
Khesya mengecek ponselnya berulang kali, menunggu pesan dan telfon dari nico. Sudah dua hari semenjak kematian anaknya nico tidak mengabari khesya sedikitpun. Mau menghubungi nico duluanpun khesya takut karna suasana rumah nico saat ini sedang berduka.
Dddrrrt... Dddrrrt....
Deringan ponselnya yang selama ini ia tunggupun berdering tanpa melihat penelfon khesya langsung mengangkat telfon tersebut.
"Halo mas.... "jawab khesya sangat bahagia.
" Halo key, ini aku..." khesya langsung melihat sang penelfon karna itu bukanlah suara nico.
"Daniel... "ucap khesya yang kembali murung.
" Kamu lagi nungguin telfon dari pacar kamu ya?" tanya daniel.
" Ngga.... Ada apa?" semua pesan dan telfon daniel selama ini tidak pernah di balas oleh khesya karna khesya tau maksud dan tujuan daniel mendekatinya. Khesya tidak mau dengan adanya daniel hubungannya dan nico hancur.
" aku cuma kangen aja sama kamu,abisnya semua telfon dan chet aku ngga pernah kamu bales. kamu lagi di mana sekarang? "
Khesya memutar matanya, "Aku lagi di sekolah."
"Hmmm... Nanti aku-_____"
"Maaf ya daniel kayaknya aku harus ngajar dulu aku matiin ngga papa kan?"
"Eeeeee..."
"Bye... "ucap khesya yang langsung mengakiri telfon dari daniel.
Khesya mendengus kesal karna orang yang ia tunggu - tunggu menelfon belum kunjung menelfonnya malahan malah daniel orang yang tidak ia harapkan yang menelfonnya.
" Kamu kemana sih mas...? " keluh khesya.
***************
Arini nico dan cika mengantar bunda sarah sampai ke depan rumah. Semua rangkaian acara tahlilan dan doa atas kepergian anak arini dan nico telah selesai dan sekarang bunda sarah harus pamit pulang ke rumahnya.
" Bunda hati - hati ya!... "arini memeluk bundanya dengan mata yang berkaca - kaca.
" Kamu juga, kamu harus kuat dan iklasin kepergian ervan!" bunda sarah mengelus punggung arini dengan lembut.
Bunda sarah melepas pelukannya lalu beralih pada cucu kesayangannya," Cika.... janji sama oma buat jagain mama ya nak!" ucap bunda sarah sembari berjongkok.
__ADS_1
" Oke oma....." jawab cika mengacungkan jempolnya.
Setelah meletakkan semua barang bunda sarah ke atas mobil nicopun menghampiri bunda sarah dan mengatakan jika semua barang bunda sarah telah ia rapikan ke atas mobil taxsi onnline yang ia pesan.
"Bun.. Semuanya udah aku masukin ke dalam mobil ya.... "ucap nico sembari mengambil tas yang di pegang oleh bunda sarah.
" Makasi ya nico..." jawabnya lalu masuk kedalam mobil.
" Ini bun.." nico memeberikan tas yang ia bawa tadi pada bunda.
Bunda sarah menerima tasnya lalu melihat ke arah nico," Nico bunda cuma mau ngasih tau kamu kalau bunda tidak menyalahkan kamu terhadap apa yang terjadi pada arini sekarang..."
"Tapi bunda hanya menyayangkan soal firasat bunda dulu terhadap kamu. "
FLASHBACK
Nico datang ke kediaman bunda arini, arini juga mengajak ayahnya untuk datang karna ada sesuatu yang mau di sampaikan oleh nico pada ayah dan bundanya.
Nico sangat tegang bertemu dengan kedua orang tua arini, nico sangat gugup untuk menyampaikan maksud kedatangannya. "jadi om tante... Saya-saya ke sini bermaksud untuk melamar... Arini"
"Mungkin arini udah jelasin sama om dan tante maksud kedatangan saya sebelum saya datang ke sini. "sambubg nico.
