Madu Mantan Dulu

Madu Mantan Dulu
Bab 32 Memberi Pengertian Kepada Mawar


__ADS_3

"Mau apa kamu datang ke sini?" tanya Gita yang geram melihat orang yang datang menghampirinya.


"Tentu saja aku mau menjenguk Rendra," jawabnya.


"Tidak perlu kamu menjenguk Rendra. Sebaiknya, kamu cepat pergi dari sini!" ucap Gita yang mengusirnya pergi dari rumah sakit.


"Santai saja, Gita. Kamu jangan marah seperti itu, kamu harus ingat dengan kondisimu yang sekarang ini sudah tua. Hahaha,'' sahutnya sambil tertawa mengejek Gita.


Gita yang mendengar itu, ia mengepalkan tangannya dan ingin rasanya ia memukul orang yang berada di hadapannya.


"Tangan dan raut wajah kamu kenapa Gita? Kamu sakit? Atau kamu itu tidak senang melihat kedatanganku ke sini?" tanyanya yang melihat Gita yang mengepalkan tangannya, dan ia juga melihat ekspresi wajah Gita yang kesal dengan kehadirannya, yang berniat menjenguk Rendra.


"Tanpa aku menjelaskannya, pasti kamu sudah mengerti. Kalau kedatangan kamu ke sini tidak aku undang, jadi kamu cepat pergi dari sini. Kalau tidak! Aku akan memanggil satpam, untuk mengusirmu pergi dari sini," gertak Gita.


"Aku sungguh tidak mengerti dengan ucapanmu? Kenapa kamu mengusirku? Padahal niatku baik, ingin menjenguk Rendra yang sedang sakit," sahutnya yang berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Gita.


"Kamu jangan pura-pura tidak mengerti seperti itu. Cepat kamu pergi dari sini, aku tidak mau melihat kamu berada di sini," timpal Gita yang semakin kesal kepadanya.


"Kita sudah lama tidak bertemu, Git. Kenapa kamu malah mengusirku?" tanyanya lagi.


"Sudah aku bilang! Kalau aku itu tidak mau melihatmu. Kenapa sih kamu dari tadi tidak mengerti dengan ucapanku?" Gita yang sudah terbawa emosi, ia berusaha mengusirnya pergi dari rumah sakit.


"Pergi kamu!" sambung Gita sambil mendorong tubuhnya. Karena Gita menginginkannya pergi dari rumah sakit.


Tapi dorongan Gita, tidak membuatnya terjatuh ke bawah lantai. Ia yang melihat perbuatan Gita seperti itu, ia menyunggingkan senyuman dan berkata, "Ingat umur, Git. Kamu sudah tua, tenagamu tidak seperti dulu lagi. Kamu tidak bisa mengusir aku seperti ini,"

__ADS_1


Gita yang melihat senyuman di wajahnya, ia semakin kesal. Gita pun berusaha mencari cara, agar dia bisa cepat pergi dari rumah sakit.


Saat Gita sedang berpikir, tidak lama kemudian. Gita melihat satpam yang sedang berkeliling di sekitar rumah sakit, ia pun mendapatkan ide dan berharap dengan ide itu bisa mengusir orang yang ada di hadapannya pergi dari rumah sakit.


"Di sana ada satpam yang sedang berkeliling di sekitar rumah sakit." Gita menunjuk ke arah satpam. Lalu ia meneruskan kembali ucapannya yang sempat terhenti.


"Kalau kamu tidak pergi dari sini, aku akan berteriak memanggil satpam. Karena kamu sudah menganggu kenyamanan putraku, yang sedang dirawat di rumah sakit." Gita memberi ancaman kepadanya. Agar ia segera pergi dari rumah sakit.


"Kamu mau mengancamku?"


"Bukan ancaman, tapi sebuah pilihan."


"Tanpa kamu mengancamku seperti itu, aku akan pergi. Tapi kamu harus ingat, suatu saat nanti aku akan..."


"Pak satpam, tolong usir orang ini. Dia mengganggu kenyamanan anakku, yang sedang dirawat di dalam kamar ini." Gita berteriak memanggil satpam, sambil menunjuk ke arah kamar rawat Rendra. Karena ia tidak mau mendengar ucapan orang yang berada di hadapannya.


