Marriage Betrayal

Marriage Betrayal
Bab 34.ingatan itu!


__ADS_3

Semenjak kepergian ervan arini selalu menghabiskan waktunya di kamar ervan, selain untuk menghindari nico arini juga berusaha untuk belajar menerima kepergian ervan darinya. Tidak satu detikpun arini melupan ervan penyesal yang begitu besar membuatnya merasa sangat bersalah.


Nico masuk kedalam kamar ervan karna melihat arini yang duduk melamun di dalamnya.


"Sayang... "nico mengelus pundak arini.


Nico melihat semua peralatan bayi yang seharusnya sudah di gunakan oleh ervan sekarang namun..... Nico mendengus lalu beralih menatap arini." Lebih baik kita beres - beres sekarang membersihkan semua peralatan ervan. "


Arini melihat ke arah nico dengan sinis, "membereskan?.... Kamu nyuruh aku bongkar semua barang - barang ervan yang udah aku tata dengan rapi ini? Gitu mas?..."


"Bukan bongkar, maksud aku kita rapiin terus kita simpen. Karna mau sampe kapan di biarin kayak gini?"


"Aku ngga tau sampe kapan mas.. Kamu bisa ngga sih mas beri aku nafas sedkit aja!.... Aku ini baru kehilangan anak aku baru!. Aku ngga mungkin bisa bisa move on dengan cepat."


"Ya kalau kita ngga beresin kamu ngga akan bisa move on. Kamu akan terus - terusan sedih kayak gini.setiap kamu liat kamar ini liat barang - barang ini kamu akan teringat dengan ervan kamu ngga akan bisa move kalau kamar ini masih ada. " jelas nico.


"MAS.... kamu bisa ngertiin perasaan aku ngga sih, sedikit aja. aku ini baru kehilangan anak aku, anak yang sangat aku nantikan kehadirannya. Kamu ngga akan tau gimana sakitnya aku kehilangan sosok anak yang sangat aku harapkan.kamu ngga ngerti mas!"


Arini menghembuskan nafas kasar." Andai aja aku tau kalau ervan akan pergi mungkin aku akan pekuk ervan, cium dia gedong dia sepuasnya waktu aku liat dia di ICU waktu itu. Andai aja aku tau kalau itu waktu terakir aku ngeliat ervan mungkin aku ngga akan ninggalin dia waktu itu mas. Andai aja tau mungkin aku ngga biarin dia untuk pergi.... "


Nico menggeleng," ngga cuma kamu yang sedih rin, aku juga. Aku juga kehilangan anak aku. "


" Tapi kamu ngga ngerasain sakitnya jadi aku mas. Kamu ngga tau!. "


"Terus aku harus gimana rin. Aku harus giman supaya aku bisa ngertiin kamu.? "


"Kamu maunya aku gimana? Mau aku bahagia lagi atau mau lebih sakit dari ini karna ulah kamu? "


"Ya aku mau kamu bahagia lagi, kamu bisa move on dari ini semua dan memulai hidup yang bahagia. "


"Gimana caranya aku bisa bahagia kalau semua sumber kebahagian aku udah kamu renggut. Alasaka, ervan dan sebentar lagi apa mas?.."


"Yang tersisa sekarang itu camu sakit, rasa sakit yang aku sendiri ngga tau gimana caranya nyembuhinnya. Dan itu semua gara - gara kamu mas..."


Nico mengerutkan keningnya, "maksud kamu ervan meninggal gara - gara aku. Kamu kayak gini sekarang karna aku?"


"Iya semua yang terjadi sekarang ini itu gara - gara kamu. Kamu yang nyebabin ini semua. "


"Harusnya waktu itu aku bisa milih siapa yang harus mati duluan!.."


Nico menggeleng, "Aku ngga habis pikir sama kamu rin." ucap nico yang pergi meninggalkan arini.


"Tunggu mas...! "cegah arini sebelum nico keluar dari kamar ervan.