" iya bunda sudah dengar dari arini, tapi saat inikan arini masih dalam masa koas dan kuliahnya juga belum selesai. Nanti bagaimana kuliah kamu jika kamu menikah dengan nico?... "
" Iya bun, kita akan buat pernikahan dan pendidikan berjalan beriringan."jawab nico mendukung pendapat arini.
" Aku jamin pernikahan ini ngga akan ngeganggu kuliah arini bun".sambung nico meyakinkan bunda arini.
Bunda sarah menghela nafas panjang mendengar ucapan nico yang terlihat begitu yakin dengan perkataannya.
"Nico bunda tau niat kamu itu baik tapi perlu banyak pertimbangan untuk bunda melepas arini apalagi arini sekarang masih kuliah dan dalam masa koas."
Nico mengangguk mengerti dengan ucapan bunda arini yang seperti menolak niat baiknya.
" nico om dan tante sangat berterima kasih pada kamu karna sudah melamar arini dengan baik - baik seperti ini. Tapi om dan tante belum bisa memutuskan jawaban kami sekarang, om dan tante juga arini perlu merundingkan ini sebelum bisa menjawab maksud baik kamu ini." sambung herman, ayah arini.
"Iya om. "
"Om harap kamu bisa menerima apapun jawaban kami nanti."
Lalgi - nico mengangguk, "iya om, saya akan menerima apapun jawaban om dan tante." ucap nico memaksakan senyum di wajahnya.
__ADS_1
Arini segera mencari alasan agar nico bisa segera pergi dari rumahnya karna pembicaraan bunda dan ayahnya saat ini sudah tidak
baik lagi. "Eeeee... Sayang kamu ada janjikan sama adit iyakan?!..."
"Janji?.." heran nico karna ia tidak merasa punya janji.
"Iya, siang inikan?.."
"Engga.. "jawab nico menggeleng.
"Iya sayang, pasti kamu lupa. Lebih baik kamu pergi sekarang nanti adit marah nunggu kelamaan." desak arini lagi.
"Adit...? " arini mengedipkan matanya.
nico mengangguk '' oooo... Iya iya sama adit." jawab nico mengerti dengan maksud arini.
" Iya, yaudah bunda yah kayaknya nico harus pergi dulu!. "arini mendesak nico untuk segera pergi dari rumahnya.
" Iya tan ada janji sama adit. "ucap nico sembari berpamitan dengan bunda dan ayah arini.
" Yaudah aku anterin nico dulu ya..." arini mengatar nico keluar lalu segera kembali ke ruang tamu.
" Bunda...!, Bunda kenapa bilang kayak gitu sama nico. Nico itu ke sini baik - baik loh bun dateng ke sini nemuin bunda, nemuin ayah tapi kenapa bunda dan ayah kayak ngga suka gitu?...." kesal arini pada bunda dan ayahnya yang tidak menghargai niat baik dari pacarnya itu.
" Nico itu terlalu sempurna, bunda ngga suka orang yang terlalu sempurna seperti nico apalagi dia baik, sopan dan keliatannya dia soleh pasti banyak wanita - wanita di luar sana yang ngejer - ngejer nico. "jawab bunda sarah yang merasakan firasat tidak baik terhadap nico.
"Firasat bunda ngga enak rin, kalau kamu dengan nico. ''sambung bunda sarah.
" Firasat?...." arini menggeleng, "apa ngga ada alasan yang lebih realistis gitu bun selain firasat?..."
"Intuisi orang tua itu ngga perlu pake alasan rin, kamu ngga akan pernah ngerti intuisi orang tua karna kamu belum ngerasaan jadi bunda. "
"Intuisi?... Emang bunda pikir bunda aja yang punya intuisi arini juga punya bun.pas bunda dan ayah cerai apa intuisi bunda bener...?"arini sangat kesal dengan bundanya. Arini merasa jika bundanya hanya mementingkan pendapatnya sendiri tanpa memikirkan persaannya.
Bunda sarah dan papa herman saling beradu pandang mendengar ucapan putri tunggalnya itu.
"Arini mau istirahat dulu bun, yah!" arini segera pergi dari ruang tamu dan masuk kedalam kamarnya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung