Marriage Betrayal

Marriage Betrayal
Bab 35.Mama rindu sayang


__ADS_3

Nico mengantarkan cika ke sekolahnya karna arini yang masih dalam penyembuhan luka oprasi. Arini juga masih sangat berduka jadi tidak memungkinkan untuk arini mengantarkan cika ke sekolah.


"Cika kamu janji sama papa, kamu harus happy dan lupain semua masalah yang kemaren, oke!"


Cika menggeleng,"loh tadi sama mama katanya janji bakal happy kenapa sekarang sama papa beda?"


"mamakan lagi sedih pah, kalau cika bilang engga nanti mama tambah sedih lagi." jawab cika.


Nico terdiam mendengar jawaban anaknya, nico tidak bisa berkata-kata karna keadaannya memang seperti ini. Nico juga masih sangat berduka saat ini.


Seluruh teman-teman cika datang bersama dengan miss khesya." hey.. Cika. Gimana keadaan kamu sekarang?" sapa khesya.


"i'm oke miss." jawab cika.


Khesya mengangguk, "ini.. Ada yang mau di sampein sama temen - temen kamu. Yuk... Bilang apa sama cika?" ucap khesy kepada seluruh anak didiknya.


"Turut berduka cita ya cika... "kompak semua teman - teman cika.


Cika tersenyum," thank you... "ucap khesya.


" Yaudah kalau gitu sekarang cika masuk kelas ya, bareng sama temen - temen cika." ucap khesya yang di angguki oleh cika.


"Oke... Anak - anak langsung masuk kelas ya. "ucap khesya lagi menyuruh semua muridnya menuju ke dalam kelas.


Setelah semua anak - anak masuk kedalam kelas, khesyapun menghampiri nico yang masih berdiri di dekat pintu mask kelas.


" Papa cika bisa bicara sebentar?" tanya khesya.


" Sekarang?..." tanya nico.


" Iya.. Lebih cepat lebih baik." jawab khesya mengarahkan nico ke ruangannya.


Sesampainya di ruangannya, khesya langsung menutup pintu lalu memeluk dan mencium nico sampai nico terpojok ke dinding ruangannya.


"Khesya.. Khesya hey!" bentak nico pada khesya yang terus menciumnya.


"Kenapa sih mas.. Aku kan kangen? "khesya memajukan bibirnya.


" Iya aku tau tapi ini sekolah, ngga enak kalau ada yang liat!" tegas nico yang kemudian duduk.


" Ngga akan ada yang liat mas, lagian di sini juga ngga ada cctv..." jawab khesya mendekati nico.


" Iya aku tau, tapi sekarang ini aku lagi berduka, jadi please tolong ngertiin aku!"


Khesya menghela nafas panjang,lalu berdecak. "oke...aku ngerti. Jadi sekrang gimana keadaan kamu?"


"Ya gini, aku masih belum percaya aja kalau ervan udah ngga ada. Wajahnya waktu di inkubator masih teringat jelas di ingatan aku. Pertama dan terakir kalinya aku meliat ervan. "


"Aku jadi ngerasa bersalah deh mas, aku jadi ngerasa kalau kamu, arini dan semua kesedihan kamu ini gara - gara aku. Kamu kehilangan ervan gara - gara aku. I'm sorry ya mas. Aku ngga tau kalau kehadiran aku sampai buat kamu dan arini jadi kayak gini" nico menggeleng dan memegang tangan khesya, "aku jadi ngerasa orang yang paling bersalah karna lematian ervan." ucap kheaya meneteskan air mata.


"Hey.. Hey.. Ngga gitu kamu ngga salah, ngga ada yang salah di sini, ini semua itu udah takdir. Ervan ngga sama aku sekarang itu semua karna takdir ngga perlu ada yang di salahin di sini!" sangkal nico meliht khesya yang merasa berslah.