" Ada satu hal lagi yang mau aku ucapin sama kamu..." arini berusah keras menahan air matanya.


Nico berbalik dan melihat ke arah arini," Thank you mas... Kamu berhasil buat kejutan yang ngga akan pernah aku lupain." nico tercengang mendengar perkataan arini.


" Kejutan kelahiran anak kita yang spektakuler yang pernah kamu janjiin ke aku."

__ADS_1


"Sinting kamu.. "nico menggeleng lalu membanting pintu kamar ervan dengan sangat keras.


"


AAAAAAAAAAKKKKKHHHHHHH....... "pekik arini mengibaskan semua barang-barang yang terpajang di atas meja bayi.


" Hiks... Hiks... Hiks..." arini melempar semua barang - barang ervan bahkan arini jiga merusak boks bayi yang susah payah ia pasang.


" Aku tunggu lejutan - kejutan kamu selanjutnya."


" Oooh mau lagi?"


"Aku mengangguk, "Yaudah kalau aku akan pikirin kejutan selanjutny yang spektakulur saat anak kita lahir nanti."


"Aku janji akan buat kejutan yang ngga akan terlupakan oleh kamu. "


"Janji ya. "


"Iya, janji. "ucap Nico yang kemudian menciumku.


Ingatan tentang ucapan nico waktu itu membuat arini semakin sakit hati rasa marah menambah rasa sesak didadanya. Kemarahan yang tidak tau gimana cara ia mengungkapkannya agar rasa sakit ini bisa hilang.


" AAAAAAAAKKKH......hiks... Hiks.. Hiks. "arini melepaskan semua hiasan yang ada di kamar ervan sampai semua barang ervan berhamburan kemana - mana. Semuanya berantakan tak berbentuk seperti keadaan dan perasaannya sekarang ini.


Di sisi lain nico pergi mengendarai mobilnya menuju apartemen khesya. Berada di rumah untuk memperbaiki hubungannya dengan arini bukanlah ide yang bagus. Sikap arini yang egois dan hanya mengutamakan kesedihannya membuat nico sudah tidak tahan lagi untuk menghadapinya. Nico perlu kenyamanan dan ketenangan yaitu bersama khesya hanya khesya yang mampu membuatnya tenang dan melupakan sejenak tentang masalah rumah tangganya dengan arini.


Wajah nico yang kusut dan penampilan tidak karuan membuat khesya tau jika telah terjadi sesuatu antara nico dan arini. Nico duduk di sofa dengan wajah yang di tekuk kusut.


Nico diam tanpa mengatakan apapun pada khesya. Khesya mendekati nico ia duduk di samping nico dan mengelus wajah nico. Khesya menyandarkan wajahnya di kepala nico tanpa mengatakan apapun. Usahpan hangat dari khesya mampu menenangkannya. Nico memegang tangan khesya lalu menatapnya. Tatapan nico yang berkaca - kaca membuat khesya ikut sedih di buatnya.


Khesya keningnya ke kening nico dengan tatapan yang masih sana.


"Ada aku di sini mas... Kamu ngga sendiri...." bisik khesya pelan.


Nico mengedipkan matanya tanda mengiyakan ucapannya khesya. Nico mengecup bibir khesya lalu memeluknya.


*******************


Selesai meeting mia mampir ke rumah arini untuk melihat keadaan arini setelah kepergian ervan.


" Arininya di mana bik? "tanya mia saat bik ratih membukakan pintu untuknya.


" Ada di atas mbak, di kamar dedek bayi'' tunjuk ratih ke mengarahkan mia ke lantai atas.


Mia mengangguk lalu pergi ke lantai atas menuju kamar ervan. Saat sampai di kamar ervan mia melihat arini yang tertidur dengan posisi duduk menyender di dinding. Mia melihat kamar ervan yang berantakan seperti di acak - acak.


"Rin.... Hey! "mia membangunkan arini dengan memukul pelan wajah arini.


