Madu Mantan Dulu

Madu Mantan Dulu
Bab 37 Pergi Ke Acara Ulang Tahun Felicia


__ADS_3

Nindi dan Namira yang sudah berada di ruang keluarga, mereka berdua segera duduk. Sebelum Darmawan mengatakan apa yang ingin ia bicarakan dengan Nindi dan juga Namira istrinya.


"Papa mau bicara soal apa?" tanya Nindi yang memulai pembicaraan dengan kedua orang tuanya, yang ingin berbicara dengannya.


"Ini masalah kiriman surat, yang berada di depan rumah. Papa sudah melihatnya, Nin. Papa juga sudah menyuruh orang, untuk memasang cctv di depan rumah dan juga di dalam rumah. Karena Papa sangat penasaran dengan orang yang mengirim surat itu," jawab Darmawan.


"Aku juga sudah menyuruh Tomi. Untuk menyelidiki orang yang mengirim surat itu, Pah. Tapi ... jika Papa dan Mama ingin mengetahui orangnya siapa, kita bisa melihat rekaman cctv milik tetangga kita. Pasti salah satu tetangga kita mempunyai rekaman cctv di depan rumahnya," ucap Nindi yang memberi usul pada kedua orang tuanya.


Sebab ia pun baru ingat dengan rekaman cctv milik tetangganya. Saat Darmawan mengatakan rekaman cctv, yang sudah di pasang di rumah.


"Yang di katakan Nindi benar, Pah. Besok kita pergi ke rumah Bu Hema, Mama yakin sekali. Kalau Bu Hema itu, pasti mempunyai rekaman cctv di depan rumahnya. Jadi kita bisa mengetahui, orang yang mengirim surat ke rumah kita," sahut Namira yang membenarkan ucapan Nindi.


"Iya, Mah. Papa juga tidak kepikiran sampai ke situ, Papa malah memasang cctv di rumah kita. Ya sudah, besok kita pergi ke rumah Bu Hema," timpal Darmawan yang tidak terpikirkan melihat rekaman cctv milik tetangganya. Untuk melihat orang yang mengirim surat itu ke rumahnya, ia malah menyuruh orang untuk memasang cctv di rumahnya.


"Oh iya, Nin. Tadi kata Mama kamu dan kedua anakmu tidak sengaja bertemu dengan Marsel, apa kamu sering bertemu dengannya?" sambung Darmawan yang menanyakan tentang Marsel pada Nindi.


"Aku baru beberapa kali bertemu dengannya, Pah. Semenjak aku dan dia putus, tidak pernah bertemu dengannya sama sekali. Pertemuan kita pun tidak sengaja bertemu, Pah."


Nindi pun mulai menceritakan tentang pertemuannya dengan Marsel pada kedua orang tuanya, dari awal pertemuannya dengan Marsel di rumah sakit. Sampai saat kejadian Mang Narno supirnya, yang tidak sengaja menyerempet Alvin anaknya Marsel. Nindi juga menceritakan kejadian di mall, yang lagi-lagi ia tidak sengaja bertemu dengan Marsel dan Alvin anaknya.


"Oh begitu. Jadi tuduhan Gita yang menuduh Nindi berselingkuh dengan Marsel itu tidak benar, keluarga Hendri memang harus di beri pelajaran, sudah menyakiti perasaan putriku. Sekarang Gita malah menuduh Nindi berselingkuh demi menutupi kesalahan Rendra," batin Darmawan sambil mengepalkan tangannya.


"Pah, Mah. Apakah masih ada yang mau di bicarakan lagi denganku?" tanya Nindi pada kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Papa mau tanya satu hal lagi. Apakah kamu akan tetap menunda memberikan berkas gugatan perceraianmu ke pengadilan? Atau kamu akan segera memberikan berkas gugatan perceraianmu ke pengadilan. Setelah kamu mengetahui kedua anakmu, yang sudah setuju dengan keputusanmu?" jawab Darmawan yang kembali bertanya sekali lagi pada Nindi.


"Aku tidak akan menunda lagi, Pah. Apalagi anak-anak sudah setuju dengan keputusanku, yang akan berpisah dengan Mas Rendra. Rencananya hari senin besok, aku akan memberikan berkas gugatan perceraianku ke pengadilan, Pah." Nindi menjawabnya dengan rasa penuh keyakinan, dan sambil tersenyum manis. Karena ia pun ingin terbebas dari Rendra dan juga keluarganya, yang sudah menyakiti perasaannya.


