
Hari yang di nantikan pun sudah tiba, dimana sidang kantor baru saja selesai. Nina begitu tampil cantik dengan seragam warna hijau bersama Kevin yang juga memakai seragam kebanggaannya. Keduanya bergandengan tangan menuju pulang ke rumah. Dan seminggu lagi adalah hari pernikahan mereka. Tatapan mata Kevin tak lepas memandangi Nina yang tersenyum menunduk malu.
"Wah ayah sama bunda sudah datang tuh." seru Bu Sekar yang tengah menggendong Regi yang gelisah sejak tadi meski suara tangisannya tidak terdengar sama sekali.
"Bu, Regi rewel yah?" tanya Nina ketika mereka sudah tiba di halaman rumah baru turun dari mobil.
"Enggak, Nina. Cuman kayaknya pengen di tidurin sama bundanya deh? Matanya sudah ngantuk tapi nggak mau di tutup dari tadi." sahut Bu Sekar benar adanya.
Nina pun meminta waktu sejenak untuk membersihkan diri sebab ia tidak mau membawa virus dari luar yang bahaya untuk si bayi. Kevin pun sudah harus segera kembali ke kantor lagi saat itu. Sepanjang jalan pria tampan tersebut terus tersenyum-senyum membayangkan hari pernikahan akan segera tiba.
"Bang, di panggil sama komandan di kantornya." salah satu junior dari Kevin datang menghampiri pria itu yang baru saja duduk di ruang kerjanya.
__ADS_1
Kening Kevin mengerut dalam ketika mendapat panggilan itu. Seharusnya ia sudah libur saat ini, namun karena ada sesuatu hal yang harus Kevin kerjakan di kantor ia pun memilih untuk menyelesaikan lebih dulu. Dan kini pria itu sudah bergegas menuju kantor sang komandan yang baru saja tiba di kota itu.
"Vin, saya berat mengatakan ini. Tapi...ini keadaan mendesak sekali. Pasukan utama kita sudah kekurangan saat ini. Bagaimana dengan mu apa siap jika harus kembali di kirim? Maafkan saya sebelumnya." dengan perasaan bersalah sebab pria itu pun tahu Kevin yang sedang masa pengurusan nikah tidak seharusnya mendapat panggilan tugas seperti ini.
Tak ada kata penolakan sama sekali dari Kevin. "Siap komandan tidak apa-apa." sahutnya yang membuat pria di depannya begitu salut.
Kevin benar-benar seorang yang sangat memiliki jiwa patriot yang tinggi. "Saya bangga padamu, Kevin. Keberangkatan akan di langsungkan empat hari lagi. Semua pasukan siapkan dengan baik."
Namun, mendengar masih ada empat hari waktu keberangkatannya. Pria itu memilih untuk tidak mengulur waktu lagi. Hari ini juga akan pulang dan mengurus pernikahan untuk besok. Setidaknya Kevin harus menikah dulu sebelum berangkat. Urung sudah niatnya untuk bekerja hari ini.
"Loh Vin, pulang lagi?" sahut Bu Riana yang sudah memanggil Kevin dengan nama sebab akan menjadi menantunya.
__ADS_1
"Iya, Bu. Saya mau persiapan pernikahan. Besok kita sudah harus melangsungkan pernikahan itu." Betapa kaget Riana dan sekar mendengar ucapan Kevin barusan.
"Vin, kamu nggak bercanda kan?" tanya Sekar yang kini mendekati sang anak.
Kevin pun menatap sang ibu. "Empat hari lagi aku sudah harus berangkat bertugas lagi, Bu. Di sana sedang kekurangan orang karena banyak yang terkena serangan kemarin lusa." sahut Kevin.
Mata Sekar berkaca-kaca mendengar ucapan sang anak. Kini mereka harus kembali di hadapkan momen yang sangat menegangkan. Riana pun juga sama tak kalah khawatirnya dengan Sekar.
"Aku ke kamar dulu yah, Bu?" pamit Kevin tak berniat mengganggu Nina yang tengah menidurkan sang anak.
Di sini tinggallah Sekar dan Riana yang saling diam memandang kepergian Kevin. Hari itu Kevin mempersiapkan semua keperluan nikah bersama penghulu yang sudah ia hubungi. Kevin berusaha bisa mendapatkan waktu untuk melangsungkan akad nikah besok. Ia tidak ingin mengulur waktu lebih lama.
__ADS_1