
Di saat keadaan toko sudah tak ramai lagi, kini Nina mengusap air matanya. Ia menatap Kevin dan bu Sekar bergantian. Sedih sangat sedih terlihat Nina menahan malu kala membuka aibnya sendiri.
"Saya seorang istri dari pria yang menipu keluarga saya. Saya hamil dan itulah sebabnya keluarga saya ingin membunuh saya di hutan malam itu. Saya wanita hina, Pak. Anda tidak pantas menikahi wanita seperti saya. Saat ini bahkan saya sedang mengandung anak dari suami saya." Nina tak ingin lagi perduli apa pun tanggapan anak dan ibu ini padanya.
Setidaknya ketika semua sudah terbongkar Nina merasa lega tak harus menutupi semuanya dari mereka. Nina pasrah jika harus di usir dari rumah saat ini juga. Ia sadar jika dirinya adalah wanita yang memiliki status tidak jelas.
"Dimana pria itu saat ini?" Kini Kevin yang diam sedari tadi tampak berpikir. Jika dirinya tidak menikahi Nina maka pria itu harus bertanggung jawab atas Nina dan anaknya.
Nina menggelengkan kepala. Ia pun kembali menceritakan kejadian dari awal sebelum pernikahan. Dimana pria itu datang dengan membawa kedua orangtuanya. Di saat itulah Nina di paksa untuk menikah oleh keluarga Nina. Meski pun ia menolak pernikahan itu tetap berlangsung dengan ancaman dari sang ayah jika Nina menolak maka mereka akan membuang Nina dari keluarga mereka.
Hingga terjadi aksi pembunuhan yang ingin di lakukan keluarga pada Nina malam itu sebab ia tak ingin menggugurkan kandungannya. Miris, tentu saja terdengar seperti hal yang tidak masuk akal. Sekar dan Kevin merasa kisah hidup Nina bagai boneka yang harus siap mengikuti apa pun perintah dari sang ayah. Bukan karena kasih sayang, melainkan karena ambisi ingin di hormati seluruh warga desa.
"Saya sadar jika saya wanita yang memalukan. Sebelum saya pergi saya mau mengucapkan terimakasih dengan Pak Kevin dan Bu sekar. Kalian adalah orang yang sangat baik. Kalian pantas mendapatkan orang yang baik-baik pula." Setelah mengatakan itu Nina pun melangkah pergi. Tanpa berani meminta gajinya yang selama ini ia tabung dengan Bu Sekar.
Nina menangis sepanjang jalan entah kemana ia harus berlindung lagi. Beruntung saat ini langit malam tampak bertabur bintang. Yang artinya tak ada hujan yang ingin turun. Dan ia bisa mencari tempat tidur di pinggiran jalan tanpa takut basah.
Sedangkan di toko bunga milik Sekar, keduanya nampak duduk terdiam. Kevin memandang bunga yang ada di depannya. Bunga yang masih kokoh di tempatnya nampak cantik meski ada beberapa kelopak yang sudah jatuhh.
__ADS_1
"Vin, Nina wanita yang baik. Ibu sangat yakin itu..." ujar Sekar dengan suara yang lemah. Tak seantusias biasanya berbicara dengan sang anak.
Sejenak Kevin memandang sang ibu. "Ibu setuju? Jika setuju apa pun yang terjadi aku akan tetap memilihnya." sahut Kevin lagi.
Sekar menatap nanar sang anak. Berat hatinya menerima Nina yang sudah berstatus pernah menikah untuk sang anak yang begitu baik. Namun, kembali lagi takdir seseorang tak ada yang menginginkan terjadi hal buruk seperti Nina.
"Bagaimana dengan keluarganya?" lirih Sekar bertanya pada sang anak.
Mendengar cerita Kevin dan Nina yang mengatakan jika keluarga wanita itu seperti orang tidak memiliki perasaan, rasanya sungguh membuat Sekar takut. Ia bisa membayangkan ketika keluarga itu tahu Kevin adalah pria yang ingin menikahi Nina dan menerima janin yang ada di perut Nina, pasti mereka tak akan segan-segan menghabisi nyawa sang anak.
