
"Ibuk arini harus segera di oprasi!" keputusan dokter membuat nico terpaksa harus menandatangani persetujuan oprasi untuk arini dan juga calon anaknya.
Nico mondar mandir di pintu IGD menanti kabar tentang istri dan calon anaknya. Arini terpaksa harus di oprasi agar bisa menyelamatkan dirinya juga bayi yang di kandungnya.awalnya nico tidak mau menyetujuinya karna usia kandungan arini yang baru memasuki delapan bulan. Namun tidak ada tindakan lain yang bisa di lakukan selain oprasi walaupun kecil peluangnya untuk bayi arini selamat. Mau tidak mau nicopun terpaksa menyetujuinya karna keadaan ini bisa merenggut nyawa arini.
Dokter cakra yang menangani oprasi arini keluar dari ruangan IGD.
"Bagaimana dok?" Tanya nico yang sangat cemas.
"Syukurlah keduanya selamat..." jawab dokter cakra.
Nico sangat bersyukur dengan penuturan dokter tersebut.
"Tapi.... "
Ucapan singkat itu langsung merubah raut wajah nico.
"Tapi apa dok? "tanya nico dengan cepat.
Keadaan bayi bapak sangat lemah, ada kelainan di bagian pernafasan yang membuat anak bapak kesulitan untuk bernafas. Ini memang sering terjadi pada bayi yang lahir prematur dan banyak dari mereka....." dokter Cakra menggeleng. dia tidak sanggup untuk melanjutkan perkataannya.
Air mata nico berurai saat dokter cakra menjelaskan perihal kondisi anaknya
" Ngga dok tolong selamatkan anak saya, lakukan pengobatan terbaik untuk anak saya!, saya akan bayar berapapun itu asalkan anak saya selamat!!" nico memohon pada dokter cakra sambil menangis.
"kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk anak bapak."
"Harus dok! Anak saya harus selamat. "tangis nico yang tidak ingin kehilangan anaknya.
***************
Di kamar rawat arini.....
Arini menatap nico dengan tatapan dingin nan menusuk, kejadian kemarin masih membekas di ingatan arini dan sekarang anaknya harus lahir prematur akibat ulah nico.
"aku mau ketemu ervan!" ervan adalah nama anak mereka. Arini sudah mempersiapakan nama anaknya sejak awal kehamilan.
" tapi kondisi kamu masih lemah sayang." jawab nico membantu arini yang hendak duduk. Namun arini malah menepisnya dan bersikeras untuk bisa bertemu dengan anaknya.
"Ervan itu butuh aku mas, pokoknya aku mau ketemu anak aku kalau kamu ngga mau aku bisa pergi sendiri!" arini berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya dengan menepikan rasa sakit bekas operasinya.
"OKE!.... Aku tanya dulu sama dokter cakra!" nico langsung bergegas keluar dari ruangan arini untuk menemui dokter cakra.
**************
Di depan ruangan ICU arini menatp ervan yang terbaring lemah di dalam inkubator dengan banyak alat bantu untuk krlangsungan hidupnya.
__ADS_1
dari balik kaca arini menangis melihat kondisi anaknya. "maafin mama sayang, gara - gara mama kamu jadi seperti ini"
Nico ikut menangis melihat arini yang sangat terpukul melihat keadaan ervan yang lemah.
"sayang..." nico memegang bahu arini untuk menguatkannya. " kamu harus kuat sayang.anak kita pasti akan baik - baik aja dia anak yang kuat aku percaya itu." ucap nico yang membuat arini menepis tangan nico kasar.
"kalau kamu ngga selingkuh anak aku ngga akan seperti ini. Ervan ngga akan di rawat seperti ini, ini semua itu gara - gara kamu, kamu mas. Inget itu!" arini memukul tangan nico berkali - kali untuk melampiaskan rasa sakit hati dan amarnya.
"Kalau sampai terjadi apa - apa sama anak aku, aku ngga akan maafin kamu mas. inget itu!" ucap arini menatap nico dengan tatapan menusuk.
Setelah cukup lama melihat kondisi ervan nicopun membawa arini kembali ke ruang rawat inapnya. Arini harus beristirahan agar luka jahitan oprasinya bisa segera sembuh.
Nico membantu arini untuk berbaring di ranjang tempat tidur tanpa mengatakan apapun. Nico tidak ingin menyampaikan ucapan dokter cakra perihal kondisi anaknya pada arini. Nico tidak mau arini bertambah marah kepadanaya, nico juga tidak mau terjadi hal buruk lagi pada arini.
