
Hal yang sama juga terjadi pada Nina. Ia bekerja siang itu dengan wajah yang berat seolah berpikir banyak hal. Sebagai atasana sekali gus orang terdekat membuat Sekar diam. Ia ingin memberikan Nina waktu sendiri menenangkan pikirannya yang kalut.
Bayangan malam kejadian saat beberapa kali benda tajam di lemparkan pada tubuhnya, membuat Nina sangat bingung. Sampai kapan ia akan terus berstatus istri orang? Jika bercerai itu artinya ia harus siap berhadapan dengan para keluarga.
Nina menoleh pada wanita yang akan menjadi mertuanya. Wanita baik yang tulus padanya sejak awal.
“Tidak. Aku tidak mau membuat keluarga Bu Sekar menjadi terkena masalah oleh keluargaku. Aku tidak boleh menerima pernikahan itu.” gumam Nina menggelengkan kepalanya.
Berkunjung ke desa sekedar ingin mengambil berkas untuk perceraian rasanya Nina tak memiliki nyali sama sekali.
“Biarkanlah statusku akan seperti ini selamanya. Tapi, bagaimana dengan anakku?” Ia mengelus perutnya lagi mengingat sang anak akan butuh berkas dari sang ibu.
Dari arah lain Bu Sekar tampak menghela napas seraya menggelengkan kepalanya. “Kasihan Nina…seharusnya hidupnya akan bahagia di usia seperti ini. Justru harus menanggung beban seberat itu.”
Tak tega akhirnya wanita paruh baya itu berjalan mendekati Nina. Di pegangnya bahu wanita cantik berbadan dua itu. Nina yang melamun sampai tersentak kaget. Ia mengusap dadanya sejenak.
“Bu Sekar, ada apa? Maaf saya kaget.” Mendengar ucapan Nina, Sekar tersenyum.
“Kamu melamun makanya kaget. Kapan kita periksa bayimu? Ibu mau temanin.” sahut Bu Sekar dengan antusias.
Baginya ini adalah momen langka. Meski bukan cucu dari anaknya sendiri, dekat dengan Nina membuat Sekar merasa memiliki calon cucu juga.
Nina terdiam beberapa saat. Bu Sekar adalah orang yang sangat baik. Bagimana mungkin Nina menjauhinya. Bahkan saat memutuskan ingin pergi pun Nina merasa tak tega jika harus meninggalkan wanita baik ini. Nina adalah satu-satunya teman Sekar selama Kevin pergi.
“Kamu nggak lagi mikir mau pergi ninggalkan saya lagi kan, Nina?” Pertanyaan Bu Sekar membuat Nina melebarkan pupil matanya. Bibirnya tergagap tak bisa berkata apa pun lagi.
Nina tersenyum kikuk. “I-ibu kenapa bicara begitu? Tidak mungkin. Nanti Pak Kevin benar-benar masukin saya ke penjara karena mencuri jaketnya. Padahal jaket itu tidak mahal kan, Bu? Lagi pula saya bukan mencuri. Waktu itu saat saya sadar dari pingsan melihat jaket itu di atas tubuh saya makanya saya pakai saja. Tidak mungkin saya kabur dengan baju yang robek-robek terkena darah.” Nina panjang lebar bercerita membuat Bu Sekar tersenyum saja.
“Pasti dia langsung bungkam kalau sudah bicara setelah ini.” gumam Bu Sekar menebak isi kepala Nina.
“Jaket itu memang tidak mahal, Nina. Hanya saja Kevin sangat sayang dengan jaket pemberian almarhum suami saya. Ayahnya Kevin.” Saat itu juga Nina membungkam bibirnya rapat ketika hendak menyahut lagi.
__ADS_1
Matanya menyipit nampak mengembangkan senyum paksa. Jelas ia malu sebab secara tidak langsung menghina jaket yang memang tidak begitu bagus dari segi kualitas dan juga desainnya.
“Maafkan saya, Bu. Saya kira karena harganya…saya benar-benar minta maaf yah, Bu?” ujar Nina lagi.
Keduanya pun bergegas sibuk kembali ketika ada pelanggan yang datang membeli buket bunga. Hingga waktu menunjuk pada pukul tujuh malam. Mereka bergegas hendak menutup toko bunga.
“Bu, ini masih terang. Apa tidak terlalu cepat tututpnya? Kalau ibu capek saya juga tidak apa-apa kerja sendirian.” sahut Nina merasa sayang meninggalkan toko yang baru buka itu.
Namun, alasan toko tutup lebih cepat sebenarnya bukanlah karena lelah. Sekar baru saja mendapat pesan dari sang anak tentaranya.
