
POV Rendra.
Aku tidak menyangka sama sekali. Kalau kedatangan kedua mertuaku ke rumah ini, mereka berdua mau menanyakan rumah Marsya. Karena kedua mertuaku, tidak sengaja melihatku yang datang ke rumah Marsya, dan masuk ke dalam rumahnya.
Aku yang bingung menjawab pertanyaan kedua mertuaku, tiba-tiba saja Nindi menjawab pertanyaan kedua orang tuanya. Dan jawaban Nindi membuatku kaget, dari mana Nindi bisa mengetahui tentang rumah Marsya? Padahal waktu aku berada di rumah orang tuaku. Aku dan ibuku tidak membicarakan tentang rumah Marsya, yang jaraknya tidak jauh dari rumah orang tuaku.
"Bagaimana caranya Nindi, bisa mengetahui rumah Marsya?" batinku yang bertanya-tanya tentang Nindi, yang bisa mengetahui rumah Marsya.
Apa jangan-jangan! Nindi kembali menyuruh orang, untuk menyelidiki tempat tinggal Marsya selama ini. Aaakh iya, bisa jadi. Pasti Nindi menyuruh orang lagi.
Andai saja, kemarin malam itu. Aku tidak tidur di rumah Marsya, pasti kedua mertuaku tidak akan melihatku masuk ke dalam rumah Marsya. Tapi semua itu sudah terjadi, dan aku terpaksa harus jujur dan menerima pukulan dari Darmawan mertuaku.
Aku yang dari tadi tidak melawan pukulan dari mertuaku, tapi kali ini aku mencoba untuk meredam emosi dan amarah mertuaku. Karena masalah ini tidak bisa terus menerus seperti ini, aku ingin membicarakan semuanya dengan baik-baik.
Dan Alhamdulillahnya, Mama Namira sependapat dengan ucapanku. Kini aku sedang menunggu jawaban dari pertanyaan Mama Namira, yang menanyakan tentang keputusan Nindi. Aku hanya bisa berharap, semoga saja Nindi akan tetap mempertahankan pernikahan ini.
"Aku harap Mama dan Papa serta kamu juga, Mas. Akan menerima apapun keputusan, yang sudah menjadi keputusanku," ucap Nindi istriku. Sebelum ia menjawab pertanyaan dari Mama Namira mertuaku, yang menanyakan tentang keputusan Nindi. Setelah dirinya sudah mengetahui semua rahasia, yang selama ini aku tutupi.
"Iya, Nak. Mama dan Papa tentu saja akan mendukung dan menerima, apapun keputusan yang akan kamu pilih. Karena Mama yakin, kamu sudah memikirkannya terlebih dahulu,'' sahut Mama Namira sambil mengusap punggung tangan Nindi.
"Yang di katakan mamamu benar, Nak. Jadi apa keputusan, yang akan kamu pilih?" Papa Darmawan pun ikut bertanya tentang keputusan Nindi, dan aku melihat wajah penyesalan di wajah Papa Darmawan. Karena beliau dulu menginginkan aku menikah dengan Nindi, dan ketika aku sudah menikah dengan Nindi. Tapi aku malah menyakiti hati Nindi, dengan menduakan dirinya tanpa sepengetahuannya.
Sepertinya aku pun harus menerima apapun keputusan, yang sudah menjadi pilihan Nindi. Karena aku tahu, di sini aku yang bersalah. Sebab aku telah menduakan Nindi selama 11 tahun pernikahanku dengannya, aku pun tidak bisa bercerai dengan Marsya begitu saja. Sehingga membuatku tetap mempertahankan pernikahanku dengan Marsya, meski aku tidak mencintainya.
Aku melihat Nindi menarik nafas dalam-dalam, dan membuangnya secara pelan-pelan. Sebelum dirinya menjawab pertanyaan dari kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Aku ingin mengakhiri pernikahanku dengan Mas Rendra Mah, Pah."
Degh.
Jawaban Nindi membuat duniaku seketika hancur berkeping-keping, aku tidak menyangka. Kalau Nindi akan memilih mengakhiri pernikahan, yang selama ini aku dan dia jalani.
"Tidak adakah sedikit maaf bagimu untukku, Nin? Sehingga kamu memilih mengakhiri pernikahan, yang sudah lama kita jalani," ucapku yang berharap Nindi akan berubah pikiran, dan memilih mempertahankan pernikahan ini.
"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu itu, aku ingin mendengar jawaban darimu dulu. Pernahkah kamu berpikir sedikit ... saja, tentang pernikahan kita. Sebelum kamu memutuskan menikah dengan Marsya?"
Aku terdiam mendengar jawaban Nindi, dan tidak langsung menjawab pertanyaannya. Karena yang diucapkannya benar, aku tidak berpikir terlebih dulu. Sebab keadaan waktu itu, membuatku harus memilih menikah dengan Marsya. Dan aku pun memutuskan, untuk merahasiakan semua ini dari Nindi. Berharap Nindi tidak akan pernah mengetahui semua rahasiaku ini.