"Bu, jangan pikirkan hal lain. Yang terpenting ibu setuju atau tidak? Semua bisa aku atasi dengan mudah. Aku biasa berhadapan dengan orang yang bahkan ahli dalam menembak dan menebas kepala manusia, Bu." ujar Kevin tampak mencairkan suasana yang tegang itu.
"Ibu tunggu di sini yah? Aku akan susul Nina dan kita pulang sama-sama. Ingat, ibu tidak boleh buka pintu sebelum aku telepon." Di tengah kepanikannya menyadari Nina telah pergi jauh, Kevin masih sempatnya memberi peringatan pada sang ibu untuk tidak pulang duluan.
Di malam hari seperti ini Kevin tidak ingin jika terjadi sesuatu pada sang ibu tercintai. Sekar pun tersenyum melihat kepergian ang anak untuk mencari wanitanya.
"Terimakasih, Ayah...meninggalkan harta yang paling berharga untuk Ibu. Anak kita tumbuh menjadi pria yang begitu dewasa. Dia anak yang tidak ada kurangnya untuk Ibu. Terimakasih, Ayah sudah memberikan matahari di hidup ibu sebelum ayah pergi dengan tenang..." Sekar mengusap foto di meja kerjanya. Dimana nampak wajah pria paruh baya dengan seragam yang sama dengan Kevin. Sangat tampan dan Sekar selalu senang melihat sang anak memakai seragam kebanggaannya yang mengingatkan pada sosok sang suami.
__ADS_1
Kesedihan yang berangsur menghilang hanya berganti rasa rindu bagi Sekar. Ia sangat merindukan sang suami. Merindukan perhatian-perhatiannya setiap kali akan pergi. Ketika sang suami pulang dari tugas, ia selalu menemani Sekar kemana pun seolah mengganti waktu yang sudah terlewati selama ia pergi.
Di sisi lain tepatnya di pinggir jalan, Nina terduduk lemas saat merasakan perutnya lapar sekali. Meski ia sudah makan sore tadi kini ia merasakan perutnya kembali minta di isi. Duduk di atas kardus, ia meringkuk memegangi perut yang terus berbunyi di dalam sana.
"Dua kali pergi dua kali nggak bawa uang sama sekali. Nina Nina, hoby banget yah kamu nahan lapar sampai sakit gini? Sabar yah dedek. Kita tidur dulu. Besok kita kerja buat cari uang." Nina ingin sekali menelusuri jalan untuk mencari uang bekerja apa pun itu. Namun, kala mengingat tubuhnya sedang berbadan dua Nina tidak ingin membuat janinnya kenapa-napa. Ia akan memilih istirahat malam ini dan bangun esok pagi.
Dari arah jalan seberang sana, Nina tidak menyadari jika ada sepasang mata yang menatapnya saat ini sembari geleng-geleng kepala.
"Anak ini suka sekali tidur di pinggir jalan." gerutunya lalu turun dari mobil.
Pernah bertemu Nina dengan keadaan seperti ini membuat Kevin tak sulit menemukan keberadaan wanita itu. Ia turun dan melangkah ke arah Nina yang berbaring memeluk tubuhnya sendiri sebelah tangannya memegang perutnya.
"Eh...apa ini?" Nina terlonjak kaget kala kedua kakinya di ikat dengan tali serta tangannya di ikat juga.
"Pak Kevin?" Nina menatap wajah pria tampan yang baru saja ia tolak itu.
"Mau kabur kemana kamu? Maling jaketku, harus di penjara." ujar Kevin yang membuat sekitar Nina kembali tak menghiraukan. Sebelumnya mereka panik melihat Nina yang seperti ingin di culik.
__ADS_1
Nina terkejut mendengar ucapan Kevin. Ia meminta tolong namun tak ada yang mau menolongnya. Bahkan kini tubuhnya di gendong oleh Kevin menyebrangi jalanan yang padat lalu meletakkan tubuh Nina ke dalam mobil miliknya.