“Kita tutup saja yah? Ibu tidak capek sama sekali kok. Kita mau pergi ke suatu tempat setelah ini.” sahut Sekar mengembangkan senyum pada Nina.
Kening wanita hamil itu berkerut dalam. “Kita?” ulangnya dalam hati.
Nina merasa dirinya adalah orang asing yang tidak perlu di ikut sertakan dalam rencana apa pun.
Tak lama setelah perbincangan itu, suara sepatu tampak memasuki toko dan mendekati Sekar.
“Jangan mengangkat-angkat lagi. Biar aku saja.” Kevin mendekat dan membuat Nina melepaskan apa yang ingin ia angkat barusan.
Dari kejauhan Sekar memandang keduanya yang saling berdekatan. Sangat serasi, andai saja Nina hamil anak dari Kevin betapa bahagianya Sekar sebagai ibu saat ini.
Sayangnya, semua harapan ada masanya akan melesat jauh.
“Ayo, Bu. Kita harus segera tiba. Saya sudah menghubungi rumah sakit di sana agar kita tidak perlu antri.” Kening Nina berkerut dalam ketika mereka berjalan hendak memasuki mobil.
“Rumah sakit? Siapa yang sakit, Bu? Ibu sakit?” Nina kebingungan bertanya dengan Bu Sekar yang hanya diam saja.
“Saya mau periksa kepala.” Kevin justru mengaku jika dirinya yang ingin periksa.
Sepersekian menit melaju akhirnya mobil yang mereka naiki tiba di parkiran sebuah rumah sakit umum. Kevin ingin membawa Nina ke rumah sakit tentara awalnya. Namun, setelah ia pertimbangkan. Jauh lebih baik membawa Nina ke rumah sakit umum.
__ADS_1
Setidaknya ia bisa menjadi ayah untuk janin Nina ketika dokter ingin berbicara. Sementara jika di rumah sakit tentara, maka Nina akan di minta data istri dari Kevin.
“Pak Kevin,” sapa salah satu seorang dokter yang mereka masuki ruangannya.
Sebelumnya Kevin sudah menjelaskan kejadian semuanya. Dan itu tentu saja tidak masalah bagi dokter wanita di depannya.
“Tante Sekar, apa kabar?” Dengan ramahnya wanita yang memakai jas putih itu menyapa Sekar.
“Baik, Rinda. Syukurlah kamu sudah sukses sekarang.” Sekar begitu senang melihat teman sang anak yang dulu sering mengerjakan tugas sekolah bersama anaknya di masa SMP.
Melihat kedekatan mereka semua, Nina mendadak sedih. Ia memilih menundukkan kepala merasa hilang kepercayaan dirinya sebagai wanita desa yang dulu sangat di agung-agungkan para pria.
Ketika berada di kota, dirinya bukan lah apa-apa di bandingkan banyak wanita yang sukses dengan wajah yang juga sangat cantik-cantik.
“Oh ini Nyonya Kevin yah?” Nina di buat melongo tak percaya mendengar pertanyaan dari Rinda.
Wanita berprofesi sebagai dokter itu mengulurkan tangan menyapa Nina dengan ramah.
“Rinda.”
“Em Nina.” keduanya saling berjabat tangan. Nina tampak kikuk tak bisa tersenyum.
“Kevin itu suka banget ganggu jam kerja aku loh. Cuman buat apa? Cuman minta solusi isi hatinya yang galau. Kamu itu satu-satunya wanita yang bikin teman smp aku jadi bocah sd lagi, Nina. Iya kan, Tante? Si Kevin ini nggak pernah suka sama perempuan. Sekali jatuh hati satu bumi di bikin pusing.”
Mendengar ocehan Rinda, Sekar menggeleng tertawa. Sementara Kevin yang berdehem seolah memberi teguran pada Rinda justru di abaikan begitu saja.
“Tadi sudah bagus loh dokter memanggil saya Pak Kevin dan Nyonya Kevin. Kenapa jadi berubah?” ketus Kevin memberi peringatan pada Rinda.
“Nggak ada cctv kok, Vin. Biarlah sekali-kali aku keluar dari zona profesional. Kita kan jarang banget bisa bicara seperti ini. Kamu sekarang mainnya sama hutan dan senjata terus.” sahut Rinda kekeuh ingin bergurau.
Di ruangan itu mereka terus bercerita dengan Rinda yang fokus memeriksa kandungan Nina. Semua nampak antusias, meski pun Rinda juga tahu jika itu bukanlah anak dari sang teman. Namun, apa pun keputusan Kevin dan ibunya ia tetap akan mendukungnya sebagai teman.
__ADS_1