Marriage Betrayal

Marriage Betrayal
Bab 41.Harga diri atau ego???


__ADS_3

Satria menghampiri arini ke kantin rumah sakit saat arini menghubunginya.


" Hey rin..." sapa satria saat ia sampai di dekat arini. Dengan wajah senyum bahagianya satria melihat ke arah arini.


Arini membalas senyuman satria namun tidak dengan sapaannya.


"Gimana kabar lo?.... "tanya satria membuka pembicaraan.


Arini terdiam dengan pertanyaan satria.


" Hmm.. Baik aja kali ya." jawab arini dengan senyum tidak iklasnya.


Satria mengerutkan keningnya, lalu mengangguk." Oke... jadi ini ada apa kok tiba - tiba lo ngajakin gua ketemu?..." tanya satria yang sudah sangat penasaran dengan maksud kedatangan arini ini.


Arini menghela nafas panjang lalu melihat ke arah satria, "Hmmm... Jadi sebenernya hubungan aku sama mas nico itu lagi ngga baik - baik aja."


"Oke.. "jawab angga mengiyakan cerita arini.


" Dan karna itu aku sama mia mengajukan tuntutan ke pengadilan terhadap mas nico atas dasar perselingkuhan. Tapi...." arini menggigit bibirnya "tapi mas nico malah mau nuntut balik aku atas dasar yang sama."


"What..? Sama siapa? "tanya satria kaget dengan cerita arini.


Arini menelan ludah," Sama kamu... "jawab arini merasa bersalah atas semua ini.


" Hah...?" satria langsung tertawa dengan semua penjelasan arini itu "sama gua, whay?" satria menggeleng tidak habis pikir dengan kerumitan rumah tangga arini.


Arini sedikit tertawa, "Aku juga ngga ngerti kenapa mas nico sampai mikir gitu, tapi ini emang gila sih. Dan karna itu aku ke sini buat minta maaf sama kamu secara pribadi."


"ngga.. ngga... ngga lo ngga usah minta maaf, im fine. Lagian mereka ngga akan nemuin apa - apa dari kita karna emang ngga ada apa apa jadi yaa______" satria menaikkan kedua bahunya, merasa tidak masalah dengan semua ini.


"Ya aku tau tapi karna ini pasti kita akan bolak balik ke kantor polisi, semua chat kita bakal di obrak abrik semua gerak gerik kita pasti akan di awasin supaya mereka nemuin bukti di antara kita. "


"I'm fine gua ngga masalah, selagi itu bisa bantu lo gua ngga papa. Lagian lo ngga usah merasa bersalah gini gua ngga ngerasa terbebani kok."


Arini tersenyum, "Thanks ya ar, aku beruntung bisa punya sahabat kayak kamu."


Satria mengangguk, "Sama - sama rin."


Arini mengangguk, "Yaudah kalau gitu aku balik dulu ya kasian cika di rumah cariin aku"


Angga mengangguk, "hati - hati ya!..." ucap satria yang di angguki oleh arini lalu pergi.


Satria memperhatikan punggung arini, sampai arini hilang dari pandangannya.


************


Arini berjalan di koridor sekolah selepas mengantarkan cika ke kelasnya. Sapan dari para mam yang juga mengantarkan anaknya di sambut degan senyuman oleh arini. Namun senyuman itu berubah menjadi tatapan tajam penuh kebencian begitu khesya menghampirinya.


"Mbak... Bisa kita bicara sebentar? "ucap khesya mengahadang jalan arini.

__ADS_1


" Ngga!" jawab arini singkat yang kemudian mendorong khesya menepi dari jalannya.


" Sebenatar aja mbak, kita perlu waktu berdua buat bicara!" bujuk khesya mengikuti langkah arini.


" Saya ngga mau!" ketus arini lagi.


Kheya menahan tangan arini, "mbak tolong sebentar aja saya ngerasa ngga enak sam mbak, saya mau minta maaf secara pribadi sama mbak."


"Dan setelah itu apa?... Memangnya kamu mau meninggalkan mas nico untuk saya? "


Khesya terdiam," nggakan?... "arini menpis tangan khesya," saya rasa ngga ada yang perlu kita bicarakan lagi. "ketus arini yang kemudian pergi.


***************


Mia dan citra saat ini sedang berkumpul di rumah arini tidak hanya sekedar berkunjung untuk menghibur arini namun mereka datang untuk membantu arini mengemas pakaian serta barang - barangnya untuk ia donasikan.


Sudah satu kardus pakaian dan sepatu mereka kumpulkan bersama.


"Lo yakin mau donasiin ini semua rin? Ngga sayang?... "tanya citra pada arini yang dari tadi tiada habisnya mengambil barang - barang dari dalam lemarinya.


