
"Maaf, Bu. Aku dan anak-anak tidak bisa merawat Mas Rendra, istrinya Mas Rendra kan bukan cuman aku. Apalagi kedua anakku ingin pergi ke rumah orang tuaku, dan sekarang ini mereka berdua sudah masuk ke dalam mobil. Aku pamit pergi ke rumah orang tuaku, Bu." Nindi menolak permintaan Gita yang menyuruhnya untuk tetap tinggal di rumah ini, dan merawat Rendra yang sedang sakit. Karena ia dan kedua anaknya akan pergi ke rumah orang tuanya.
"Jadi dugaanku dari tadi itu benar, kalau Rendra memiliki istri selain Nindi. Makanya sikap kedua anaknya Nindi seperti itu pada neneknya. Padahal dulu Rendra berjanji padaku akan membahagiakan Nindi, tapi janjinya itu cuman omong kosong," batin Marsel yang baru mengetahui tentang hubungan Nindi dan Rendra yang sedang tidak baik-baik saja.
"Ayo, Sel. Kita pergi dari sini," sambung Nindi yang mengajak Marsel pergi meninggalkan Gita, yang berada di depan rumahnya.
Marsel menanggapi ajakan Nindi, dengan cara mengagukkan kepalanya. Ia pun segera masuk ke dalam mobilnya, tanpa berpamitan dengan Gita yang sudah menuduhnya berselingkuh dengan Nindi. Karena ia merasa tuduhan dari Gita itu, hanya ingin menutupi kesalahan Rendra yang sudah menyakiti perasaan Nindi dan kedua anaknya dengan memiliki istri selain Nindi.
"Nin, Nindi ...'' Gita berteriak memanggil Nindi, dan ia masih berharap Nindi dan kedua anaknya tidak jadi pergi.
Nindi tidak merespon panggilan Gita yang memanggilnya, ia tetap melangkahkan kakinya ke arah mobil Marsel. Gita yang melihat itu, ia sangat geram sekali pada Nindi dan juga kedua cucunya yang sudah masuk ke dalam mobil Marsel.
"Jika kamu pergi dari sini, berarti tuduhanku tentang kalian berdua itu benar. Kamu dan mantan pacarmu itu berselingkuh, iyakan?" teriak Gita yang bertanya pada Nindi.
"Di saat keadaan putraku sedang sakit, kamu malah berselingkuh dengan mantan pacarmu. Istri macam apa kamu itu," sambung Gita yang melampiaskan kekesalannya. Karena melihat Nindi menghiraukan ucapannya.
Nindi menghentikan langkahnya, dan ia segera menengok ke belakang. Sebelum menjawab pertanyaan Gita, yang masih saja menuduhnya berselingkuh dengan Marsel.
"Ibu mengatakan aku ini istri seperti apa? Baiklah akan aku beritahu, karena mungkin Ibu sudah lupa.'' Nindi menghentikan sejenak ucapannya. Karena ia mau menghela nafas dulu, sebelum melanjutkan kembali ucapannya.
__ADS_1
"Aku ini seorang istri yang selama 11 tahun ini, sudah di bohongi oleh suamiku dan juga kedua orang tuanya tentang pernikahan siri suamiku dengan perempuan lain. Apakah Ibu sudah ingat dengan kejadian itu?" sambung Nindi sambil tersenyum miring.
Gita terdiam mendengar ucapan Nindi, ia pun tidak bisa membalas ucapan Nindi. Karena yang di ucapkan Nindi semuanya benar, ia dan suaminya sudah menutupi pernikahan Rendra dengan Marsya.
"Jadi Ibu jangan menyalahkan perubahan sikapku seperti ini, sikapku dan kedua anakku yang tidak perduli lagi dengan Mas Rendra. Itu karena kebohongan yang di lakukan Mas Rendra selama ini, telah melukai perasaanku dan juga kedua anakku. Sekarang ini aku tidak perduli dengan ucapan Ibu, yang mau menuduhku seperti apa juga. Tapi yang jelas, dan perlu Ibu ketahui! Aku tidak melakukan seperti yang di lakukan oleh putramu, Bu. Jadi jangan menuduhku seperti itu! Karena yang berselingkuh itu putramu, bukan aku."
Setelah Nindi selesai mengatakan itu pada Gita mertuanya, ia segera masuk ke dalam mobil Marsel. Nindi yang sudah duduk di dalam mobil Marsel, ia langsung berkata, "Maafkan aku, Sel. Kamu jadi terkena tuduhan ibu mertuaku, sekali lagi aku minta maaf sama kamu."
