Madu Mantan Dulu

Madu Mantan Dulu
Bab 24 Terharu


__ADS_3

POV Nindi.


"Iya, Nak. Bunda kan sudah bilang, kalau Ayah mengalami hilang ingatan. Jadi Ayah tidak mengingat Arsen dan Rara," ucapku yang berusaha menjelaskan pada kedua anakku, yang pastinya mereka berdua bersedih. Karena mendengar ayahnya, tidak mengingat mereka berdua.


"Apa! Aku hilang ingatan?" tanya Mas Rendra yang kaget mendengar ucapanku, yang mengatakannya hilang ingatan.


"Iya Mas, tadi Dokter Erdianto menjelaskan tentang kondisimu kepadaku. Kalau benturan keras yang mengenai kepalamu, membuat Mas jadi hilang ingatan," jawabku menjelaskan.


"Apakah Ayah benar-benar tidak ingat dengan kita sama sekali?" sahut Rara yang ikut bertanya. Karena Mas Rendra tidak ingat dengan kita bertiga.


"Maaf, aku tidak bisa mengingat dengan ....


Aaawww, sakit." Mas Rendra tidak jadi meneruskan ucapannya. Karena ia seperti berusaha mengingat kejadian masa lalu. Sehingga membuat dirinya meringis kesakitan, sambil memegang kepalanya yang masih diperban.


"Mas, ini di minum dulu. Mas jangan memaksakan diri, untuk bisa mengingat kejadian masa lalu terlebih dahulu. Ayo di minum dulu," ucapku sambil menyodorkan segelas air putih kepada Mas Rendra.


Mas Rendra pun mengambil air minum itu, dan meneguk air minum yang aku berikan.


"Terima kasih," sahutnya. Ketika ia sudah selesai meminum air yang aku berikan.


"Sama-sama," balasku.


"Aku akan mendoakan Ayah. Semoga Ayah bisa cepat sembuh, dan bisa ingat dengan kita semua," kata Arsen yang mendoakan ayahnya. Agar bisa cepat sembuh, dan bisa pulih kembali ingatannya.


"Aamiin," aku dan Rara mengamini doa Arsen.


"Doa anak soleh, insya Allah akan di ijabah oleh Allah SWT," sambungku sambil tersenyum manis.


"Bolehkah aku memeluk Ayah?" ujar Rara yang ingin memeluk ayahnya.


"Tentu saja boleh," sahut Mas Rendra sambil merentangkan satu tangannya yang tidak di infus.


Rara dan Arsen yang melihat itu, mereka berdua segera memeluk Ayahnya.

__ADS_1


"Maafkan Ayah, ya. Karena Ayah tidak ingat dengan kalian berdua," lanjut Mas Rendra yang meminta maaf pada Rara dan Arsen. Saat mereka bertiga sedang berpelukan.


"Tentu saja, aku dan Rara akan memaafkan Ayah. Karena aku mengerti dengan kondisi, yang Ayah alami saat ini. Bukan begitu, Ra?" timpal Arsen sambil melirik ke arah Rara. Ketika mereka bertiga sudah melepaskan pelukannya.


"Yang di katakan kak Arsen benar, Yah. Aku juga memaafkan Ayah, dan ingin Ayah bisa cepat sembuh," balas Rara yang membenarkan ucapan Arsen.


Aku yang melihat itu merasa terharu, dan aku juga sedang berpikir tentang keputusan yang sudah aku pilih. Apakah aku akan melanjutkan gugatan perceraianku? Saat aku melihat kondisi Mas Rendra, yang mengalami kecelakaan. Sehingga membuat Mas Rendra kehilangan ingatannya.


"Bunda, kenapa tidak ikut memeluk Ayah juga?"  tanya Arsen dan Rara secara bersamaan. Karena mereka berdua tidak melihatku, ikut berpelukan dengan Mas Rendra.


"Ayo Bun, kita sama-sama peluk Ayah lagi," ujar Rara yang menyuruhku untuk berpelukan dengan mereka.


Aku menanggapi ucapan kedua anakku, dengan cara mengagukkan kepala. Aku pun segera pergi menghampiri mereka, untuk berpelukan seperti keinginan kedua anakku.


Akan tetapi, deringan ponsel milikku menghentikan langkahku, yang akan memeluk Mas Rendra dan kedua anakku.


"Bunda angkat telepon dari Nenek dulu ya," ucapku yang memberitahukan pada Mas Rendra dan juga kedua anakku. Agar kedua anakku tidak salah paham denganku, yang tidak jadi berpelukan dengan mereka.


