Madu Mantan Dulu

Madu Mantan Dulu
Bab 13 Melihat Mawar dan Merlin


__ADS_3

Nindi dan Rendra serta Gita ibunya kaget melihat Rara, memecahkan gelas yang ia pegang. Karena mereka bertiga takut dan khawatir, kalau Rara mendengar pembicaraan mereka bertiga.


"Semoga saja. Rara tidak mendengar pembicaraanku dengan Mas Rendra dan Ibu," batin Nindi yang berharap, Rara tidak mendengar pembicaraannya dengan Rendra dan Gita mertuanya.


Nindi segera berlari menghampiri Rara, yang berdiam diri di tempat pecahan gelas yang berserakan. Karena Nindi tidak mau sampai Rara terkena pecahan gelas, yang berada di sekitarnya.


"Rara, are you okay?" tanya Nindi yang sudah berada di dekat Rara.


Rara masih diam, ia tidak langsung menjawab pertanyaan Nindi.


Nindi yang melihat itu, ia segera mengendong Rara dan menjauh dari pecahan gelas.


"Are you okay, Sayang?" Nindi kembali bertanya sekali lagi pada Rara.


Rara mengagukkan kepalanya, tanpa harus menjawab pertanyaan Nindi yang menanyakan keadaannya.


"Tunggu di sini, Bunda mau mengambil air minum dulu," sambungnya yang segera pergi mengambil air minum di dapur untuk Rara.


Saat Nindi pergi ke dapur, Rendra dan Gita datang menghampiri Rara. Belum sempat Rendra dan Gita bertanya pada Rara, tapi Rara sudah lebih dulu berbicara pada mereka berdua.


"Maafkan aku yah, Omah. Aku benar-benar tidak sengaja memecahkan gelas itu, soalnya tadi itu ada kucing yang datang mengagetkan aku. Sehingga membuat gelas yang aku pegang terjatuh, sekali lagi aku minta maaf Omah," ucap Rara yang meminta maaf kepada Gita neneknya. Karena ia takut Gita akan marah kepadanya.


"Tidak apa-apa kok, Cantik. Omah tidak marah," sahut Gita sambil mengusap kepala Rara. Karena ia melihat raut wajah Rara, yang takut di marahi oleh dirinya.


"Meong," suara kucing yang mengeong datang menghampiri mereka.


"Tuh kucingnya Ayah, Omah." Rara memberitahukan kepada Rendra dan juga Gita sambil menunjuk ke arah kucing, yang akan datang menghampirinya.

__ADS_1


"Meong, meong."


Rendra mengambil kucing itu, dan membawanya ke luar rumah.


"Apakah pecahan gelasnya membuat kamu terluka?" tanya Rendra. Ketika ia sudah kembali menghampiri Rara dan Gita ibunya.


"Tidak, yah. Aku hanya kaget saja," jawabnya.


Sedangkan Nindi yang sudah keluar dari dapur, ia segera memberikan air minum yang ia bawa kepada Rara.


"Ini Sayang, minum dulu."


Rara pun menerima air minum itu, dan langsung meminumnya.


"Rara mau pergi ke samping dulu Bun, mau main sama Dira dan kak Arsen lagi," ucapnya yang berpamitan pergi kepada Nindi bundanya. Ketika ia sudah selesai minum, dan memberikan gelas itu pada Nindi.


"Iya Sayang," balasnya sambil menerima gelas yang di berikan Rara.


"Nindi, Rendra. Kalian berdua duduk," kata Gita yang menyuruh anak dan menantunya duduk. Karena ia ingin melanjutkan kembali pembicaraan dengan mereka berdua, yang sempat terhenti.


"Nindi mau menaruh gelas ini dulu ke dapur Bu," sahutnya.


"Tidak usah, kamu taruh saja di atas meja. Kita harus membicarakan semua ini dengan baik-baik, jangan sampai terdengar oleh kedua anakmu." Gita melarang Nindi yang akan pergi ke dapur. Untuk menaruh gelas yang ia bawa.


Nindi pun menaruh gelas itu di atas meja, dan kemudian ia duduk di dekat Gita mertuanya.


"Nindi, ibu sudah gagal mendidik Rendra menjadi suami yang baik untukmu. Ibu juga tidak pantas mendapat maaf darimu, Nak. Tapi perlu kamu ketahui! Ibu tidak pernah setuju dengan poligami, meski poligami itu di perbolehkan. Ibu juga mengerti dengan kondisimu, yang tidak mudah menerima kenyataan ini. Kalau Rendra selama ini telah menduakanmu, ibu hanya bisa berharap. Setelah kamu mengetahui semua ini, kamu masih mau mempertahankan pernikahanmu dengan Rendra," sambungnya yang berharap Nindi akan mempertahankan pernikahannya dengan Rendra.

