Mataharinya Desa Dan Sang Tentara

Mataharinya Desa Dan Sang Tentara
Restu Paksaan


__ADS_3

Faris nampak menarik napas dalam geram ketika melihat Nina datang dengan penampilan yang lebih baik, seolah ia merasa di ejek sang anak. Tatapan mata tajam pria itu menusuk dada Nina sangat dalam. Ia tak berani menatap lagi pada sang ayah. Di sana tampak sang ibu yang ingin berlari memeluk anaknya yang lama hilang,


"Jangan pernah mencoba menyentuhnya, Riana. Dia bukan anak kita lagi!" geram Faris berteriak hingga membuat sang istri terkejut.


Riana menggeleng tak bisa menerima ucapan sang suami yang menurutnya tidak masuk akal. Ia akan tetap menjadi ibu dari Nina selamanya. Ketika suasana begitu nampak tegang, tiba-tiba seseorang yang mereka kenal sebelumnya menampakkan wajah dan membuat kedua orangtua Nina sangat heran. Apa yang terjadi sebenarnya?


"Apaa-apaan ini?" tanya Faris tak mengerti mengapa bisa Jhon dan kedua orangtuanya yang ia kenal dengan nama Devan justru datang juga bersama dengan Nina. Lama memperhatikan keadaan di depannya kini sudah saatnya bagi Kevin untuk angkat suara.


"Saya calon suami, Nina. Dan kedatangan kami kesini untuk membawa mereka meminta maaf pada keluarga anda. Setidaknya dengan mereka datang meminta maaf, saya pikir akan membersihkan nama Nina kembali. Jangan khawatir dengan hukuman, mereka akan tetap mendapatkan hukuman yang setimpal karena sudah mencoreng nama baik keluarga ini." Kevin berbicara dengan wajah beraninya.


Ia sama sekali tidak takut dengan kemarahan ayah Nina. Saat itu juga Jhon dan kedua orangtuanya di bawa oleh beberapa anggota Kevin. Terlihat bagaimana emosi ayah Nina melihat pria yang sudah menipu mereka habis-habisan.


"Dan itu harta yang mereka curi sudah kami kumpulkan dan kembalikan lagi pada anda, Pak Faris." sebut Kevin saat anakĀ  buahnya sudah membawa beberapa kotak perhiasan.


Melihat itu Nina menggelengkan kepala, karena perhiasan itulah ia harus di buat hampir kehilangan nyawa oleh sang ayah.


"Jangan khawatir, itu tambahan untuk kalian sebagai permintaan maaf saya dari keluarga. Sebab mereka adalah keluarga yang sudah kami tidak lagi anggap saat ini. Mohon di maafkan kesalahan mereka dan terimalah lamaran saya ini." Kevin bicara begitu jelas.


Nina sampai tak bisa berkata apa-apa lagi sebab pria itu melamarnya dengan sang ayah langsung kali ini. Lama Faris menimbang-nimbang permintaan Kevin.

__ADS_1


"Terserah kalian mau apa. Saya tidak lagi perduli dengan anak itu. Yang terpenting saat ini saya akan habisi dia!" Tiba-tiba Faris menendang wajah Jhon yang tengah berlutut di depannya.


"Jhon!" Indita, sang ibu berteriak histeris melihat sang anak berdarah wajahnya. Namun, pemuda itu masih berlutut tanpa rebah sedikit pun akibat anak buah Kevin memegang tangannya kiri dan kanan.


Kedua orang tua Jhon nampak sangat histeris melihat sang anak yang siap menerima hukumannya. Nina bahkan sampai memejamkan mata melihat adegan itu. Kevin masih tetap berdiri memperhatikan tindakan sang mertua yang sangat arogan. Memukuli menendang hingga menginjak-injak pemuda itu. Saat tangan kanannya bergerak hendak menarik parangnya, barulah Kevin meminta anak buahnya untuk bergerak semua menahan tangan Faris.


"Akan ku bunuh kalian semua!" teriaknya marah.