Arinipun beristirahat dengan membelakangi nico, arini tidak mau melihat wajah nico sedikitpun setelah apa yang sudah dilakukannya.
***********
Doktor cakra berlarian kedalam ruangan ICU tempat bayi arini di rawat. Salh satu suster yang berjaga di sana mengabari keadaan darurat terhadap kondisi bayi arini dan nico. Informasi itu membuat dokter cakra panik dan langsung bergegas memeriksa keadaan bayi tersebut. " Segera lakukan tindakan, perbaiki alat pernafasan bayi dan pantau terus detak jantung pasien!! " tegas dokter cakra mengarahkan para asistennya.
Semua asisten dokter cakra bekerja melakukan tindakan semaksimal mungkin agar keadaan bayi kembali normal namun...
Tttuuuuuuttttt..... Garis lurus dari monitor membuat dokter cakra bergegas untuk mengambil alat pacu jantung namun tetap saja nyawa bayi arini dan nico tidak tertolong.
.
.
.
Suster dari ruangan ICu datang ke ruang rawat arini untuk mengabari kabar duka tentang kematian anak mereka.
" Maaf apa ini dengan keluarga ibuk arini dan bapk nico?" tanya suster itu saat masuk kedalam ruangan arini.
Nico mengangguk, "iya ada apa sus?"
Bisa bicara sebentar pak? '' tanya suster itu yang kemudian keluar untuk mengajak nico bicara.
Arini yang melihat itupun merasa janggal dengan sikap suster tersebut, suster itu seperti ingin menyampaikan sesuatu yang tidak boleh ia ketahui.
" Ada apa sus." tanya nico saat mereka berdua telah keluar dari dalam ruangan arini.
"Terlebih dahulu saya dan juga para dokter ingin meminta maaf kepada bapk, saya kesini untuk menyampaikan berita duka tentang anak bapak. "
Nico mengerutkan keningnya, perasaannya mulai tidak enak ketika suster itu menyinggung tentang kondisi anaknya." maksudnya apa sus, berita duka apa?... Kenapa anak saya!? "
__ADS_1
Suster itu menunduk," Maaf pak, dengan berat hati saya ingin menyampai jika putra bapk sudah tiada."
"Apa..? "kaki nico langsung melemah tubuhnya langsung jatuh begitu saja ke atas lantai saat suater mengatkan jika anaknya sudah tiada.
" Anak bapak meninggal karna komplikasi." sambungnya lagi.
Nico menggeleng," ngga mungkin... Ini pasti salah, pasti bukan anak saya yang meninggal sus!" kekeh nico yang tidak bisa menerima kepergian anaknya.
Sekali lagi kami minta Maaf pak, kami sudah melakukan yang terbaik untuk anak bapak tapi mau bagaimana lagi tuhan sudah terlalu sayang pada anak bapak.. Semoga bapak dan ibuk arini bisa kuat menerima cobaan ini. "ucap suster itu yang kemudian pergi.
Nico masih meratapi kepergian anaknya di lantai rumah sakit di depan ruangan arini , nico teringat dengan ucapan arini waktu di di depan ruanga ICU tadi.
" aku ngga akan maafin kamu kalau sampai terjadi apa - apa sama anak aku mas!" tegas arini penuh keyakinan dengan ucapnnya.
Perkataan itu membuat nico takut untuk memberitahu kabar duka ini kepada arini terlebih kondisi arini saat ini masih lrmah. Arini pasti sangat terpukul jika mendengar kabar ini. Bagaimana ini aoa yang harus ia katakan pada arini? Bagaimana ia mengtnnya nanti?
Ddddrrrtt... Dddrrrrttt...
Semua pikiran nico buyar ketika ponselnya berbunyi. Panggilan itu berasal dari ibu mertuanya.
Nico menghapus air matanya lalu mengangkat telfon tersebut.
"Halo bun...? "
"Dimana arini sekarang?.."
"Arini sedang berada di rumah sakit bun, arini melahirkan. "
"Apa? "kejutnya" lalu bagaimana keadaan arini sekarang, dia baik - baik sajakan? "hawatir sarah.
Nico mengangguk," arini baik - baik saja bun tapi.... "
" Tapi apa nico?"
" Bayi kami bun... Bayi kami meninggal. Barusan suster ICU bilang kalau terjadi komplikasi pada bayi kami yang membuatnya tidak bisa di selamatkan." tangis nico semakin pecah saat ia memberitahu pada bundanya tentang kondisi putranya yang sudah tiada.
"Mama kesana sekrang!" ucap sarang yang langsung bergegas pergi dari rumah arini.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1