"Tapi bisa ajakan mas kalau seandainya aku ngga hadir di hidup kamu pasti ini semua ngga akan terjadi kamu____"

__ADS_1


" Please Stop!... Ngga usah di lanjutin aku itu ngga lagi cari siapa yang perlu di salahin, aku cuma mau move on aku cuma mau berusaha buat nerima kenyataan kalau anak aku itu udah ngga ada itu aja. Jadi pliase jangan nyalahin dari kamu kayak gitu!... "tegas nico.


Khesya mengangguk," i'm sorry.. "ucap khesya yang di anggukinoleh nico.


**************


Arini duduk di taman belakang rumahnya sendirian, menatap langit dengan tatapan kosong. Wajah arini terlihat masih sangat sedih, dengan langkah ragu citra menghampiri arini untuk mengecek keadaan arini.


"Rin... "sapa citra dengan mata yang berkaca - kaca.


Arini terperanjak dan melohat citra yang berdiri di sampingnya.


" Sorry... Gua ngagetin lo ya?" ucap citra meminta maaf karna arini yang keget.


Arini menggeleng," ngga... Aku aja yang tadi lagi ngelamun jadi kurang fokus." jawab arini memaksakan senyumnya. Citra duduk di kursi taman sebelah arini, "gimana keadaan lo sekarang?" tanya citra.


"Ya... Gini aja,kamu bisa nilai sendiri gimana ke adaan aku sekarang. "


Citra mengangguk, "iya lo ngga baik - baik aja, harusnya gua ngga nanya gitu tadi."


"Kalau cika gimana keadannya rin? "tanya citra lagi mengalihkan pembicaraannya.


" Cika... Cika baik - baik aja." jawab arini.


Citra mengusap air matanya,ia tak sanggup menahan air matanya,Melihat arini yang sangat ketus kepadanya membuat citra merasa gagal menjadi sosok teman untuk arini. Citra tau pasti arini masih kesal kepadanya akibat perkatannya saat itu dengan satria, citra dan satria malah membela nico dan tidak mempercayai ucapan arini. Padahal maksud citra dulu itu baik citra ingin arini tidak stres dan kondisi arini dan bayinya bisa baik tapi arini jadi salah paham seperti ini kepadanya sekarang.


"Cit.. Please___"arini menggeleng melihat tatapan citra kepadanya.


" Sorry.. Sorry gua ngga maksud gitu" citra membersihkan air mata yang tersisa di wajahnya kemudian memegang tangan arini.


" Cerita soal apa ya cit, aku rasa ngga perlu ada yang di ceritain lagi."


"Bukan gitu maksud gua rin, "


"Terus ap cit. "


"Ya maksud gua, kalau lo ada masalah atau apapun yang menganjel di hati lo lo bisa cerita ke gua. Karna gua siap dua puluh empat jam buat bantu lo apapun itu. Buat bantu beres - berespun gua juga mau." jawab citra berharap kesedihan arini bisa berkurang dengan kata-katanya.


" Beres - beres?... Beres - beres apa ya cit?"


" Kamu kalau bicara yang jelas,"


" Maksud gua___"


Kamar bayi..? "potong arini." Kenapa sih semua orang nyuruh aku buat beres - beres kamar bayi, ada apa sih? Kenapa harus buru - buru gitu loh? "


" Please... beri sedikit aja aku nafas, beri aku sedikit waktu buat bisa nerima gitu kenapa harus buru - buru sih? Kenapa cit?" arini mengusap air matanya, arini merasa tidak satupun orang yang bisa mengerti perasaannya saat ini.


" Rin gua cuma mau lo sama cika bahagia lagi rin..." hawab citra yang ikut menangis di buatnya.


" Lo punya cika, kasian cika rin kalau lo terus - terusan mayak gini. "sambung citra.


" Terus gimana sama aku cit, kamu ngga kasian sama aku aku ini baru kehilangan anak. Rasanya itu ngga enak banget cit, ngga enak."

