Mataharinya Desa Dan Sang Tentara

Mataharinya Desa Dan Sang Tentara
Kedatangan Ayah


__ADS_3

"Riana! Riana! Buka pintunya! Tolong maafkan aku!" Siang itu ketika Kevin pergi bekerja di rumah hanya ada Nina dan kedua ibunya serta sang anak. Suara dari arah luar rumah tiba-tiba menghentikan tawa mereka yang tengah memperhatikan atraksi Regi yang berjoget lucu di depan televisi. Mereka sama-sama saling menatap penuh tanya. Dimana suara tersebuat kembali terdengar berteriak.


"Bu, kenapa rasanya suara itu tidak asing yah?" cetus Nina menduga.


Jelas saja suara itu tak asing. Sebab Riana pun masih sangat mengenali suara yang sudah lama tak pernah ia dengar. Rindu, tentu saja. Sebagai istri yang pernah mencintai suaminya ia tentu merindukan sosok pria yang pernah membuat ia cinta buta hingga merelakan usianya termakan oleh kekerasan tangan sang suami. Namun, kali ini Riana memilih untuk mengabaikan saja.


"Biarkan saja. Itu suara ayahmu, Nina. Ibu tidak mau dia berbuat hal lagi pada kita. Jangan pernah keluar rumah." Riana berdiri segera menghubungi sang menantu. Ia meminta Kevin untuk segera mengurus orang yang sudah membuat ketegangan di rumah itu.


Namun, hal mengejutkan justru terdengar dari bibir Kevin. "Ayah hanya datang ingin meminta maaf, Bu. Aku sudah pastikan jika ayah dan Bara tidak akan berbuat kasar pada kalian. Buka saja pintunya, Bu."


"Tapi, Kevin. Bagaimana kalau..."


"Aku akan tanggung jawab jika sampai ayah berbuat sesuatu. Ibu tenanglah..." mendengar penuturan sang menantu yang terdengar begitu meyakinkan tentu saja Riana langsung patuh. Bagaimana pun selama ini ia hidup dalam perlindungan sang menantu.

__ADS_1


Riana membuka pintu meski begitu ia tetap meminta Nina tak keluar bersama cucunya. Rasa takut dalam dirinya masih jelas bisa di rasakan ketika berada dekat dengan sang suami.


"Ibu, biar Nina temani keluar yah? Regi biar bersama Ibu Sekar saja." Nina terlihat bergerak menyerahkan anaknya pada sang ibu mertua. Namun, Riana segera mencegah.


"Nina, tetaplah di sini. Ibu akan baik-baik saja. Kevin mengatakan demikian pada ibu."


"Tapi bagaimana kalau sampai ayah nekat berbuat sesuatu dengan Ibu?"


Dengan perasaan berat Nina pun melepaskan sang ibu keluar rumah. Ia terus mengintip keadaan di luar rumah melalui jendela bahkan tangannya segera meraih ponsel untuk menghubungi sang suami.


"Iya, Nin?"


Suara hangat dari seberang sana terdengar menyapa ibu calon dua anak itu..

__ADS_1


"Abang, abang tahu kan kalau ayah datang ke rumah? Kenapa abang lepaskan begitu saja?" tanya Nina yang langsung pada intinya.


"Di luar ada anak buah abang kok, Sayang. Tenang saja. Ayah akan baik pada ibu sebab itu memang keinginannya sejak lama namun abang harus memberikan berbagai ujian dulu sampai abang benar-benar yakin jika ayah sudah berubah." meski Kevin adalah orang patut di percaya, rasanya Nina tak bisa begitu saja membiarkan ibunya bertemu sang ayah. Ketakutan masih jelas ia rasakan sampai saat ini.


Kevin terus meyakinkan sang istri dengan banyak menyebutkan orang-orang yang mengawal sang ayah di depan sana. Hingga akhirnya panggilan telepon pun terputus kala Kevin mendengar jika sang ibu mertua telah masuk kembali ke rumah itu.


Nina melihat jelas bagaimana wajah senang Riana yang mengusap air mata bahagianya saat ini.


"Bu, jangan bilang ibu ingin kembali ke desa bersama pria itu?" tanya Nina yang tentu di sambut dengan gelengan kepala sang ibu.


"Ayahmu tidak meminta ibu kembali padanya, Nina. Ayahmu sadar jika ia sangat bersalah dan meminta ibu menyetujui perceraian itu." terlihat dari raut wajahnya Riana nampak sedih kala menceritakan hal yang baru saja ia ucapkan pada Nina.


Mendengarnya Nina pun menghela napas lega. Ia tak tahu jika sang ibu saat ini tengah sedih mengingat perbincangannya dengan sang suami barusan.

__ADS_1


__ADS_2