
Di apartemennya khesya dan nico bertemu. Khesya sangat cemas, khesya sangat menghawatirkan jika dugaannya tentang orang yang mencari ke rumahnya tadi siang adalah arini. Khesya sangat takut jika tiba - tiba arini datang dan melabraknya bersama nico khesya tidak tau jika sampai itu terjadi.
"Jadi kamu langsung berpikir jika itu arini? "nico menanggapi setelah khesya menceritakan semua yang ia takutkan kepadanya. Karna orang yang tidak jelas mencrinya ke rumahnya dulu.
" Iya mas, siapa lagi kalau bukan arini. Ciri - ciri yang di sebutin sama ibu yasmin itu jelas banget kalau itu Arini!" khesya berjalan menuju nico setelah ia selesai membuat kopi untuk nico juga untuknya.
"Tapi mungkin ajakan itu memang saudara kamu. Jangan langsung nerka ke arini cuma gara - gara perempuan itu hamil."
"Ngga ada saudara aku yang hamil mas, aku tau jelas semua saudara - saudara aku. Lagi pula kalu itu bener - bener saudara aku, pasti dia hubungi aku."
Khesya menatap nico dengan lekad, "aku harus gimana mas gimana kalau arini tau kalau aku tingal di apartemen ini sekarang. Gimana kalau dia tiba - tiba datang dan ngelabrak aku, aku harus apa? Aku takut mas." ucap khesya yabg mulai berkaca - kaca.
Nico memegang kepala khesya lalu membawanya kedalam pelukannya," kamu tenang ya arini itu wanita yang cerdas tidak mungkin dia akan melakukan hal seperti yang kamu cemaskan. Lagi pula arini sekarang itu sedang mengadung arini tidak akan mungkin membahayakan dirinya juga bayi dalam kandungannya..."
"Tapi kalu bener gimana mas."
" Ngga akan sayang kamu tenang ya!
" Aku takut..." khesya mempererat pelukannya.
"Aku janji itu ngga akan terjadi, kamu tenang ya sayang. Aku akan lindungin kamu bagaimanapun itu. "ucap nico menenangkan khesya.
***********
Keesokan harinya....
Nico berkumpul bersama angga dan arya, bukan karna kebetulan tapi karna angga yang mendesak mereka berdua untuk berkumpul.
Nico memandangi foto khesya sambil menyerup kopinya, menunggu angga dan arya yang belum kunjung datang.
"Sorry ya bro.. Gue telat.!" kompak angga dan arya saat sampai di cafe.
"Iya.. Santai aja. "ucap nico mematikan ponselnya.
"Tumben udah dateng aja biasanya paling telat kalau di ajak ngumpul ginian." sindir arya pada nico.
"Nyindir gue nih ceritanya? "
Angga dan arya saling bertatapan sambil menaikkan kedua alisnya.
"kenapa ha? "ucap nico lagi memperhatikan dua temannya itu," Gue dateng salah ngga dateng apa lagi, kalau gitu mending gue balik ke kantor aja kali ya. "nico berdiri mengancam ke dua temannya itu.
" Ehh.... Kok malah pergi kitakan cuma bercanda nic, soalnya tumben sekali lo dateng duluan." cegah arya.
"Udah lah di bawa santai aja nic, lo kayak ngga tau kita aja. "sambung angga.
" Ini gue santai loh..." jawab nico rada ngegas.
Satu pelayan datang membuyarkan obrolan mereka.
" Permisi mau pesan apa mas?"
" Tuh mending kalian pesan gih, gue udah mesen nih. "saut nico memamerkan hot coffecinonya.
__ADS_1
'' Gue hot coffecino, lo apaan ar?"
" Samain aja!"
" ngga kreatif lo," hujat angga yang kemudian memesan pesanan mereka. "Yaudah hot coffecinonya dua ya mbak." pesan angga.
"Jadi lo mau bilang apa sama kita?" tanya nico mengingat jika ada berita gembira yang akan di sampaikan pada mereka berdua.
"Iya ada apa, gua dari tadi juga kepo lo mau ngabarin ap sama kita. Di liat dari raut wajahnya roman - romannya ada berita gembira nih." sambung arya.
"Tentu my bestie, gua mau kasih tau kalain kalua gua udah tunagn sama mia. Mia terima lamaran gua....." jawab angga berteriak bahagia memberitahu sahabatnya.
"Waw... "nico bertepuk tangan sambil tersenyum, ikut bahagia atas pencapaian sahabatnya itu.
" What! Kok bisa?...." lain halnya dengan arya yang tidak percaya jika sahabatnya itu akirbya sekarang telah melepas status jomlonya.