"Lihat saja nanti, aku akan menemuimu lagi," batinnya sambil melangkah pergi meninggalkan Gita, yang di datangi satpam rumah sakit.


"Keributan apa yang di lakukan orang itu, Bu?" tanya pak satpam penasaran. Karena saat ia sudah berada di dekat Gita, orang itu sudah pergi meninggalkan mereka berdua.


"Anakku sedang mengalami hilang ingatan, Pak. Tapi orang itu tidak percaya, dan dia terus memaksa anakku. Agar ingat dengannya, dan perbuatannya itu membuat anakku semakin kesakitan," jawab Gita yang berusaha membuat pak satpam percaya dengan ucapannya, meski yang ia ucapkan tidak benar sama sekali.


"Oh begitu, Bu. Nanti jika dia datang ke sini, akan saya cegah menjenguk anak Ibu," sahut pak satpam.


"Tidak perlu, Pak. Karena hari ini anak saya sudah di perbolehkan pulang oleh Dokter Erdianto, saya permisi mau masuk ke dalam kamar anak saya dulu." Gita berpamitan dengan pak satpam. Sebelum ia masuk ke dalam kamar rawat Rendra.

__ADS_1


"Iya, Bu. Silahkan," balasnya yang segera pergi meninggalkan Gita, yang akan masuk ke dalam kamar rawat Rendra.


Saat Gita akan membuka pintu kamar rawat Rendra, ia melihat Marsya dan Mawar yang sudah keluar dari kamar rawat Rendra.


"Bu, aku dan Mawar pamit pulang dulu," ucap Marsya yang berpamitan dengan Gita.


"Seharusnya itu, saat ibu pergi ke ruangan Dokter Erdianto kalian berdua pulang, dan tidak perlu menemani Rendra di sini. Jadi Nindi dan kedua cucuku tidak pulang,'' geram Gita pada Marsya. Karena ia tidak bisa berbicara dengan Nindi.


"Maaf, Bu. Aku sudah membuat Nindi dan kedua anaknya pulang," ucap Marsya yang meminta maaf pada Gita.


"Oma, jangan menyalahkan aku dan Mama seperti itu. Memangnya kenapa sih? Kalau aku dan Mama menemani Papa di sini, yang sedang sakit. Jika mereka mau menjenguk Papa juga, ya silahkan saja. Tapi jangan menyuruhku dan Mama untuk pergi dari sini, aku berbicara seperti ini. Karena aku tidak mau di bedakan seperti ini terus," ungkap Mawar yang mengeluarkan isi hatinya, yang tidak terima selalu di bedakan dengan Rara dan Arsen. Karena ia juga anaknya Rendra.


"Maksud Oma bukan seperti itu, Mawar. Oma tidak membedakan kamu dengan Rara dan Arsen, Oma sayang dengan semua cucu Oma. Tapi kamu kan sudah mengetahui, kalau Arsen dan Rara tidak mengetahui tentang kamu yang merupakan anak Papa." Gita berusaha membuat Mawar tidak salah paham dengan ucapannya, yang mengusir Marsya dan Mawar pergi. Meski kenyataannya, ia memang menginginkan mereka berdua pergi dari rumah sakit. Agar ia bisa berbicara dengan Nindi.


"Kalau begitu, beritahu Arsen dan Rara. Kalau aku ini anaknya Papa," ucap Mawar yang menyuruh Gita, untuk memberitahukan yang sebenarnya pada Arsen dan Rara.


Gita terdiam mendengar ucapan Mawar, dan ia tidak mau memberitahukan yang sebenarnya pada Mawar. Kalau Arsen dan Rara sudah mengetahui semuanya.


"Kenapa Oma diam saja?" tanya Mawar.


"Sudahlah, Mawar. Kita pulang saja, jangan meminta seperti itu pada Oma." Marsya mengajak Mawar untuk segera pergi dari rumah sakit.


"Aku tidak mau pulang dulu ke rumah, sampai aku mendengar jawaban dari Oma yang mau memberitahukan kepada Rara dan Arsen," sahut Mawar yang bersikeras dengan pendiriannya.


"Tanpa kamu mengatakan seperti itu, Rara dan Arsen sudah mengetahuinya."

__ADS_1


Mereka semua segera menengok ke arah orang yang mengatakan itu.


__ADS_2