Faris yang di tangkap justru membuat semua anak buahnya ikut bergerak menyerang anggota Kevin. Keadaan semakin tak terkondisikan. Semua anggota Faris menggunakan benda tajam. Sedangkan para tentara itu hanya mengandalkan ilmu bela diri mereka tanpa menggunakan pistol dan senjata lainnya.


Kevin telah memberikan mereka peringatan untuk tidak melukai hanya mengamankan keadaan. Sebab hal itu akan membuat mereka bisa berurusan dengan hukum.


"Ini sudah saya duga, Nina. Ayah kamu tidak akan mudah menerima semuanya. Termasuk kedatangan saya dan yang lainnya. Tapi, akan saya kembalikan keadaan seperti sebelumnya." itu janji Kevin pada Nina.


Akhirnya Kevin pun melindungi Nina saat salah satu orang tiba-tiba melayangkan benda tajamnya pada Nina dari jarak jauh.


"Awas, Nina!" dari dalam mobil Sekar yang hanya menonton berteriak tanpa ada yang bisa mendengarnya. Matanya memejam saat melihat Nina hampir tertusuk benda tajam.


"Hah?" mata wanita paruh baya itu membelalak kala melihat tangan Kevin dengan mudahnya memegang gagang pisau panjang itu. Kehebatan Kevin yang sama sekali tak pernah ia lihat, dan hari ini ia merasa sangat kagum dengan sang anak.

__ADS_1


"Anakku ternyata hebat sekali." pujinya pada Kevin yang memeluk Nina dengan satu tangan dan satu tangannya memegang benda tajam itu.


Ia membuang ke sembarang arah dan menarik senjata, mengarahkan pada beberapa tiang rumah kokoh Nina. Suara tembakan pun menggema kala itu. Semua perkelahian terhenti begitu saja.


Di sana barulah kedua orangtua Jhon berlutut memohon ampun pada Faris. Mereka sangat takut melihat pertengkaran yang baru saja terjadi. Beruntung seluruh anggota Kevin sangat sigap. Mereka tetap melindungi Jhon dan kedua orangtuanya. Jika tidak, mungkin tubuh mereka saat ini sudah terpisah dengan kepala dan anggota tubuh lainnya.


"Dengan atau tidak setuju anda saya akan tetap menikahi Nina setelah semua tepat pada waktunya. Anda bersiaplah saya jemput paksa. Nina akan segera saya nikahi. Dan kamu, Jhon. Ketika saya meminta kamu untuk mentalak Nina, maka lakukanlah. Bawa mereka!" perinta Kevin pada semuanya.


"Bawa ibu itu kemari." pintah Kevin lagi.


Dan para anggota pun membawa Riana ikut bersamanya. Di depan mobil Nina berpelukan dengan sang ibu melepaskan rindu. Ia nampak menangis melihat sang ibu yang sangat kurus saat ini dan tidak terawat seperti biasa.


"Bu, ikut Nina ke kota yah?" tanyanya dengan anggukan cepat dari sang ibu. Ia pun tidak ingin hidup bersama suami yang begitu keras dan kasar. Mereka semua naik ke mobil dengan beberapa anggota Kevin yang menodongkan pistol dari mobil. Takut jika sampai orang di desa itu nekat melemparkan benda tajam yang sangat ampuh memotong kepala mereka dengan satu kali lemparan saja.


"Aku sudah mendapat restu ayahmu. Jadi kau tidak perlu lagi memberikan alasan apa pun." sahut Kevin yang membuat satu isi mobil itu terperangah mendengarnya.


Mana ada kata restu keluar dari bibir ayah Nina. Yang ada justru ingin menghabisi nyawanya.


"Vin...itu namanya bukan restu, Nak. Kamu memaksanya." sahut Sekar mengutarakan isi hatinya.

__ADS_1


"Itu kan tidak penting, Bu. Yang terpenting adalah bisa menjadi penikah untuk kami." sahut Kevin yang tak mau kalah.


__ADS_2