Marriage Betrayal

Marriage Betrayal
Bab 42.pertemuan dengan khesya


__ADS_3

Nico datang ke rumah arini setelah ia mengatkn jika ia berjanji akan menemui cika kemarin lewat telfon.


Sesampainya di rumah arini, nico langsung mencari keberadaan cika. Melihat papanya datang cika langsung berlari dan memeluk nico.


"Cika kangen sama papa! "ucap cika dengan manjanya.


Nico menggendong cika lalu menciumnya," papa juga rindu banget sama cika. "ucap nico.


" Papa udah boleh tinggal di sini lagi?" tanya cika memandang nico dengan tatapan yang sangat ceria.


" Hmmm...."


" Papa udah baikan sama mama?.. "tanya cika lagi.


" Hmmm... Cika sama suster dulu ya. Papa mau bicara sama mama." jawab nico yang di angguki oleh cika.


Nicopun memberikan cika pada asih, dan asih menuntun cika masuk kedalam rumah.


Nico mendekati arini yang duduk di kursi taman. Nico menyapa arini dan duduk di sampingnya.


Arini tidak mengacuhkan nico dan terus memandang langit dengan tatapan kosong.


"Gimana kabar kamu?... "


Arini melihat ke arah nico,"ngga usah basa - basi mas! '' ketus arini.


Nico mengangguk," aku udah suruh pengacara aku buat ngga nuntut kamu. "


Arini tersenyum sinis," ya emang seharusnya gitukan mas, lagian kamu juga ngga punya bukti apapun tentang aku. "


" Ini bukan punya bukti atau engga rin tapi aku mau kita bicarain ini baik - baik. Aku ngga mau kita kayak gini. Aku mau kita seperti dulu menjdi keluarga yang utuh. Karna sampai kapanpun aku ngga mau cerain kamu! "


" Mas, aku udah kasih kamu dua pilihan. Kamu tingal pilih aja mas. "

__ADS_1


" Aku ngga bisa memilih itu arini, oke... kalau aku milih pilihan kedua tapi apa mungkin kamu bisa menerima aku lagi. Apa kamu bisa memaafkan aku dan keluarga kita bisa kembali seperti dulu lagi?... "


"Urusan memaafkan dan menerima kamu kembali itu urusan aku mas, kamu ngga usah ikut campur. Yang harus kamu lakuin itu, tingalin dia dan balik ke keluarga kamu!"


"Kamu kenapa selalu menyangkut pautkan topik pembicaraan kita dengan dia sih?.... "


" Karna dia adalah topik utama kita mas. Dia yang udah buat keluarga ini hancur karna dia! Inget itu mas! ..."


"Kamu kenapa sih, ngga bisa apa kita bicarain ini baik baik. Ngga usah sangkut pautin dia."


"Gimana caranya ngga nyangkut pautin dia mas, dia sumber masalah kita, ini terjadi karna dia dan kamu mau aku bicarain ini tanpa nyangkut pautin dia. Gila kamu mas."


"Jadi kamu ngga mau kita bicarain ini baik - baik...?"


"Ngga perlu ada yang di bicarain baik - baik mas, kalau kamu masih libatin dia dalam keluarga kita!" arini pergi meninggalkan nico yang terlihat sangat kesal dengan sikapnya.


**************


Arini datang ke restoran tempat dia bertemu dengan kheaya. Setelah chat panjang lebar dan permohonan khesya untuk membujuknya meluangkan waktu untuk berbicara sebentar.


Arini mengangguk malas, sambil membuang wajahnya.


" Oke.. Jadi aku mau bilang hmmm..." khesya sedikit gemetar juga sangat gugup dan takut bertemu dengan arini saat ini.


" Sebenernya percuma juga kalau aku minta maaf sama mbak arini sekarang karna mbak arini juga udah terlanjur sakit hati sama aku. "


Arini mengangguk, "tuh kamu tau..." jawab arini dengan sinisnya.