__ADS_1


"Entahlah Bu, aku belum bisa mengambil keputusannya. Apakah aku akan bertahan, atau mengakhiri pernikahan dengan..."


"Sayang, Mas mohon. Kamu jangan bilang seperti itu, Mas tidak mau sampai itu terjadi." Rendra dengan cepat memotong ucapan Nindi, dan meminta Nindi agar tetap mempertahankan pernikahannya.


"Apapun keputusanku nanti, aku harap. Ibu dan juga kamu, Mas. Bisa menerima keputusan yang akan aku ambil," timpal Nindi yang belum mendapatkan keputusan, yang akan ia pilih. Tapi ia berharap, Rendra dan Gita mertuanya akan menerima apapun keputusannya.


Rendra yang mendengar itu, ia meraup wajahnya dengan tangan secara kasar.


"Aaakh, kenapa ini semua harus terjadi padaku?" gerutunya dalam hati yang tidak terima. Jika keputusan Nindi akan meminta cerai kepadanya. Setelah Nindi sudah mengetahui semua rahasianya.


"Nindi dengarkan Ibu, selama ini Rendra selalu mengutamakan kamu dan kedua anakmu. Meski dia sudah menikah dengan Marsya, Ibu juga yakin Rendra akan tetap begitu. Kamu akan tetap menjadi yang pertama, dan kamu akan tetap menjadi menantu yang Ibu sayangi. Ibu bicara seperti ini. Agar kamu tidak salah dalam mengambil keputusan," ujar Gita yang berusaha meyakinkan Nindi.


"Beri aku waktu untuk memikirkan semuanya, Bu. Tapi apapun keputusannya, aku harap Mas Rendra dan Ibu bisa menerima keputusanku," jelas Nindi yang meminta waktu, untuk mengambil keputusan yang akan ia pilih nantinya.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Ibu mengerti, itu semuanya tidak mudah dan memang berat bagimu. Menjalani rumah tangga dengan anak Ibu. Apalagi sekarang ini kamu sudah tahu. Kalau Rendra sudah memiliki istri selain dirimu. Harapan Ibu sih, kamu tetap bersama dengan Rendra. Kasihan anak-anakmu, jika mendengar kedua orang tuanya akan berpisah. Kamu harus menurunkan egomu, lakukan semua ini demi anak-anakmu. Jangan sampai ada penyesalan di kemudian harinya. Pikirkanlah baik-baik, Nak." Gita terus berusaha membuat Nindi mau mempertahankan pernikahannya.


"Kenapa sih? Di posisiku seperti ini, harus aku yang mengalah? Padahal jelas-jelas yang bersalah itu Mas Rendra. Dia juga tidak memikirkan itu dulu, malah langsung menikah dengan Marsya, tanpa memikirkan perasaanku dan anak-anak. Apalagi Mas Rendra dan Ibu sudah membohongiku selama ini, dan ucapan Ibu barusan seperti menyuruhku. Untuk tetap mempertahankan pernikahan ini, padahal dari tadi aku sudah menjelaskan. Kalau aku itu meminta waktu, untuk memikirkan semuanya terlebih dahulu. Tapi Ibu masih saja bilang seperti itu, dan menyuruhku untuk menurunkan egoku demi anak-anak." Nindi mengatakan itu di dalam hatinya.


Sebab ia merasa percuma. Jika mengeluarkan isi hatinya, yang masih kesal dengan ucapan Gita mertuanya yang berusaha membuatnya. Agar tetap mempertahankan pernikahannya dengan Rendra.


Setelah Nindi selesai berbicara dengan Gita dan juga Rendra. Nindi mengajak kedua anaknya untuk pulang ke rumah, tapi kedua anaknya menolak ajakan Nindi. Karena mereka berdua masih asyik bermain bersama Dira.


"Kalau kamu mau pulang duluan, pulang saja. Nanti Mas akan mengantar anak-anak pulang ke rumah," ucap Rendra sambil tersenyum manis.


"Ya sudah. Aku pulang duluan," sahut Nindi yang segera pergi menghampiri kedua anaknya. Sebelum ia pergi meninggalkan anak-anaknya, bermain di rumah mertuanya.


"Anak-anak, kalian berdua mainnya jangan berantem. Bunda pulang duluan yah," sambung Nindi yang berpamitan pada kedua anaknya. Setelah mengatakan itu, ia segera pergi meninggalkan rumah mertuanya.

__ADS_1


Saat perjalanan pulang. Nindi melihat Mawar dan Merlin berada di depan rumah, yang jaraknya tidak jauh dari rumah mertuanya.


"Kenapa Mawar dan Merlin ada di rumah itu? Apa jangan-jangan! Selama ini mereka tinggal di rumah itu?"


__ADS_2