
"Mau kemana kamu?" Sebuah genggaman erat di pergelangan tangan Nina membuat wanita itu terhempas ke dada pria tampan yang menarik paksa tangannya kala ingin kabur.
Nina meronta, air matanya menetes ketakutan. "Tolong saya mohon jangan bawa saya pulang ke desa. Mereka akan membunuhku." Ia sampai menangkupkan keduanya tangan di depan dada memohon dengan sangat.
"Apa kalian orang desa terbiasa berprasangka buruk pada orang? Siapa yang mau membawamu kembali ke desa? Aku akan membawamu ke rumah. Tubuhmu sangat kotor haru di bersihkan. Begini caramu berterimakasih setelah makan enak?" Panjang lebar pria itu berucap sehingga Nina hanya bisa membungkam bibirnya.
Ia pun diam dan patuh mengikuti kemana tubuhnya di tarik oleh pria tampan yang mengaku sebagai pemilik jaket di tubuhnya. Keduanya menaiki mobil melaju ke sebuah perumahan yang tidak begitu megah namun terbilang sangat bagus dan mewah. Nina berulang kali menggerakkan kepala menoleh kesana kemari melihat setiap sudut bangunan di depannya. Jauh berbeda dengan tampilan di desa yang sederhana hanya bermodalkan dengan bangunan luas saja.
"Cepat masuk." pintah Kevin dengan tegas.
Nina patuh mengikutinya masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu ia di sambut seketika dengan seorang wanita paruh baya yang mengenakan dress rumah cantik. Wajahnya rama dan cantik meski sudah berumur. Nina terdiam mematung kembali tak tahu harus menyapa bagaimana.
"Siapa ini, Vin? Kok cantik sekali?" tanya wanita paruh baya itu yang ternyata adalah ibu dari pria tampan itu.
"Bu, aku taruh dia sementara di sini. Aku harus langsung kembali ke hutan. Nanti setelah aku pulang aku akan jelaskan." Setelah mengatakan hal itu, Kevin pun menarik kasar jaket yang Nina pakai. Nina cepat-cepat melepaskan jaket itu dan memberikannya pada pria tersebut.
__ADS_1
"Kevin, hati-hati." Refeks Nina berucap dengan suara teriakan yang terdengar begitu lucu.
Mendengar itu Kevin hanya berhenti sejenak menoleh dan melangkah pergi lagi
"Dia orangnya memang seperti itu. Ayo kamu mandi dan istirahat. Em...sebelumnya kenalkan saya Sekar ibunya Kevin." ujar wanita itu mengulurkan tangan.
Nina pelan membalas uluran tangan itu dengan mengatakan namanya. "Nina Anjelin, Bu." ujarnya.
Kedua wanita berbeda usia itu nampak berjalan ke arah kamar dan Nina pun segera membersihkan tubuh. Usai mandi ia mendapatkan perawatan dari wanita itu.
Kembali Sekar menarik tangan Nina. "Ini harus segera di bersihkan lagi. Lihat banyak kotoran di lukamu."
Hari itu Nina di temani Sekar berbincang-bincang di dalam kamar tamu. Sekar terus mendekati Nina seolah merasa penasaran hingga akhirnya Nina bercerita bagaimana ia di bawa Kevin ke kota. Namun, hanya sebatas itu saja. Nina tak menceritakan hal yang menimpanya hingga menyebabkan sang ayah semurka itu.
"Kamu masalahnya besar sekali yah sampai ingin di bunuh keluarga sendiri?" tanya Sekar prihatin mendengar ucapan Nina.
__ADS_1
Lirih Nina menggelengkan kepala. "Tidak juga, Bu. Hanya saja keluarga saya adalah orang yang menjunjung tinggi kehormatan. Itu sebabnya kesalahan yang bukan kita perbuat pun bisa membuat kita akan di bunuh jika itu menyangkut kita. Dan beruntung Kevin dan teman-temannya mau menyelamatkan saya." ujar Nina bersyukur meski pun kehidupannya tidak tahu harus berjalan kemana.
"Kamu sangat cantik dan lembut." puji Sekar yang mengagumi sosok Nina di depannya kini.
Keduanya terus saling berbincang hingga akhirnya tak terasa malam semakin larut. Sekar meminta Nina untuk istirahat begitu pun dirinya yang juga ingin istirahat saat ini.
"Kevin tidak pulang, Bu?" tanya Nina penasaran.
Sekar tersenyum berdiri di depan pintu kamar. "Dia itu pulangnya nggak tahu kapan. Nanti kalau sudah selesai kerjaannya yah pulang sendiri." ujar Sekar.
"Lalu bagaimana dengan saya?" tanya Nina yang mengingat ucapan Kevin sebelum pergi untuk menjelaskan pada sang ibu sampai dia pulang.
"Mungkin dia mau kamu temani ibu di sini yang sendirian hanya sama pelayan saja. Biar ibu tidak kesepian." Meski rasanya canggung namun Nina merasa senang jika untuk sementara ia mendapatkan tempat tinggal bersama orang yang baik.
Akhirnya pintu kamar pun di tutup, Sekar menuju kamarnya dan Nina merebahkan tubuh memejamkan mata. Sebelum terlelap bayangan wajah pria yang menolongnya di kegelapan malam dengan wajah yang penuh coretan hanya kedua mata mereka yang saling pandang. Sungguh tajam dan mempesona.
__ADS_1