. Namira refleks menjatuhkan kardus itu, dan membuat dirinya semakin ketakutan dengan si pengirim surat yang terus meneror keluarganya.
"Mama ikut, Pah." Namira mengatakan itu sambil memegang tangan suaminya, yang akan pergi ke kantor polisi.
Darmawan menanggapinya dengan mengagukkan kepala, dan kemudian ia berkata, "Nindi, kamu dan anak-anak hati-hati di rumah. Papa dan Mama pergi ke kantor polisi dulu,"
"Iya, Pah. Semoga polisi bisa segera menangkap orang itu," sahut Nindi.
"Aamiin."
__ADS_1
Namira dan Darmawan pun mengamini doa Nindi. Sebelum mereka pergi ke kantor polisi. Sedangkan Nindi, ia memutuskan mengirim pesan pada Tomi dan juga mengirimkan foto yang di kirim si pengirim surat pada Tomi.
[Orang yang ada di foto itu, tadi aku melihatnya bertemu dengan Merlin, dan sekarang ini dia dan Merlin pergi entah kemana aku pun tidak tahu. Tapi aku akan berusaha membantumu, agar orang itu bisa tertangkap.]
Itu isi pesan dari Tomi. Ketika Tomi sudah membaca pesan Nindi, dan juga melihat semua foto yang di kirim oleh Nindi.
"Pantas saja aku seperti pernah melihat orang itu, ternyata si pengirim surat tadi bertemu dengan Merlin. Berarti, Merlin dan si pengirim surat saling mengenal. Ada hubungan apa antara Merlin dengan orang itu, sampai ia berusaha mencelakai keluargaku?" batin Nindi yang baru ingat dengan sosok pengirim surat, yang ia lihat bersama Merlin. Saat ia dan kedua anaknya pulang ke rumah orang tuanya.
"Sepertinya, aku harus pergi ke rumahku. Karena aku yakin sekali, kalau Merlin dan orang itu pasti akan menjenguk Mas Rendra di rumahku," sambung Nindi yang memutuskan untuk pergi ke rumahnya.
Sebelum Nindi pergi ke rumahnya, ia menyuruh Bi Siti. Untuk menjaga kedua anaknya, dan menutup semua pintu dan jendela. Nindi juga memberi pesan pada Bi Siti, untuk tidak menerima masuk orang yang tidak di kenal. Setelah Nindi sudah selesai berbicara dengan Bi Siti, ia segera pergi ke rumahnya tanpa berpamitan dengan kedua anaknya yang sedang berada di dalam kamar.
Sesampainya Nindi di rumahnya.
Nindi melihat Gita dan seorang lelaki, yang sedang berbicara di depan pintu rumahnya. Akan tetapi, Nindi tidak bisa melihat dengan jelas lelaki itu. Karena lelaki itu membelakanginya, Nindi yang ingin mengetahui pembicaraan mereka berdua. Ia pun memutuskan untuk tidak memarkirkan mobilnya di depan rumah, Nindi melakukan itu. Agar tidak membuat Gita dan lelaki itu mengetahui kedatangannya.
Saat Gita dan lelaki itu masuk ke dalam rumah. Nindi pun segera masuk ke dalam rumahnya, melalui pintu belakang rumahnya.
Tok-tok.
Nindi mengetuk pintu dapur rumahnya, yang di kunci di dalam rumah oleh Bi Narsih pembantunya. Karena ia tadi buru-buru datang ke rumahnya, tanpa membawa kunci rumah yang ia taruh di kamarnya.
Nindi yang terus menerus mengetuk pintu belakang, akhirnya pintu itu di buka oleh Bi Narsih pembantunya.
__ADS_1
"Nyonya, kok jalan sini?" tanya Bi Narsih yang heran melihat kedatangan Nindi, yang mau masuk dari jalan belakang.
Nindi menanggapi pertanyaan Bi Narsih, dengan mengangkat satu jari telunjuk ke atas bibirnya, tanpa harus menjawab pertanyaan Bi Narsih dengan mulutnya. Bi Narsih yang mengerti dengan isyarat itu, ia pun tidak bertanya lebih lanjut lagi, dan segera mengikuti Nindi yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumahnya. Karena Nindi ingin mendengar pembicaraan antara Gita dengan orang itu, tanpa di ketahui oleh mereka berdua.