Mereka bertiga menanggapinya, dengan mengagukkan kepalanya. Aku yang melihat itu, segera menerima panggilan telepon dari Mamaku.


"Ini Mama lagi di luar rumah sakit, maaf Mama tidak bisa menjenguk Rendra ke dalam rumah sakit," jawab Mama yang memberitahukan keberadaannya padaku.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Nanti aku dan anak-anak akan pergi menemui Mama," sahutku. Sebelum mematikan panggilan telepon dari Mama.


"Mas, aku dan anak-anak mau pamit pergi menemui Mamaku dulu. Mas di sini sendirian tidak apa-apa kan?" sambungku yang berpamitan dengan Mas Rendra. Sebelum aku dan kedua anakku pergi menemui Mamaku, yang berada di luar rumah sakit.


"Iya tidak apa-apa kok," sahutnya.


"Ayo anak-anak, kita pergi menemui Nenek dulu." aku mengajak kedua anakku pergi menemui Mamaku, yang sedang menungguku dan kedua anakku.


Aku sengaja tidak memberitahukan pada Mas Rendra, tentang Mama yang berada di rumah sakit ini juga. Sebab aku tidak mau membuat Mas Rendra bertanya tentang Mamaku, yang tidak datang menjenguknya.


Aku pun tidak mengerti dengan Mama, yang tiba-tiba menghilang dan tidak jadi menjenguk Mas Rendra. Padahal saat di rumah, Mama ingin ikut menjenguk Mas Rendra.

__ADS_1


"Iya Bun, Ayah aku pergi dulu ya. Dah Ayah," ucap Rara yang berpamitan dengan Mas Rendra sambil melambaikan tangannya. Arsen pun juga ikut berpamitan dan melambaikan tangannya juga. Sebelum aku dan kedua anakku, pergi meninggalkan Mas Rendra sendirian di dalam kamar rawatnya.


Saat aku dan anak-anak sudah sampai di luar rumah sakit, aku dan kedua anakku mencari keberadaan Mamaku.


"Bun, itu Nenek sedang duduk di sana." Arsen memberitahukan padaku, sambil menunjuk ke arah Mama yang sedang duduk di luar rumah sakit.


"Iya Bun, Itu Nenek. Ayo kita pergi menghampiri Nenek," timpal Rara yang mengajakku segera pergi menghampiri Mamaku.


"Iya Sayang," balasku.


Aku dan kedua anakku pun segera pergi menghampiri Mamaku, yang sedang menungguku dan anak-anak.


"Mama kenapa menunggu di luar rumah sakit?" tanyaku penasaran dengan Mama, yang benar-benar menuggu di luar rumah sakit. Karena aku mengira Mama tidak mau menjenguk Mas Rendra, dan memilih menunggunya di luar kamar rawat Mas Rendra. Tapi ternyata, Mama benar-benar berada di luar rumah sakit.


"Nanti saja Mama menjelaskannya. Sebaiknya kita semua pulang ke rumah," jawab Mama yang mengajakku dan anak-anak pulang ke rumah.


"Tapi Nek. Ayahku sedang sakit, dan di dalam kamar rawatnya sendirian saja. Tidak ada yang menemani Ayah," ujar Arsen yang menolak ajakan Mamaku yang mengajaknya pulang ke rumah.


"Anak kecil tidak baik berlama-lama di rumah sakit. Sebaiknya kita pulang ke rumah dulu, nanti ada Omah dan Opa kamu yang akan menemani ayahmu," sahut Mama.


"Yang di katakan Nenek benar, Nak. Yuk kita pulang dulu ke rumah, nanti besok kita bisa menjenguk Ayah lagi," aku pun membenarkan ucapan Mama, dan mengajak kedua anakku pergi dari rumah sakit.


"Janji ya, Bun. Besok kita menjenguk Ayah lagi ke sini," ucap Rara sambil mengarahkan jari kelingkingnya ke arahku. Arsen pun ikut mengarahkan jari kelingkingnya seperti Rara.


"Iya Sayang," timpalku sambil berjanji kelingking dengan kedua anakku.


"Yuk kita pulang sekarang," sambungku yang mengajak pergi kedua anakku lagi.


Kedua anakku pun mengagukkan kepalanya, dan mengikuti langkah kakiku dan Mama menuju mobil yang terparkir di depan rumah sakit.


Saat aku dan Mama serta kedua anakku akan masuk ke dalam mobil, aku mendengar suara orang yang memanggil namaku.


"Nindi ..."

__ADS_1


Aku pun segera menengok ke belakang, untuk melihat orang yang memanggil namaku.


__ADS_2