Arini mengedipkan matanya beberapa kali, lalu melihat ke arah mia yang sedang menatapnya.

__ADS_1


" Mia.. Hey" arini tersenyum ke arah mia, dengan mata sembab yang masih berkaca - kaca.


" lo kenapa rin?..." tanya mia yang ikut berkaca-kaca melihat arini.


"aku ngga papa mia, aku semalem abis beres - beres tapi jadinya gini..." jelas arini memamerkan deretan gigi tak tulusnya.


"rin bilang sama gua lo kenapa jangan apa - apa itu di simpen sendiri. Lo itu lagi ngga baik - baik aja, pliase cerita sama gua, ada ap?!" kekeh mia pada arini yang terua menutupi masalh rumah tangganya.


"Aku ngga papa mia semua baik - baik aja, ngga da yang perlu di ceritaain." jawab arini yang terus saja berbohong.


Mia menggeleng, "lo itu ngga baik - baik aja rin. Lo lagi hancur, rapuh dan ini semua itu bukan beres - beres, Ini sengaja di berantakin. Kenapa rin? Ada apa?cerita sama gua!..." desak mia karna sahabatnya itu selalu saja memendam masalahnya sendiri.


"Hiks... Hiks... Hiks.." air mata arini tak tertahankan lagi keadaannya saat ini memang tidak baik - baik saja. Arini hanya berpura - pura kuat di hadapan teman-temannya tapi ternyata ia tak sanggup.


Arini menepis air matanya, "aku ngga tau mi aku sekarang lagi baik - baik aja atau ngga baik, aku ngga tau... Hiks." lagi - lagi arini menepis air matanya.


"aku sekarang kayak ngga tau, aku kayak ngga bisa ngenalin diri aku sendiri. Gimana ya.. Cara jelasinnya?aku sekarang ini tu kayak hancur, sakit berantakan hikss... Yaaa kayak kamar inilah mi ngga berbentuk, hancur, brantakan hiks.. Hiks."


"Padahal dulu ngga gini loh mi, kehidupan aku dulu itu baik - baik aja ngga kayak gini hiks.. Hiks."


"Apa ini kesalahan aku ya mi?... Apa Semua yang tetjadi saat ini itu karna aku ya, apa ini salah aku ya?.. Hiks.. Hiks"


"Apa aku salah ingin mempertahankan rumah tangga aku sama mas nico? Padahal aku cuma mau ngembaliin kehidupan aku itu kayak dulu lagi. Kehidupan yang bahagia, nyaman ceria itu aja mi,apa itu salah?..." arini menatap mia penuh kesedihan, arini merasa jika apa yang terjadi saat ini itu karna dirinya.


" Aku cuma kayak dulu, apa itu salah?... Hiks.. Hiks."


" Ngga... Ngga rin lo ngga salah, lo ngelakuin itu semua karna cika. "jawab mia menyangkal ucapan arini.


Arini mrnggeleng," Kayaknya engga deh mi... Aku ngelakuin itu semua buat menuhin ego aku aja bukan karna cika...hiks.."ucap arini yang semakin sedih.


Arini memegangi kepalanya," ini semua itu sakit banget mi.. Gimana ya semuanya itu kayak datang tiba - tiba bersamaan gitu. Aku ngga sanggup, aku ngga kuat ini semua itu berat banget buat aku.. Hik.. Hiks... Hiks"


"Lo bisa rin lo bisa laluin ini. Lo pasti bisa! "mia memeluk arini sambil mengelus punggung arini agar arini bisa tenang.


" Aku capek mi, aku ngga kuat, aku ngga bis hiks... Hikss"


"Ada gua, ada citra ada satria yang selalu ada buat lo. Lo ngga sendiri kita bisa laluin ini sama - sama! "


"Hiks... Hiks... Hiks... "tangis arini yang semakin pecah karna semua masalah ini seperti tiada henti untuknya. Begitu bertubi - tubi sampai ia merasa tidak sanggup untuk menghadapi ini semua.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2