Marsel menanggapi ucapan Nindi dengan cara menganggukkan kepalanya, dan ia segera menyalakan mesin mobilnya. Untuk pergi meninggalkan rumah Nindi dan Rendra, tanpa menanyakan lebih lanjut mengenai permasalahan Nindi dengan Rendra dan juga Gita mertuanya.
Perjalanan menuju rumah kedua orang tuanya Nindi pun terasa hening, tidak ada canda tawa dari kedua anaknya Nindi dan juga Alvin. Padahal saat mereka semua pergi ke rumah Nindi, kedua anaknya Nindi dan Alvin berceloteh menceritakan tentang keseruan mereka yang bermain di wahana permainan Timezone. Kini canda tawa itu hilang, saat kedua anaknya Nindi mendengar tuduhan dari Gita neneknya. Bahkan kedua anaknya Nindi sangat kesal mendengar tuduhan yang tidak benar sama sekali, hingga akhirnya mereka berdua memutuskan pergi ke rumah orang tuanya Nindi.
Sesampainya di rumah orang tuanya Nindi.
"Terima kasih, sudah mengantarkan aku dan kedua anakku pulang ke rumah orang tuaku."
"Sama-sama," balasnya singkat.
"Apakah kamu dan Alvin mau mampir sebentar? Aku akan membuat minuman untuk kalian berdua," ucap Nindi yang menawarkan Marsel dan Alvin mampir ke rumah orang tuanya Nindi.
__ADS_1
"Maaf, Nin. Lain waktu saja, aku dan Alvin pamit pulang dulu," sahut Marsel yang menolak tawaran Nindi.
"Iya tidak apa-apa, hati-hati di jalannya," timpal Nindi sambil melambaikan tangannya ke arah Marsel dan Alvin, yang akan pergi meninggalkan rumah kedua orang tuanya. Kedua anaknya Nindi pun ikut melambaikan tangannya ke arah mereka berdua.
Setelah Marsel dan Alvin sudah pergi menjauh, barulah Nindi dan kedua anaknya masuk ke dalam rumah kedua orang tuanya. Akan tetapi, saat Nindi membuka pintu rumah. Ia melihat Namira mamanya, yang berdiri di dekat jendela kaca rumahnya.
"Kenapa Mama ada di situ? Apa jangan-jangan! Mama melihat Marsel yang mengantarku dan anak-anak pulang ke sini?" batin Nindi yang bermonolog pada dirinya sendiri.
"Mama sejak kapan di sini?" tanya Nindi penasaran. Karena ia ingin memastikan kebenarannya, dengan cara bertanya langsung kepada Namira mamanya.
"Sudah dari tadi,'' jawabnya singkat.
"Nenek, aku mau tinggal bersama Nenek dan Kakek saja," ucap Arsen dan Rara secara bersamaan sambil memeluk Namira.
"Iya, Sayang. Kalian berdua boleh tinggal di sini sampai kapanpun, tapi ada apa dengan cucu Nenek yang cantik dan tampan ini? Kenapa kalian berdua bersedih seperti itu? Bukannya kalian berdua habis dari rumah sakit? Apa yang terjadi dengan Ayah kalian berdua? Sampai kalian berdua menangis seperti ini?" sahut Namira yang mencerca banyak pertanyaan pada kedua cucunya. Karena ia melihat raut wajah kedua cucunya yang bersedih, setelah pulang dari rumah sakit.
"Aku tidak jadi menjenguk Ayah, Nek. Karena sudah keduluan sama Mawar dan mamanya," jawab Arsen.
"Jadi itu, penyebab kedua cucu Nenek bersedih seperti ini?" tanya Namira lagi.
__ADS_1
"Bukan cuma itu saja, Nek. Saat kita semua sampai di rumah. Oma marah-marah sama Bunda, dan menuduh Bunda berselingkuh dengan papanya Alvin. Padahal aku dan Bunda tidak sengaja bertemu dengan Alvin dan papanya di mall, Nek. Sekarang ini aku tidak mau bertemu dengan Ayah dan juga Oma," jawab Rara yang memberitahukan kepada Namira, tentang apa yang ia dengar.
"Awas kau, Gita. Berani-beraninya kamu menuduh putriku seperti itu, dan memarahi putriku di depan kedua anaknya," geram Namira di dalam hatinya. Karena mendengar jawaban dari Rara, yang memberitahukan semua itu kepadanya.