Madu Mantan Dulu

Madu Mantan Dulu
Bab 11 Mengetahui Kebenarannya


__ADS_3

"Ayah mau pergi kemana? Baru juga pulang bekerja, kok sudah mau pergi lagi?" tanya Rara yang datang menghampiri Rendra ayahnya, yang akan pergi meninggalkan rumah.


"Ayah mau pergi bekerja lagi, Nak. Karena Ayah mendapatkan tugas dari kantor, untuk pergi bekerja ke luar kota lagi. Kalian berdua baik-baik di rumah, dan jagain Bunda yah," jawab Rendra yang berbohong pada kedua anaknya. Agar ia bisa pergi meninggalkan rumah.


Karena ia ingin membuat Nindi, bisa mengambil keputusan yang baik. Saat ia dan Nindi tidak saling bertemu.


"Baru juga kemarin pulang dari luar kota, masa sekarang Ayah mau pergi meninggalkan kita lagi sih," sahut Arsen yang berkeluh kesah, mendengar ucapan ayahnya yang akan pergi bekerja ke luar kota lagi.


"Iya nih, Ayah jangan pergi bekerja ke luar kota terus dong. Aku dan kak Arsen sudah dua minggu lebih tidak bermain bersama Ayah," timpal Rara yang merindukan bermain bersama ayahnya.


"Lagi-lagi Ayah harus pergi bekerja ke luar kota, pasti perginya lama. Iyakan?" tanya Arsen dengan wajah cemberut. Karena ia tidak menginginkan ayahnya pergi meninggalkannya.


"Kali ini Ayah perginya tidak lama, kok. Setelah Ayah pulang nanti, kita bisa bermain bersama lagi. Ayah janji," ujar Rendra sambil mengarahkan jari kelingkingnya ke arah kedua anaknya.


"Janji ya, yah." Arsen dan Rara mengucapkan itu secara bersamaan, dan mereka berdua berjanji kelingking dengan Rendra ayahnya.


"Iya, Sayang. Ayah pergi dulu ya," pamit Rendra pada kedua anaknya.


Arsen dan Rara memaksakan sedikit senyuman. Padahal di dalam hatinya, mereka berdua tampak kecewa dengan Rendra ayahnya, yang akan pergi meninggalkan mereka berdua.


Nindi yang melihat itu, hanya diam dan tidak mendekati anak dan suaminya. Kejadian yang ia lihat, membuat dirinya menjadi dilema. Karena kedua anaknya, tidak mau Rendra pergi meninggalkan mereka.


"Apakah aku ini ibu yang egois? Yang hanya memikirkan perasaanku saja, tanpa memikirkan perasaan kedua anakku. Senyuman yang mereka berdua perlihatkan, itu hanya menutupi kesedihannya, yang tidak rela berpisah dengan ayahnya. Kedua anakku harus merasakan kesedihan seperti itu. Karena keputusanku yang tidak mau bertemu dengan Mas Rendra, sampai aku mendapatkan keputusan yang akan aku pilih," batin Nindi sambil menundukkan kepalanya.


Rendra segera melangkahkan kakinya, dan pergi meninggalkan anak dan istrinya. Tapi kedua anaknya mengikuti kepergiannya sampai di depan rumah, sedangkan Nindi melihat kepergiannya di belakang pintu rumah.


"Hati-hati yah, di jalannya," ucap Arsen dan Rara secara bersamaan, mereka berdua melambaikan tangannya ke arah Rendra yang akan masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Rendra menanggapi ucapan kedua anaknya, dengan tersenyum sambil melambaikan tangannya juga. Sebelum ia pergi meninggalkan anak dan istrinya.


Nindi menghela nafas berat, dan membuangnya secara kasar. Saat kedua anaknya datang menghampirinya, sambil memeluknya.


"Bunda, kenapa sih Ayah harus pergi bekerja ke luar kota terus? Aku suka sedih, jika melihat Ayah pergi bekerja ke luar kota. Karena aku takut Ayah tidak akan kembali bersama kita lagi,"  ungkap Rara yang mengeluarkan isi hatinya, yang takut terjadi sesuatu pada ayahnya.


"Kita doakan saja, Nak. Jangan berpikir buruk, yuk kita masuk ke dalam," sahut Nindi yang mengajak kedua anaknya, untuk masuk ke dalam rumah.


"Tapi Bun. Semalam aku bermimpi buruk tentang Ayah,"


Perkataan Rara membuat Nindi menghentikan langkah kakinya, dan ia segera berbalik menghadap ke arah Rara.