__ADS_1


" Kamu ngga akan ngerti gimana rasanya jadi aku karna kamu itu belum bersuami, belum punya anak kamu ngga akan nherti gimana rasanya kehilangan seorang anak yang udah lama di nantikan kehadirannya."


"Iya gua tau rin, tapi lo kan masih punya cika,Ada cika rin."


Arini menggeleng, "aku ngga ngerti lagi sama kamu cit, ngga ada yang ngertiin aku." arini berdiri"aku nyerah! Nyerah. "arini pergi dari taman belakang rumahnya menuju ke depan rumah.


Citrapun langsung mngejar arini dan menanyai arini akan pergi kemana melihat arini yang mengambil kunci mobil." lo mau kemana rin...? Ctanya citra mengikuti langkah cepat arini.


"Aku mau keluar, aku perlu nafas cit. Aku capek di desak sama semua orang di sini." arini membuka pintu mobilnya namun di tahan oleh citra.


"Oke.. Oke kalau lo mau pergi biar gua yang nganterin, gua ngga mau terjadi apa - apa sama lo rin! "cegah citra.


" Ngga perlu cit, aku ngga papa!" bentak arini.


"Rin... Rin lo itu ngga baik - baik aja. Biar gua yang nyopirin lo!"


"Lo ngga bisa nyetir cit!"


Citra terdiam dia bari ingat kalau ia masih dalam belajar membawa mobil, "setidaknya biar gua nemenin lo!" tawar citra lagi.


"Ngga perlu cit aku lagi pengen sendiri! "


Lagi - lagi citra menahan arini,"oke.. Kalau gitu please tolong dengerin gue sebentar aja! Please...!" mohon citra.


"Oke.. Apa? "


" Gue cuma pengen lo tau kalau apa yang gua lakuin, yang gua ucapin itu semuanya untuk lo, sorry banget kalau mungkin kata - kata gua waktu itu malah buat lo sakit hati tapi asal lo tau rin gua ngelakuin itu karna gua sayang sama lo, gua, mia, satria kita semua sayang sama lo kita ngga mau lo kenapa - napa jadi please jangan ngerasa kalau lo itu sendiri, masih banyak alasan lo buat bahagia lagi. "


"Gua ngga mau lo terus - terusan sedih kayak gini. Liat lo kayak gini gua juga ikutan sedih rin." ucap citra sambil menangis.


Arini mengangguk,lalu menepis air matanya "udahkan...?" citra mengangguk"kalau gitu aku harus pergi, bye..! "arini masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan citra yang masih berdiri di depan rumahnya.


Arini melajukan mobilnya menuju ke pemakaman ervan.


Arini mengelus papan nisan ervan saat ia sampai di pemakaman anaknya itu" hay sayang , maaf ya mama baru datang kesini.. Hiks... "


Mama rindu sekali sama ervan, mama mau meluk ervan tapi ngga bisa.


Mama ke sini juga mau minta maaf sama ervan karna waktu mama liat ervan di rumah sakit waktu itu mama ngga gendong ervan. Maafin mama ya sayang hiks... Hiks..."


Arini menepis air matanya" oh.. Iya mama ke sini bawa sesuatu untuk kamu. "arini membuka tasnya lalu mengambil foto keluarga kecilnya.


Arini meletakkan foto itu di delat papan nisan anaknya," pertemuan kita waktu itu sangat singkat sayang jadi sekarang mama bawain kamu foto papa kakak foto mama di sini biar kamu bisa liat kita sepuas kamuhiks... Hiks.. Biar kamu tau kalau kita semua sayang sam kamu hiks.. Hiks.."


"Mama rindu sekali sama kamu nak hiks.. Hiks." Arini menangis di pemakaman ervan tanpa mempedulikan air hujan yang jatuh membasahi dirinya.


Mama rindu hiks... Hiks... Hiks..... "Hujan semakin deras namun arini masih duduk di pemakaman ervan dengan ratapan kesedihan.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2