" Iya cit, aku udah ngga mau make itu lagi." jawab arini meletakkan satu tumpuk pakaian lagi ke pada citra untuk ia kemas.


" Yaudah kalau gitu lo donasiin ini semua ke gua aja ya. Lumayan biar gua ngga beli - beli baju sama sepatu selama setahun bahkan lebih loh.." ucap citra.


" Emang lo orang yang sangat membutuhkan?... "tanya mia.


" Bukan sangat membutuhkan sih tapi gua butuh aja gitu kan lumayan buat ganti - ganti pergi ke rumah sakit." jawab citra cengegesan.


" Hmmm...." ucap citra mendengus sembari memanyunkan mulutnya.


Arini berdiri dan mengambil kembali baju - baju yang akan ia sumbangkan.


" Ini pasti baju - baju dari nico makannya di sumbangin semua sama arini." bisik citra pada mia.


"Uusstt... Jangan ngomong gitu nanti arini denger baru tau rasa lo!" tegur mia yang membuat citra terdiam.


Selepas mengemas semua barang - barang untuk di donasikan, arinipun mengajak citra dan mia ke taman belakang sembari menikmati cake buatannya.


"Nih... Ini aku yang buat loh.!" ucap arini meletakkan dua piring potongan cake di atas meja.


"Wihh enak nih kayaknya. "puji citra mencicipi cake buatan arini.


" Ya pasti enak lah, kan gratis." saut mia menanggapi ucapan citra.


Arini tersenyum kemudian duduk di sebelah mia." Hhmmm... Tadi siang aku ketemu khesya di sekolahan cika, dia ngajak aku untuk ketemu. "


" Terus lo mau? "tanya mia.


" Ngga sih, tapi aku penasaran deh dia mau bicaraan apa ya?... "

__ADS_1


"Palingan dia mau bujuk lo supaya lo batalin tuntutannya. Takut di pidana dia! "jawab mia.


" Hmmm... Emang masalah ini harus bawa - bawa polisi ya, ngga bisa di selesain baik baik aja gitu?..." tanya citra sambil mengunyah makanannya.


" Lagian ngga ada untungnya jugakan rin buat lo." sambung citra.


" Ini bukan masalah untung atau engganya cit, tapi ini itu masalah harga diri." jawab mia.


"Hmmm... Bener - bener masalah harga diri atau cuma ego?" tanya citra lagi melihat ke arah arini.


Arini terdiam dengan pertanyaan citra, jujur ia tidak tau apakah perbuatannya saat ini itu benar atau cuma mengikuti egonya sama seperti yang di katakan citra.


**************


Ceklek...


Cika masuk kekamar mamanya saat arini sedang duduk memandangi taman belakang rumahnya.


Cika tersenyum begitu arini melihat ke arahnya. "hay... Ada apa sayang?" tanya arini saat cika berjalan mendekatinya.


"Cika mau bobok sama mama, boleh? "tanya cika duduk di pangkuan arini.


" Boleh dong sayang, cika mau apa?mau mama bacain dongeng?" tanya arini lagi.


Cika menggeleng, "Cika mau ngobrol sama mama." jawab cika menatap mata arini.


"Ngobrol?... Yaudah cika mau ngobrol apa? "


"Ini soal papa... "arini terdiam saat cika kembali mengatakan kata papa di depannya.


" Mama sama papa bertengkar ya?..."


" Mama pisah sama papa?" tanyanya lagi.


Arini menghela nafas," cika denger dari mana soal ini? "


" Dari bianka, soalnya bianka sempet cerita ke cika dulu saat mama dan papanya bertengkar terus mama bianka ngga pulang - pulang, sama kayak papa." jelas cika.


Lagi - lagi arini menghela nafas panjang, arini terdiam sejenak memikirkan perkataan yang tepat pada cika agar cika bisa memahami kondisi keluarganya saat ini. " Cika bener... tapi mama dan papa bertengkar bukan berarti kami saling memebenci atau bahkan tidak mau saling bertemu satu sama lain. Mama dan papa bertengkar juga belum tentu kami pisah, kita masih akan tetap bertemu, gumpul bahkan ngobrol bareng. Jadi cika jangan mikir yang buruk tentang mama sama papa. "


Arini mengelus rambut cika, "Mama dan papa pisang karna kita saling sayang dan peduli satu sama lain. Mama mau papa jadi orang yang lebih baik lagi fan begitupun papa. Cika pahamkan maksud mama?" cika mengangguk


"Yaudah kita bobok yuk!! 'ajak arini yang lagi - lagu di angguki oleh cika.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2