Belum sempat Nindi bertanya tentang mimpi buruk yang Rara lihat, Arsen sudah lebih dulu bertanya kepada Rara.


"Memangnya kamu mimpi apa, Ra?"


"Semalam itu. Aku mimpi Ayah pergi bekerja ke luar kota, dan tidak pulang-pulang ke rumah ini lagi. Aku jadi takut, mimpiku akan jadi nyata. Karena sekarang ini Ayah pergi ke luar kota, aku tidak mau Ayah pergi meninggalkan kita semua," jawab Rara yang menceritakan sedikit tentang mimpinya.


_______________


Keesokan harinya.


Nindi mengajak kedua anaknya pergi ke rumah mertuanya, dan sesampainya di sana. Kedua anak Nindi melihat penjual roti bakar keliling, yang berhenti tidak jauh dari rumah mertuanya.


"Bun aku mau beli roti bakar di situ," ucap Arsen.


"Rara juga mau, Bun." Rara menimpali ucapan Arsen kakaknya. Karena ia juga mau roti bakar.

__ADS_1


"Ya sudah, kalian berdua pergi ke sana. Bunda masuk ke dalam rumah Omah dulu ya," sahut Nindi yang mengijinkan kedua anaknya membeli roti bakar.


"Mang Narno, saya titip anak-anak. Tolong jagain mereka berdua yah, Mang. Saya masuk ke dalam dulu," sambung Nindi yang menyuruh Mang Narno supirnya. Untuk menjaga kedua anaknya, sebelum ia masuk ke dalam rumah mertuanya.


Saat Nindi akan masuk ke dalam rumah mertuanya, yang tidak di kunci. Ia mendengar suara pembicaraan antara ibu mertuanya dengan Rendra.


"Semalam adikmu Yoga melihatmu ada di rumah Marsya, kamu kenapa menginap di sana?" tanya Gita ibunya Rendra.


Degh.


"Berarti Ibu sudah mengetahui pernikahan Mas Rendra dengan Marsya, dan Ibu membantu Mas Rendra menyembunyikan semua ini dariku," batin Nindi yang baru mengetahui semuanya, ia pun mengurungkan niatnya yang akan masuk ke dalam rumah mertuanya. Karena ia ingin mendengar semua pembicaraan itu, tanpa mereka berdua mengetahui kehadiran dirinya.


"Aku sementara waktu tinggal di sana, Bu. Karena Nindi sudah mengetahui semua rahasiaku, dan ia ..."


"Apa! Nindi sudah mengetahui rahasiamu?" Gita kaget mendengar jawaban dari Rendra anaknya. Sehingga ia langsung menyela jawaban Rendra yang belum selesai berbicara.


"Iya Bu, entah bagaimana ceritanya? Aku pun tidak tahu, Nindi bisa mendapatkan rekaman suaraku yang sedang berbicara dengan Merlin. Sehingga dengan terpaksa aku menceritakan kejadian sebelas tahun yang lalu kepadanya," sahut Rendra menjelaskan.


"Ibu sudah bilang sama kamu dari dulu, kamu harus jujur dan memberitahukan semuanya sama Nindi. Karena sepandai-pandainya kamu menyembunyikannya, pasti semuanya akan ketahuan. Ibu rasa, Nindi menyuruh orang untuk memata-matai kamu. Tapi ...


Apa yang terjadi dengan kamu dan Nindi, sampai Nindi menyuruh orang, untuk menyelidiki rahasiamu?" tanya Gita.


"Apa jangan-jangan! Nindi menyuruh orang untuk menyelidiki tentang Mawar yang aku ajak tinggal di rumah, dan orang itu merekam pembicaraanku dengan Merlin di rumah sakit," lirih Rendra pelan sambil berpikir.


"Kenapa kamu ajak Mawar tinggal di rumahmu, tentu saja itu pasti membuat Nindi curiga dan menyelidiki rahasiamu. Kamu benar-benar ceroboh sekali," geram Gita pada Rendra anaknya.


"Tidak ada pilihan lagi, Bu. Selain mengajak Mawar tinggal bersamaku, kemarin Ibu dan Bapak menginap di rumah bude Aminah. Marsya sedang dirawat di rumah sakit, siapa yang akan mengurusnya, Bu? Jadi aku terpaksa mengajak Mawar tinggal bersamaku ..."

__ADS_1


"Bunda ..." Arsen dan Rara berteriak memanggil Nindi, dan membuat Rendra menghentikan ucapannya. Rendra dan ibunya menengok ke arah teriakan kedua anaknya.


"Nindi ..."


__ADS_2