Madu Mantan Dulu

Madu Mantan Dulu
Bab 40 Mencegah Mawar bertemu Rendra


__ADS_3

POV Gita.


Aku yang sedang mengkhawatirkan keadaan Rendra, yang merasa sakit di bagian kepalanya. Tiba-tiba saja aku mendengar suara teriakan Mawar, yang sudah masuk ke dalam rumah ini. Aku tidak mengharapkan kedatangan Mawar dan Marsya ke rumah ini, sebab yang ku harapkan itu kedatangan Nindi dan kedua anaknya.


"Oma, Papa kenapa?" tanya Mawar padaku.


Karena ia melihat kondisi Rendra yang sedang memegang kepalanya, menahan rasa sakit yang dirasakannya. Pasti Rendra seperti itu, karena ia sedang berusaha mencoba mengingat kejadian masa lalu.


Sebab tadi itu Rendra menunjukkan foto pernikahannya dengan Marsya, dan juga foto kebersamaan Rendra dengan Marsya dan Mawar saat mereka sedang liburan di pulau Dewata Bali. Aku tidak tahu Rendra bisa menemukan semua foto itu di mana, yang pasti aku tidak mau menjawab pertanyaan Rendra yang menanyakan padaku. Apakah Marsya juga istrinya?


Tapi sekarang ini, perbuatanku itu malah membuat Rendra menjadi seperti ini. Aku jadi menyesal tidak memberitahukan semua itu kepadanya, dan aku malah menyuruhnya. Untuk membuat Nindi dan kedua anaknya kembali tinggal di rumah ini.


Jika teringat ucapan Nindi di telepon, membuatku sangat kesal kepadanya. Karena ia malah menyuruhku mengurus Rendra, dan membawa Rendra pulang ke rumahku. Padahal dia itu istrinya, yang seharusnya itu mengurus Rendra yang sedang sakit. Tapi ucapannya yang mengatakan istrinya Rendra bukan cuman dirinya, membuatku langsung mematikan panggilan telepon. Karena aku sampai lupa tidak ingat dengan itu, kalau istrinya Rendra bukan cuman Nindi. Seharusnya tadi itu aku menelepon Nindi dengan baik-baik, jangan sampai terbawa emosi. Tapi mendengar ucapannya seperti itu, membuatku jadi lepas kontrol.


"Aaakh..." Rendra kembali berteriak histeris, sambil memandang satu persatu orang yang ada di ruang tamu, dan aku melihat raut wajah Rendra yang penuh dengan keringat.


"Bi cepat ambil air minum dan juga obat Rendra,"


Aku yang panik, segera menyuruh Bi Narsih. Untuk pergi mengambil air minum dan juga obat Rendra, agar rasa sakit yang di rasakan Rendra bisa cepat membaik.


"Iya, Nyonya besar," sahutnya yang segera pergi ke dapur untuk mengambil air minum, dan mengambil obat Rendra m


Marsya dan Mawar yang mengkhawatirkan keadaan Rendra, mereka berdua segera datang menghampiriku yang berada di dekat Rendra.


"Oma, itu Papa kenapa? Kok, Oma dari tadi tidak jawab pertanyaanku?" ucap Mawar yang kembali bertanya padaku. Sebab aku tidak langsung menjawab pertanyaannya, dan menghiraukan kedatangannya.


Mawar yang tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya, ia pun memutuskan bertanya langsung pada Rendra.


"Pah, Papa kenapa?" tanyanya.

__ADS_1


Rendra tidak menjawab pertanyaan Mawar, ia masih memegang kepalanya. Sambil memperhatikan kami semua yang berada di ruang tamu.


"Papamu sedang sakit, kamu jangan dekat-dekat dengannya dulu," aku mencegah Mawar yang mau mendekati Rendra.


"Tapi aku ..."


"Ini air minum dan juga obat untuk Tuan, Nyonya besar." Bi Narsih menghentikan ucapan Mawar. Karena ia mau memberikan air minum dan juga obat Rendra kepadaku.


Aku pun segera mengambil itu, dan kemudian menyuruh Rendra meminum obat itu.


"Rendra, cepat di minum obatnya."


Rendra pun menuruti perintahku, dia langsung meminum obat yang aku berikan kepadanya.


"Kamu pergi ke kamar, untuk beristirahat. Kamu jangan banyak memikirkan apa-apa dulu, Ren. Jadinya kamu sakit seperti ini," sambungku yang menyuruhnya beristirahat di dalam kamar.