"Kenapa Mas diam saja? Aku tahu, Mas tidak memikirkan itu dulu. Karena jauh sebelum Mas menikah dengan Marsya, aku sangat yakin sekali. Kalau Mas itu sudah mencintai Marsya, dan bukan seperti yang Mas ceritakan padaku. Sebab buktinya, Mas masih mempertahankan pernikahan Mas dengannya. Iyakan?"
"Bohong. Mas masih menyembunyikan tentang tempat tinggal Marsya, yang jaraknya tidak jauh dari rumah orang tuamu. Andai saja, aku tidak melihat Mawar dan Merlin berada di luar rumah itu. Aku tidak akan pernah tahu, tentang tempat tinggal Marsya." Nindi memotong ucapanku, yang belum selesai.
Degh.
"Jadi Nindi bisa mengetahui itu. Saat dia akan pulang ke rumah, bukan karena menyuruh orang lain. Untuk menyelidiki tempat tinggal Marsya," batinku yang baru mengetahui itu.
"Sudahlah, Mas. Jangan bohongi aku lagi, karena sekarang ini aku tidak akan percaya dengan semua ucapan..."
"Untuk masalah rumah Marsya, memang benar aku tidak memberitahukan itu. Sebab kamu tidak menanyakannya, tapi perlu kamu ketahui. Aku hanya mencintai kamu," aku menyela dan membantah ucapan Nindi, yang berpikir kalau aku itu mencintai Marsya. Tapi aku tidak membantah dengan ucapannya, yang mengatakan aku tidak berpikir dulu. Sebelum memutuskan menikah dengan Marsya. Karena memang itu benar adanya.
"Tidak penting ucapanmu itu, mau mencintai putriku atau wanita itu. Karena kenyataannya, kamu telah menduakan putriku selama ini. Kamu sudah mengecewakanku, yang sudah memilihmu sebagai pasangan hidup putriku. Aku sekarang menyesal, telah salah memilih suami untuk putriku. Sekarang ini, kamu pergi dari sini. Sebab rumah ini sudah menjadi atas nama putriku," sahut Papa Darmawan yang mengusirku dari rumah ini.
__ADS_1
"Tidak bisa seperti itu, Pah. Rumah ini aku yang beli, jadi harus di bagi dua."
Aku berusaha membela diri, sebab ini rumah yang aku beli sendiri. Meskipun posisiku di sini, aku yang bersalah.
"Apakah kamu sudah lupa, Mas? Di surat perjanjian pra nikah, di sana sudah di jelaskan. Jika salah satu pihak ada yang berselingkuh. Apapun barang yang sudah menjadi harta milik bersama, itu tidak bisa di ambil. Apalagi di bagi dua, kamu harus ingat itu Mas," jelas Nindi dengan seuntai senyuman mengejek ke arahku.
"Huuuh sial, kenapa aku bisa lupa dengan hal itu? Padahal aku yang mengusulkan menggunakan perjanjian pra nikah, sebab waktu itu aku takut Nindi kembali dengan Marsel mantan kekasihnya. Tapi kenapa bisa aku yang harus terkena dari surat perjanjian pra nikah, yang aku buat sendiri?" gerutuku yang meluapkan kekesalan di dalam hatiku, sambil menjambak rambutku dengan kasar.
"Jadi Mas sudah ingat? Dengan surat perjanjian pra nikah, yang Mas buat sendiri?" sambung Nindi yang kembali bertanya kepadaku.
"Iya, aku sudah ingat. Tapi kamu belum menjawab pertanyaanku. Apakah kamu tidak bisa sedikit saja, memaafkan aku? Aku ingin kita tetap bersama, menjalani rumah tangga ini," tanyaku lagi.
"Aku bisa saja memaafkanmu, Mas. Tapi untuk kembali bersama lagi. Maaf, aku tidak bisa," jawabnya.
"Kamu sudah dengarkan! Apa keputusan Nindi, jadi sebaiknya kamu cepat pergi dari sini," ucap Papa Darmawan, yang lagi-lagi dia mengusirku.
Aku menghela nafas berat. Sebelum pergi meninggalkan rumah ini, yang penuh kenangan indah bersama Nindi dan kedua anakku.
"Aku titip anak-anak padamu," kataku pada Nindi.
Nindi menanggapinya, dengan cara mengagukkan kepalanya.
Dengan langkah berat, aku pun segera pergi meninggalkan rumah ini.
Tidak pernah terpikirkan olehku sama sekali. Kalau hari ini, adalah hari terakhirku tinggal di rumah ini. Apalagi aku sudah mendengar keputusan Nindi, yang memilih mengakhiri pernikahan yang selama ini sudah kita jalani.
__ADS_1