"Mama senang dengan keputusanmu, yang tidak menunda memberikan gugatan perceraianmu ke pengadilan. Apalagi mendengar ucapan Gita yang menuduhmu seperti itu. Mama semakin kesal saja dengan keluarga Rendra, dan Mama mendukung penuh keputusanmu. Papa juga mendukung keputusan Nindi, kan?" sahut Namira sambil melirik ke arah Darmawan suaminya.


"Tentu saja Papa mendukung, Mah. Apapun yang sudah menjadi keputusan Nindi, pasti Papa akan mendukungnya."


Darmawan menanggapi ucapan Namira istrinya, sambil mengukir senyuman di wajahnya. Karena ia pun setuju dengan keputusan Nindi, yang ingin berpisah dengan Rendra.


"Ini sudah malam, Nin. Kamu cepat tidur," sambung Darmawan yang menyuruh Nindi pergi ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


"Iya, Pah."


______________


Keesokan harinya.


Nindi dan kedua anaknya berpamitan dengan kedua orang tuanya. Sebelum ia dan anaknya pergi ke acara ulang tahun Felicia anaknya Ayu.


"Kamu hati-hati di jalannya, Nin."


"Iya Mah, Pah. Nindi dan anak-anak pergi dulu," sahutnya yang berpamitan dengan kedua orang tuanya, kedua anaknya pun ikut berpamitan dengan Kakek dan neneknya.

__ADS_1


Di tengah perjalanan menuju rumah Ayu, Nindi mendapat panggilan telepon dari Gita mertuanya.


Nindi tidak menjawab panggilan telepon dari Gita mertuanya, ia malah menggetarkan mode panggilan teleponnya. Saat Nindi dan kedua anaknya sudah sampai di acara ulang tahun Felicia. Nindi dan kedua anaknya segera memberikan kado ulang tahun, yang ia bawa kepada Felicia anaknya Ayu.


Setelah memberikan kado pada Felicia, Nindi memutuskan pergi meninggalkan kedua anaknya yang sedang menikmati acara ulang tahun Felicia. Karena ia mau menerima panggilan telepon dari Gita, yang terus menerus menghubunginya.


"Ibu mau apa sih dari tadi menghubungiku terus?" batin Nindi. Sebelum menjawab panggilan telepon dari Gita mertuanya.


"Ada apa, Bu?" tanyanya.


"Kamu dan anak-anak kapan pulang ke rumah? Ibu tidak mungkin mengurus Rendra di rumahmu. Karena Ibu juga punya rumah, dan suami yang harus di layani," jawab Gita yang menanyakan Nindi dan kedua anaknya. Untuk segera pulang ke rumah.


"Entahlah, Bu. Anak-anak masih ingin di rumah orang tuaku, kalau ibu tidak mau mengurus Mas Rendra di rumahku. Bawa pulang saja ke rumah Ibu atau ke rumah ..."


"Rendra itu suamimu, masa harus Ibu yang mengurusnya. Kamu sebagai seorang istri yang baik itu harus mengurus suami yang sedang sakit, ini malah menyuruh Ibu untuk mengurusnya dan membawa Rendra pulang ke rumah Ibu. Tugas kamu jadi seorang istri apa? Masa tidak ada sama sekali, kamu itu maunya saat Rendra sedang sehat saja, giliran dia sedang sakit seperti ini kamu tidak mau mengurusnya." Gita menyela ucapan Nindi, dan ia pun melampiaskan kekesalannya mendengar ucapan Nindi yang menyuruhnya mengurus Rendra.


"Apakah Ibu lupa? Kalau istrinya Mas Rendra itu bukan cuman aku," ucap Nindi yang mengingatkan Gita tentang Marsya istri keduanya Rendra.


Gita yang kesal mendengar ucapan Nindi, ia langsung mematikan panggilan teleponnya. Nindi menggelengkan kepalanya, melihat reaksi ibu mertuanya yang seperti itu. Saat Nindi sudah selesai berbicara dengan Gita, kedua anaknya tiba-tiba saja datang menghampirinya.


"Bunda kok di sini, sih?" tanya Rara dan Arsen secara bersamaan.


"Tadi itu Bunda mendapat panggilan telepon, makanya Bunda menerima panggilan teleponnya di sini. Karena di dalam ramai dan juga berisik, terus Rara dan Arsen kenapa ke sini?" jawab Nindi sambil bertanya balik pada kedua anaknya, yang datang menghampirinya.

__ADS_1


__ADS_2