Marriage Betrayal

Marriage Betrayal
Bab 32.cobaan yang sangat berat.,


__ADS_3

Ceklek.....


Bunda Sarah masuk kedalam ruangan arini begitu ia sampai,bunda sarah melihat ke arah nico yang menggeleng kepadanya.


" bunda.. Bunda kok bisa di sini? "tanya arini memasang wajah bahagia di hadapan bundanya. Arini tidak mau bundanya tau tentang kekacauan rumah tangganya.


Bunda Sarah berjalan mendekat ke arah arini." tadi bunda ke rumah kamu tapi ngga ada orang makannya bunda telfon nico untuk tanyain keberadaan kamu." Arini mengangguk, ia mengerti dengn penjelasan bundanya itu."jadi gimana keaadaan kamu sekarang, udah baikan?" tanya bunda sarah yang duduk di sisi ranjang arini.


" Aku udah baikan kok bun. "jawab arini diikuti dengan senyum manisnya.


" Mumpung bunda ada di sini gimana kalau kita liat ervan sama - sama, pasti ervan seneng ada omanya di sini." ucap arini yang membuat nico menangis.


Arini tersenyum," aku udah ngga sabar gendong ervan, aku juga ngga sabar denger suara nangisnya, denger tawanya pasti rumah bakal rame kalau ada ervan nanti. "


Mendengar penuturan arini membuat sarah tak kuasa menahan tangisnya.


"Hey... Bunda kenapa? "tanya arini melihat bunda dan nico menangis mendengar perkataannya.


Arini melihat ke arah nico," ada apa mas? "tanya arini yang heran melihat bunda dan suaminya menangis setelah mendengar perkataannya.


Sarah memeluk arini sambil terus menangis," Kamu yang sabar ya nak, kamu harus kuat. Ervan.... Hiks... Hikss ervan sudah tiada nak. Ervan meninggal. "ucap bunda sarah mempererarat pelukannya.


Arini terkejut dengan ucapan mamanya, arini menggeleng," ngga bun... Ngga ervan ngga meninggal aku liat sendiri ervan kemarin. Ervan baik - baik aja dia ngga papa bun. Bunda pasti salah... Ervan ngga mungkin meninggal. "bantah arini tidak terima dengan kabar yang di katan bundanya itu.


Arini beralih melihat ke arah nico," ervan baik - baik ajakan mas?" tanya arini meminta pembelaan dari nico.


Nico menggeleng, "ervan sudah meninggal sayang, terjadi komplikasi pada ervan yang membuat nyawa ervan ngga bisa tertolong." jelas nico.


"Ngga.. Ngga nnga mungkin. Tolong bilang sama aku kalau ini semua itu ngga bener. Please bun!... Hik... Hiks. "ucap arini memohon pada bundanya.


Bunda Sarah mengelus punggung arini," Kamu harus kuat sayang, biarkan ervan tenang di sana kamu pasti bisa kamu pasti kuat melalui ini semua. Bunda percaya itu!." bunda sarah terus memeluk arini dengan erat menenangnkan anak kesayangannya itu agar bisa menerima kabar duka tentangan kematian anaknya.


********


Silir waktu berganti kini arini dan semua keluarga serta teman dan para sahabatnya berada di pemakan ervan. Memakam putra yang selama ini sangat arini harapkan kehadirannya. Namun sekarang telah pergi meningkalnya dalam keadaan rapuh dan terpuruk seperti ini.


Arini masih belum bisa mengiklaskan kepergian putrannya. Arini sangat membeci nico sekarang sangat benci bahkan. Putranya harus kehilangan nyawanya karna ulah nico, semua ini salah nico nico yang menyebabkan anaknya meningal. Arini tidak akan bisa memaafkan nico bahkan jika nico berlutut sekalipun padanya.

__ADS_1


"Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih pada semuanya yang sudah menyempatkan waktu untuk datang ke pemakaman anak saya. Kehilangan anak saya menjadi pengingat untuk kami sekekuargauntuk bisa...... Bisa tetap kuat dan saling menjaga perasaan satu sama lain. Semoga setelah ini kami tetap saling mencintai dan saling menegerti perasaan masing - masing. "


" Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih untuk semuanya" ucap nico yang di angguki oleh semua orang sebelum akirnya mereka bubar sambil berpamitan pada arini dan nico mereka juga mengatan semoga keluarga arini bisa kuat dan tabah melewati cobaan ini.


Setelah semuanya pergi dan hanya tersisa nico arini dan juga raya dan bundanya, khesya datang untuk mengucapkan belasungkawa pada arini dan keluarga.


Khesya mendekat "turut berduka cita ya mama cika, semoga mama cika kuat menjalani ini semua. "ucap khesya memberi salam pada arini.