Khesya mengangguk, "Tapi mbak perlu tau aku ngga mungkin jatuh cinta sama mas nico kalau bukan mas nico duluan yang ngejer - ngejer aku mbak." jelas khesya mencoba membela diri.


Arini mengangguk - ngangguk, "ooooo jadi maksud kamu suami saya yang ngejer - ngejer kamu?" tanya arini dengan nada menegejek.


Khesya mengangguk, "iya mbak, waktu itu aku ngga tau kalau mas nico itu punya istri, kalau aku tau aku ngga mungkin mau jadi pacar mas nico." jelas khesya.

__ADS_1


"Tapi sekarang kamu udah tau kan?"


Khesya terdiam. "bahkan kamu tau sebelum saya tau." ucap arini semakin memojokkan khesya.


"aku udah terlanjur cinta sama mas nico mbak, perasaan aku sama mas nico itu dalem banget. Aku ngga bisa ninggalin mas nico. Jadi aku minta sama mbk tolong jangan penjarain mas nico,Kasian mas nico mbak!"


"Kasian mas nico atau kasin kamu? "arini menaikkan satu alisnya melihat ke arah khesya.


Arini memperbaiki posisi duduknya yang tadinya menyender ke kursi sekarng menjadi tegak dan melihat tajam ke arah khesya," gini deh kamu itu beneran kasian sama mas nico atau kamu takut masuk penjara? "


"Karnakan kalau kamu masuk penjara nama baik kamu akan hancur, kredibilitas kamu sebagai guru pasti akan di pertanyakan, dan pastinya kamu akan akan di kelurkan secara paksa dari tempat kamu bekerja saat ini."


"Yaaa... Mana ada sekolah yang mau nerima kamu sebagai guru kalau gurunya aja terlibat dalam kasus yang sangat tidak bermoral.Dan yang lebih parahnya lagi guru itu selingkuh dengan salah satu orang tua murid. "


Khesya menghela nafas lalu melihat ke arah arini," Walaupun nama baik aku hancur itu juga ngga akan ngembaliin mas nico ke embk kan? "


" Hati mas nico itu udah seutuhnya untuk aku mbak, mbak ngelakuin ini ngga akan memperbaiki suasana. Malah dengan sikap mbak yang kayak ini akan menambah buruk suasana. Anggap aja kalau mas nico di penjara terus bagaimana nantinya mbak menjelaskan ini pada cika? "


" Memangnya mbak bisa jelasin ke cika kalau papanya masuk penjara karna mbak, karna mamanya sendiri? "


" Harusnya mbak mikirin cika, mikirin perasaan cika, mental dan sikis cika akan teganggu dengan semua keadaan ini mbak!" ucap khesya penuh penekanan.


"Gimana cara cika menjelaskn nanti pada semua temen - temennya kenapa papinya bisa di penjara?," khesya menggeleng. "Cika pasti sangat tertekan nantinya mbak. Kejadian ini pasti akan membekas sampai cika besar mbak, mbak ngga mikir sampai situ apa?" sambungnya lagi.


Arini tertawa, lalu menghela nafas, "Ngga usah sok ngajarin saya, sampai bawa - bawa soal anak. Ngga perlu! Bahkan sebelum kamu bilangoun saya juga udah mikir sampai situ kok. Jangan jadikan cika sebagai alasan supaya saya tidak jadi memenjarakan kamu dan mas nico. Ngga perlu sampai sebegininya kalau memang kamu takut di penjara! "jawab arini.


" gini deh, kita kan sama - sama perempuan. Saya cuma berharap suatu sat nanti atau entah kapan kamu bisa ngerti apa yang sedang saya lakukan ini. Kita sebagai perempuan itu cuma punya harga diri dan yang sedang saya pertahankan saat ini itu cuma harga diri bukan cuma suami, bukan juga pernikahan saya!. "jelas arini yang membuat khesya menahan rasa kesalnya. Lagi - lagi ia merasa gagal untuk membujuk arini untuk membatalkan tuntutannya itu.


Arini tertawa sinis lalu melihat ekspresi khesya yang terlihat sangat kesal dengan semua ucapannya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2