Aku melihat Rendra menanggapi ucapanku, dengan mengagukkan kepalanya. Saat Rendra sudah pergi ke dalam kamarnya. Marsya dan Mawar melihat foto, yang tergeletak di atas meja ruang tamu.


"Iya, itu memang foto liburan kita dan pernikahan Mama dan Papa," timpal Marsya yang membenarkan perkataan Mawar.


"Apa jangan-jangan! Papa sudah ingat dengan kita berdua, Mah. Aku mau bertemu dengan Papa di kamarnya, Mah."


"Biarkan papamu beristirahat, kamu tidak perlu menemui papamu dulu," sahutku yang mencegah kepergian Mawar, yang mau pergi ke dalam kamar Rendra.


"Tapi, Oma. Aku ingin ..."


"Kamu bisa kapan saja bertemu dengan papamu, tapi tidak untuk sekarang. Karena papamu sedang beristirahat," aku segera menyela ucapan Mawar yang ingin menemui Rendra.


"Sebaiknya kamu dan mamamu pulang dulu, nanti besok kamu bisa datang ke sini lagi," sambungku yang menyuruh Mawar dan Marsya, untuk segera pulang ke rumahnya.

__ADS_1


Aku tidak akan membiarkan Mawar dan Marsya berlama-lama di rumah ini, apalagi sampai mereka berdua memutuskan tinggal di rumah ini. Karena aku tidak mau sampai Nindi dan kedua anaknya, melihat Mawar dan Marsya yang berada di dalam rumah ini. Meski aku tidak yakin, kalau Nindi dan kedua anaknya akan datang ke rumah ini. Tapi aku hanya berjaga-jaga saja, takut terjadi kejadian seperti di rumah sakit.


"Yuk kita pulang dulu, besok kita bisa ke sini lagi. Setelah Mawar pulang dari sekolah," ucap Marsya yang membujuk Mawar. Agar ia mau pulang ke rumah.


Mendengar ucapan Marsya yang mengatakan sekolah, aku jadi teringat dengan Arsen dan Rara yang pergi dari rumah ini tanpa membawa apapun. Apalagi pakaian dan peralatan sekolah mereka berdua, pasti masih ada di sini. Karena mereka lupa tidak membawa itu semua.


"Nanti saja, Mah. Kita kan baru datang ke sini, aku ingin bertemu dengan Papa dulu. Sebelum pulang ke rumah, jadi kita menunggu Papa di sini." Mawar malah menolak ajakan Marsya, yang mengajaknya pulang ke rumah.


Kini ia malah duduk di ruang tamu sambil melihat-lihat semua foto, yang di tunjukkan Rendra kepadaku.


"Mawar, yang di katakan mamamu benar. Nanti pulang dari sekolah, kamu bisa menjenguk Papa ke sini."


Aku pun berusaha ikut membujuk Mawar, agar ia mau cepat pulang dari rumah ini. Karena aku sangat yakin sekali, kalau tidak lama lagi Nindi dan kedua anaknya akan pulang ke rumah ini.


"Baiklah, aku pamit pulang dulu." Mawar pun akhirnya berpamitan pulang padaku.


""Iya, Sayang. Kamu hati-hati di jalannya, yah."


Mawar menanggapi ucapanku dengan mengagukkan kepalanya, dan kemudian ia berkata, "Oma, titip salam rindu Mawar sama Papa."


"Iya," balasku singkat.


"Aku juga pamit pulang, Bu." Marsya pun ikut berpamitan kepadaku.


Aku menghela nafas lega, melihat Mawar dan Marsya sudah pergi dari rumah ini. Kini aku duduk di ruang tamu, sambil menunggu kedatangan Nindi dan kedua anaknya yang pastinya mereka akan pulang ke rumah ini. Untuk mengambil pakaian dan peralatan sekolah, yang tidak mereka bawa di dalam rumah ini.


Tidak lama kemudian.


Aku mendengar suara bel rumah yang berbunyi.

__ADS_1


"Pasti itu Nindi dan kedua anaknya," lirihku sambil beranjak dari tempat dudukku, untuk membuka pintu rumah.


Saat pintu terbuka, aku terhenyak melihat orang yang berada di hadapanku, yang tidak aku harapkan ke datangannya ke rumah ini.


__ADS_2