
Sementara itu di rumah sakit.
Kresna yang sudah berada di dalam kamar rawat Rendra, ia berbicara sebentar dengan Rendra. Sebelum ia menyampaikan pesan dari Arsen dan Rara pada Rendra.
"Ren, tadi kedua anakmu Arsen dan Rara menitip pesan. Kalau mereka berdua akan pulang, dan kemungkinan besok mereka akan datang menjengukmu lagi," ucapnya.
"Oh iya," sahutnya singkat.
Di tengah pembicaraan mereka berdua. Hendri dan Gita masuk ke dalam kamar rawat Rendra. Gita yang cemas dan khawatir dengan keadaan Rendra, ia langsung menjelaskan kedatangannya yang terlambat datang ke rumah sakit.
"Bagaimana keadaanmu, Nak? Maaf Ibu dan Bapak baru bisa datang, karena tadi itu Bapak menemani Ibu pergi ke acara pernikahan anak Bu Heni, tapi mendengar kabar kamu kecelakaan. Ibu dan Bapak langsung pergi ke sini,"
Rendra hanya diam, dan tidak langsung menanggapi ucapan Gita ibunya.
"Kamu kenapa diam saja, Ren?" tanya Gita yang heran dengan sikap Rendra, yang seperti tidak mengenalinya.
"Rendra, kamu baik-baik saja kan?" Hendri pun ikut bertanya tentang kondisi Rendra.
Kresna yang sudah mengetahui kondisi Rendra, ia pun tidak menjawab pertanyaan kedua orang tuanya. Kresna memilih memberitahukan keadaan Rendra pada kedua orang tuanya, dengan cara menarik tangan ibu dan bapaknya. Untuk keluar dari kamar rawat Rendra.
"Kamu, kenapa menyuruh Ibu dan Bapak keluar sih? Kalau kamu sudah mengetahui kondisi Rendra, kamu tinggal jawab saja. Jangan mengajak ibu dan bapak ke luar dari kamar rawat Rendra," gerutu Gita yang kesal dengan sikap Kresna, yang mengajaknya ke luar dari kamar rawat Rendra.
"Kresna sengaja mengajak Ibu dan Bapak ke luar dari kamar rawat Rendra. Karena kondisi Rendra sekarang ini, dia mengalami amnesia Bu, Pak. Jadi dia tidak ingat dengan Ibu dan juga Bapak," jawab Kresna yang memberitahukan keadaan Rendra, yang mengalami amnesia.
"Apa! Amnesia?" Gita dan Hendri kaget mendengar keadaan anaknya, yang mengalami hilang ingatan.
__ADS_1
"Iya Bu, Pak." Kresna mengatakan itu sambil menundukkan kepalanya. Karena ia bersedih melihat kondisi adiknya, yang tidak ingat dengan siapapun.
"Eeeh, tapi kondisi Rendra seperti ini ada baiknya juga. Karena Nindi tidak mungkin menggugat cerai Rendra, yang kondisinya sedang hilang ingatan," lirih Gita sambil tersenyum senang.
"Jadi Ibu sudah mengetahui hal itu? tanya Kresna yang mendengar ucapan Gita ibunya, yang mengatakan itu sambil tersenyum senang.
Hendri mengkerutkan keningnya dan berkata,
"Maksudnya bagaimana, sih? Bapak tidak mengerti dengan yang kalian berdua ucapkan?" tanyanya yang belum mengetahui tentang Nindi dan kedua orang, yang sudah mengetahui pernikahan Rendra dengan Marsya. Karena Gita belum memberitahukan soal itu kepadanya.
"Memangnya bapak belum tahu, kalau Nindi dan kedua orang tuanya sudah mengetahui tentang pernikahan Rendra dengan Marsya," jawab Kresna.
"Apa! Nindi dan kedua orang tuanya sudah mengetahui itu semua?" Hendri lagi-lagi kaget mendengar jawaban Kresna, yang mengatakan kalau Nindi dan kedua orang tuanya, sudah mengetahui tentang pernikahan Rendra dengan Marsya.
"Iya, Pak. Mereka sudah mengetahui semuanya, terus bagaimana dengan pernikahan Rendra dan Nindi? Setelah Nindi dan kedua orang tuanya mengetahui semuanya?" sahut Kresna yang bertanya pada kedua orang tuanya.
"Yang tahu itu baru Nindi, Pak. Kedua orang tuanya belum mengetahui itu, kok. Kamu jangan bilang seperti itu Kres," ucap Gita yang membantah jawaban Kresna, yang mengatakan hal itu kepadanya dan juga Hendri suaminya.
"Kalau Nindi sudah mengetahui semuanya. Pasti dia akan menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya, Bu." Hendri menjadi cemas dan khawatir, dengan pernikahan Rendra dan Nindi. Setelah Nindi dan kedua orang tuanya mengetahui itu.
