
Kemarahan Faris semakin menjadi akibat serangan dari Kevin, lebih tepatnya bukan serangan hanya niat baik yang caranya kurang halus. Yah begitu sosok Kevin yang sulit di mengerti orang lain. Ketegasannya datang membawa Jhon serta kedua orangtuanya untuk meminta maaf namun berujung keributan membuat Faris merasa Kevin datang untuk menyerangnya. Para anak buah Faris pun turut mengompori jika mereka seharusnya bergerak lebih cepat dan menghabisi semua anggota yang datang bersama Kevin.
"Yang utama adalah anak nakal itu. Seharusnya di penjara di bawah tanah saat ini. Beruntung pria itu melindunginya terus." ujar Faris yang masih sangat marah dengan Nina.
"Bara, cari tahu dimana mereka tinggal." pintah Faris yang ia berikan pada sang anak.
"Iya, Ayah." patuh Bara pun menyanggupi perintah sang ayah.
Pada akhirnya hari itu keadaan di desa kembali panas. Desas desus tentang Nina kembali mereka ingat setelah beberapa bulan mereka lupakan. Kedatangan Nina dengan sang suami dan juga pria berapakaian tentara itu membuat mereka semakin merendahkan Nina. Dimana wanita yang masih berstatus istri pria lain sudah merencanakan pernikahan dengan pria lain lagi. Sungguh memalukan bagi desa.
Satu yang tidak mereka ketahui sejak saat ini, jika Nina sudah mengandung dari suami pertamanya. Faris sebagai ayah Nina bungkam rapat tentang kehamilan sang anak. Begitu pun dengan Nina yang memilih menutupi perutnya saat pergi ke desa sebab tak ingin menimbulkan fitnah yang berlebih. Ia menghindari orang membuat keluarganya semakin malu dengan mengatakan jika Nina hamil dengan pria yang ingin menikahinya.
Kepergian Nina dan sang ibu membuat Faris terus berpikir untuk mengambil kembali dua wanita yang berani pergi tanpa izin darinya. Di tengah gentingnya permasalahan mereka justru tak mau ketinggalan untuk melepas lelah di temani minuman desa yang membuat mereka mabuk.
Itulah kebiasaan Faris untuk memanjakan para anak buahnya.
Sedangkan di sini, mobil yang saling beriringan tampak meninggalkan gerbang desa. Dimana Nina dan juga Riana menghela napas lega. Artinya perjalanan mereka sudah lebih jauh dari desa dan tidak dalam ancaman lagi. Jalan besar aspal pun sudah mereka pijak saat ini.
__ADS_1
Nina menggenggam tangan sang ibu dan juga Bu Sekar. Kedua wanita di sampingnya adalah wanita yang sangat baik pada Nina. Meski mereka berbeda namun kasih sayang dan perhatian yang mereka berikan sama pada Nina.
"Ibu, kenalkan. Ini namanya Bu Sekar, ibunya Pak Kevin. Nina kerja dengan beliau di toko bunga." ujar Nina memberi tahu sang ibu.
Dengan ramahnya Riana menangkupkan tangan di depan dada hendak memberikan hormatnya pada sosok Sekar. Setinggi apa pun kekayaan mereka di desa, jika melihat Sekar dan Kevin, Riana seolah tahu jika mereka tentu bukan orang sembarangan.
Melihat sikap Riana, Sekar segera mencegah dengan memegang tangan Riana. "Cukup seperti pada umumnya. Kita semua sama kok. Apalagi kan sebentar lagi kita akan jadi besan." celetuk Sekar membuat Riana tersenyum.
Sedangkan Nina hanya diam malu mendapat godaan dari sang calon mertua seperti itu. Hingga selama di perjalanan hanya mereka saja yang bersuara. Sedangkan Kevin di depan tak ada suara sama sekali.
"Nina, di depan itu bukan supir robot kan? Kok betah nggak ada suara sama sekali dari tadi?" tanya Riana yang melirik Kevin dari spion sama sekali tak ada tanda kehidupan.
"Hah? Kok gitu sih?" tanya sang ibu.
"Kadang seperti robot nggak ada suara. Kadang juga Pak Kevin itu bisa jadi bunglon yang nyamar jadi pohon atau rumput saat perang. Iya kan, Bu Sekar?" tanya Nina meminta persetujuan wanita yang melahirkan pria bunglon itu.
"Bu, potong saja Nina itu. Kali ini saya yang memberi perintah bukan dia." Kini akhirnya Kevin pun angkat suara.
__ADS_1
"Eh?" Riana terkejut mendengar sang anak ingin di potong.
"Vin, kamu ini ah." tegur Sekar.
Nina pun diam membungkam bibirnya. Ia paham apa yang ingin di potong dari perintah Kevin. Pasti tentang gaji yang sampai saat ini belum ada ia ambil. Dan sekarang Nina tak berani mengatakan itu sebab ia sudah memiliki tanggungan yaitu sang ibu. Nina tidak ingin membawa sang ibu hidup sengsara. Cukup ia saja yang hidup susah.
Meski pun Kevin dan bu Sekar pasti menanggung semuanya, namun Nina tidak ingin membebankan sang ibu pada orang lain.
"Vin, kita ke rumah langsung saja yah. Biar Bu Riana istirahat langsung. Pasti lelah." ujar Sekar dengan pengertiannya.
Mobil pun melaju ke arah rumah sedangkan Kevin sebelumnya memberi perintah pada anggotanya untuk membawa Jhon ke kantor polisi agar di laporkan atas tindakan penipuan.
Lama di perjalanan kini akhirnya mereka sampai di rumah megah milih Kevin. Riana terbelalak melihat bangunan indah di depannya. Hal yang sama Nina lakukan saat pertama kali melihat rumah Kevin saat itu. Dan kali ini Nina tersenyum memperhatikan eskpresi sang ibu.
"Sabar yah, Bu. Nina akan kerja lebih giat lagi kok nanti." ujarnya yang mengerti sang ibu pasti menginginkan rumah seperti di depannya ini.
Keduanya pun masuk di belakang langkah kaki Sekar. Sedangkan Kevin sudah langsung melajukan mobil untuk mengurus Jhon dan kedua orangtuanya.
__ADS_1
Sepanjang jalan Kevin hanya fokus menyetir hingga ia tidak tahu jika ada sebuah mobil yang mengikutinya dari belakang. Lamunan Kevin tentang pernikahannya dengan Nina kelak akan seperti apa? Sampai detik ini rasanya ia masih kecewa dengan sikap Jhon yang sudah merusak diri Nina. Dimana wanita itu adalah wanita yang Kevin pilih untuk masa depannya dan sang ibu.
Namun, jalanan yang Kevin lalui saat ini adalah jalan yang utama menuju kantor besar kepolisian. Dimana akan sangat banyak orang di sekitarnya. Hingga mobil yang mengikuti Kevin di belakang hanya bisa bergerak tanpa aksi.