Arini tidak menerima salam khesya melainkan arini malah memelototi khesya yang tidak merasa bersalah sedikitpun datang ke pemakaman anaknya.


Melihat cara pandang arini yang tidak suka akan kehadirannya khesyapun pamit setelah mengatakn itu. Pandangan sinis nan menusuk tak lepas dari mata arini sampai khesya menghilangan dari pandangannya.


*********


Setelah kembali dari pemakaman ,arini masuk kedalam kamar ervan. Kamar yang sudah lama ia persiapkan untuk menanti kelahiran putra yang sangat ia harapkan itu. Tapi sekarang kamar ini harus kosong karna perbuatan suaminya sendiri.


"Hiks... Hiks... Hiks.. "arini menangis saat melihat semua perangkat bayi telah tersusun rapi dan indah di kamar. "Harusnya sekarang kamu ada di pelukan mama sayang, harusnya sekarang kamu sudah berada di kamar ini. Tapi karna papa kamu, kamu... Hiks.. Hiks.. Kamu jadi pergi meninggalkan mama sayang. "tangis arini semakin pecah ketika mendekati boks bayi yang harusnya sekarang sudah tldi tiduri oleh ervan.


"Hiks... Hiks... "arini tak kuasa menahan rasa sesak di dadanya lagi, kepergian ervan sangatlah menyakitkan untuknya. Kenapa cobaan seberat ini harus datang menimpanya.


Arini mengambil guling yang dari dalam boks kemudian memeluknya. Pelukan yang sangat erat seperti ia memeluk anaknya sendiri. Tanpa arini sadari dari balik pintu cika menangis memperhatikan mamanya yang menangis karna kehilangan adiknya.


Tok.... Tok... Tok


Ratih mengetuk pintu kamar arini saat ayah arini datang untuk bertemu dengan arini .


Semua tetangga telah pulang, arini yang hendak istirahat terpaksa harus kembali turun untuk menemui ayahnya.


"yah.... "panggil arini pada ayahnya yang duduk di sofa ruang tamu bersama nico.


"Rin... "Arini bersalamaan dengan ayahnya kemudian duduk di samping nico.


" Maaf ayah datang terlambat bahkan ayah tidak sempat datang ke pemakaman anak kalian. "ucap herman penuh penyesalan.


Arini mengangguk, "iya ngga papa yah. "jawab arini.


"Makasi ayah udah nyempetin datang ke sini liat aku. "sambung arini.

__ADS_1


"Iya sama-sama. Hmmm.... Cika mana ya?kok ayah ngga liat dia dari tadi? "tanya herman


"Cika masih di kamar sama bunda, biar aku panggilin ya yah. "jawab nico yang berdiri hendak pergi memanggil cika.


"Ngga usah nico, ayah cuma sebentar di sini. Biarkan cika istirahat! "cegah herman membuat nico mengangguk.


"kamu yang kuat ya rin. "arini mengangguk.


"ayah yakin kamu pasti bisa melewati ini semua dan kamu nico support selalu istri kamu semangati dia dan coba mengerti perasaan arini saat ini! "


"Iya yah pasti. "jawab nico mengangguk pasti.


"Yasudah kalau begituayah pergi dulu"pamit herman yang di angguki oleh arini dan nico.


Arini dan nico mengantar ayahnya sampi di depan pintu rumah kemudian bersalaman untuk saling berpamitan.


**********


Setelah menemui ayahnya, arinipun pergi ke kamar cika. Seharian ini arini sibuk dengan kesedihannya sampai-sampai arini melupan cika yang juga terpukul dan sedih karna kehilangan adiknya.


Saat arini masuk kedalam kamar arini melihat cika yang duduk sendirian di karpet di samping tempat tidurnya. Cika terlihat memeluk guling yang ia ambil di dalam boks bayi di kamar ervan. Tatapan kosong ke luar jendela dengan raut wajah yang sangat sedih membuat arini ikut merasa sedih di buatnya.


"Cika... "panggil arini namun tidak di jawab aleh cika.


Arini duduk di samping cika dan mengelus rambutnya," Cika ngapain di sini, cika nggangantuk?"


Cika melihat ke arah arini,linangan air mata terlihat di pelupuk mata cika" Ma kenapa dedek bayi tingalin kita?" tanya cika yang membuat arini terdiam.


" Dedek bayi ngga mau main sama cika ya ma?..." air mata cika jatuh membasahi guling yang ia pegang.


Arini ikut menangis di buatnya," Padahal cika belum sempet liat dedek bayi tapi kenapa dedek bayi udah pergi aja ma. Dedek bayi ngga mau liat cika ya ma?.... "tangis arini semakin pecah saat cika memperdalam pertanyaannya.


Arini memeluk cika, arini menangis di dalam pelukan anaknya dengan perasaan yang capur aduk saat ini.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2