"Ibu sangat yakin sekali. Kalau Nindi tidak akan memberitahukan hal itu pada kedua orang tuanya, yang di katakan Kresna pasti bohong. Iyakan, Kres?" ujar Gita sambil melirik ke arah Kresna anak pertamanya.
"Aku tidak bohong, Bu. Tadi itu aku bertemu Nindi dan kedua anaknya serta mamanya di tempat parkir rumah sakit, mereka habis menjenguk Rendra. Tapi mamanya Nindi sangat marah kepadaku, yang datang menghampiri mereka. Bahkan mamanya Nindi melarangku berbicara dengan Nindi, sebab gara-gara kita semua merahasiakan pernikahan Rendra dengan Marsya," sahut Kresna yang berusaha menjelaskan pada kedua orang tuanya, tentang pertemuannya dengan Nindi dan kedua anaknya serta Namira mamanya.
"Ja___jadi Namira dan Darmawan sudah mengetahui itu semua?"
__ADS_1
Kini Gita pun kaget, dan tidak menyangka sama sekali. Kalau Nindi aku memberitahukan semuanya pada kedua orang tuanya, sebab ia mengira Nindi tidak akan memberitahukan semuanya pada kedua orang tuanya.
"Iya, Bu. Nindi dan kedua orang tuanya, sudah mengetahui itu semuanya. Jika mereka belum mengetahui tentang itu, pasti mereka akan menjaga Rendra yang sedang dirawat di rumah sakit ini," kata Kresna yang membenarkan ucapan Gita ibunya.
"Yang di katakan Kresna ada benarnya juga. Bagaimanapun caranya, aku harus membuat Nindi dan Rendra tetap bersama. Jangan sampai kedua orang tuanya Nindi, menyuruh Nindi untuk bercerai dengan Rendra," batin Gita.
____________
"Nindi, jawab pertanyaan Papamu. Jangan diam seperti itu, Mama tidak mau sampai kamu berubah pikiran," ucap Namira sambil menyenggol lengan Nindi.
"Aku sudah yakin sekali dengan keputusanku Mah, Pah. Tapi ... melihat kondisi Mas Rendra yang hilang ingatan seperti ini, aku jadi..."
"Jangan jadikan alasan Rendra, yang mengalami hilang ingatan. Membuat kamu menjadi ragu seperti ini, Mama tetap mau kamu melanjutkan gugatan perceraianmu dengan Rendra. Besok pagi, kamu harus urus surat gugatan perceraian kamu ke pengadilan." Namira segera memotong ucapan Nindi, yang ragu dengan keputusannya. Setelah mengetahui keadaan Rendra yang mengalami hilang ingatan.
"Aku bukannya ragu dengan keputusanku, Mah. Hanya saja ... Aku menunda memberikan berkas gugatan perceraianku ke pengadilan, sampai kondisi Mas Rendra membaik. Aku harap Mama dan Papa bisa menerima keputusanku ini," ungkap Nindi yang berharap kedua orang tuanya, bisa menerima keputusannya yang tidak jadi memberikan berkas gugatan perceraiannya ke pengadilan sampai Rendra pulih dari ingatannya.
"Mama tahu kamu sudah dewasa, dan sudah bisa menentukan pilihan. Tapi Mama berharap, kamu tetap dengan keputusanmu. Jangan sampai kamu berubah pikiran! Ketika Rendra sudah pulih dari ingatannya, kamu harus segera memberikan gugatan perceraianmu ke pengadilan," tegas Namira.
"Sudahlah, Mah. Kita dukung saja, apapun yang sudah menjadi keputusan Nindi. Sebab yang menjalaninya Nindi. Toh Nindi hanya menunda saja, dan dia akan tetap melanjutkan gugatan perceraiannya dengan Rendra. Sekarang ini, Papa tidak mau egois seperti dulu lagi. Karena dulu itu kita pernah memaksa Nindi menikah dengan Rendra, dan kenyataannya kita sudah salah memilih suami untuk Nindi. Jadi sekarang ini, apapun keputusan Nindi kita sebagai orang tua cukup mendukungnya saja," kata Darmawan yang menyadari perbuatannya, yang dulu bersikeras memaksa Nindi menikah dengan Rendra.
"Yang Papa katakan benar. Mama akan mendukung apapun yang sudah menjadi keputusanmu, Nak." Namira merangkul Nindi dalam pelukannya. Kini Namira pun menyadari perbuatannya, yang dulu ikut memaksa Nindi menikah dengan Rendra.
"Sudah kamu juga bersih-bersih, setelah itu kita makan malam bersama," sambung Namira yang menyuruh Nindi pergi. Ketika ia sudah melepaskan pelukannya.
"Iya Mah," balasnya.
__ADS_1
"Syukurlah Mama dan Papa menerima keputusanku, yang menunda memberikan berkas gugatan perceraianku ke pengadilan," batinnya sambil melangkah pergi meninggalkan kedua orang tuanya.