Angga memasang wajahnya songingnya pada arya," sebentar lagi gua dan mia akan menikah, punya anak dan menua bersama..... "ucap angga memanas - manasi arya yang masih jomlo akut.
Arya terlihat tidak suka dan beralih menatap nico untuk meminta pembelaan.
" Ngapain lo...." ucap nico yang merasa di tatap penuh permohonan.
Ddrrrtttt... Dddrrrt
"Bentar! "nico mengangkat telfon dari resepsionis kantor.
" Iya ada apa?"
" Paket... Dari siapa? "
" Dari ibuk khesya pak."
" Oo... Khesya, yaudah terima aja!"
Angga dan arya saling bertatapan dan mengulang nama yang di sebutkan oleh nico dengan suara pelan.
" Baik pak."
" Emang paket apa?"
" Makanan pak."
" Hmmm.. Yaudah kamu langsung tarok di ruangan saya aja ya. "
"Baik pak"
"Iya."nico mematikan telfonnya kemudian melihat kedua temannya yang mulai menggodanya dengan nama wanita yang ia sebut.
" Ooioio.... Jadi khesya namanya?" kompak angga dan arya.
" Apa.... Itu rekan bisnis gua, dia ngirim makanan sebagai ucaoan terima kasih soalnya kemarin gua bantuin dia." jelas nico.
Angga dan arya mengangguk - ngaguk namun fengan wajah yang masih mengejek.
__ADS_1
" Udah lah, lagian ngga mungkin gua macem-macem. Tenang aja, gua orangnya setia." sambung nico lagi.
Setiap pengkolan ada. "jawab arya yang di sambut gelak tawa oleh keduanya.
Nico menggeleng dan beralih menyeruput kopinya untuk menghindari topik pembicaraan.
Santai aja kali nic. Aman kok sama kita!" goda arya
"Apaan sih..." kesal nico yang masih mengelak.
Angga meminum kopinya namun masih memikirkan nama wanita yang di sebutkan oleh nico tadi, "jagan - jangan wanita itu yang bertelfonan dengan nico waktu di rumah sakit." curiga angga.
****************
Hari ini nico kembali pulang malam,lagi - lagi Nico terus mengingakar janjinya padaku juga pada cika. Saat ini aku tidak menunggu nico seperti biasanya, aku memilih berpura - pura tidur dan membiarkan nico masuk tanpa menyapanya. Aku lebih memilih memejamkan mataku dari pada harus membuka mata dan melihat nico masuk dengan penuh kecewa lagi.
Aku tertidur tanpa menunggu nico, aku larut dalam mimpiku dalam sekejab.
Aku bermain bersama cika dan nico di sebuah taman yang aku sendiri tidak tau itu dimana, yang aku tau sekarang aku bahagia berkumpul bersama anak dan suamiku. Kami bahagia hany tawa yang menghiasi apapun yang kami lakukan. Tidak ada kekecewaan di sini, aku bahagia nico bisa kembali seperti dulu lagi.
"Mama. "cika mengambil sebuah pita lalu mengikatkan sebagian pita itu ke tanganku sedangkan sebagian lagi di ikatkan oleh cika ke sebuah pohon.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah cika.
Cika mencium kening ku lagi mengusap pipiku dengan penuh kelembutan. Tatapan berbinar dari matanya membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan tersenyum.
Cika berlari ke arah ujung taman tanpa melepas ikatan tanganku.
*Aku meminta bantuan pada nico agar ia melepaskan ikatan ini.
Namun nico malah melakukan hal yang sama seperti yang di lkukan cika, mencium dan mengelus pipiku dengan lembut, nico tersenyum lalu pergi tanpa berkata apapun*.
"Mas!.... "pagilku melihat mereka berdua yang semakin jauh dan meninggalkanku sendirian.
" MAAS... CIKA!!" teriakku menyuruh keduanya untuk berbalik.
Air mataku mulai berjatuhan aku berusaha untuk melepas ikatan tanganku namun alih - alih melepaskan ikatan tangan cika dan Nico malah sudah menghilang tanpa meninggalkan jejak.
" MAAASSS...." teriakku mengejar nico dan cika ke ujung taman saat pita pengikat tanganku lepas.
" MAAAS...." Teriakku saat kedua orang yang kucintai tidak ku temukan.
"MAAAASS. "teriakku yang lansung terbangun setelah mimpi buruk itu menghiasi tidurku.
Aku melihat ke sisi ranjang, tidk ada nico di sampingku," Mas Nico. "ucapku yang langsung keluar kamar dengan air mata yang membasahi pipiku. Mimpi tadi begitu sangat nyata sampai - sampai aku sangat takut jika mas nico dan cika benar - benar hilang.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1