Mataharinya Desa Dan Sang Tentara

Mataharinya Desa Dan Sang Tentara
Mencari Jalan Tengah


__ADS_3

Sekar yang duduk di dalam mobil nampak cemas kala melihat dari kejauhan sang anak marah besar dengan Jhon. Ia takut jika Kevin sampai tak bisa mengontrol emosinya. Namun, ingin keluar pun ia tak mau membuat sang anak semakin marah. Kevin memintanya di dalam mobil tentu saja demi keamanan sang ibu. Beberapa kali sang anak kembali menghajar Jhon barulah ia bergegas membawa Nina ke mobil. Tak lagi perduli siapa Jhon baginya. Sebab pria itu sudah melakukan hal yang sangat memalukan.


"Pak Kevin," panggil Nina yang menghentikan langkah kakinya saat akan tiba di mobil.


"Masuk." pintah Kevin yang tak perduli apa pun yang Nina ingin ucapkan.


Ia terlalu merasa malu dengan sikap keluarganya yang tega menipu Nina dan sekeluarga. Bahkan dengan tak berdosanya Jhon justru mengatai Nina sebagai wanita yang memfitnahnya pada Kevin. Sungguh memalukan sekali pikirnya.


Mobil pun melaju begitu cepat menuju rumah. Selama di perjalanan tak ada yang berani bersuara Nina mau pun Sekar. Melihat Nina yang menunduk menangis, Sekar mendekatinya dan menggenggam erat tangan Nina. Ia memberi isyarat jika semuanya baik-baik saja.


Sementara di tempat parkir ini Jhon di bantu sang ayah bangun dari rebahnya. Ia meringis sakit saat menggerakkan tubuhnya yang sempat di injak oleh Kevin dengan sepatunya.

__ADS_1


"Abang benar-benar keterlaluan, Bu. Gara-gara wanita itu aku luka seperti ini." ujarnya kesal mengadu pada kedua orangtuanya.


"Sudahlah, Jhon. Kita memang salah. Kita tidak bisa melawan Kevin. Bisa-bisa kita semua masuk ke penjara." benar apa yang di katakan oleh Indita. Kevin bisa saja membawa masalah ini ke ranah hukum. Dan selama itu belum ada sudah jauh lebih baik mereka tidak bertemu lagi. Setidaknya Kevin tidak memikirkan hal itu saat ini.


Ketiganya pun melangkah menuju mobil untuk segera pulang. Sepanjang jalan Jhon terus merutuki pertemuannya dengan Nina.


Sejak malam itu Nina semakin banyak diam. Bekerja pun hanya dengan tangan jika biasanya ia akan sangat banyak menawarkan berbagai macam rangkaian baru pada pembeli. Melihat sikap Nina, Sekar turut merasa sedih. Ia merasa bersalah dengan sikap keluarganya itu.


Menyerahkan keluarganya pada kedua orang tua Nina bahkan ia sendiri tak berani. Bagaimana pun juga Jhon dan kedua orangtuanya adalah keluarga Sekar.


"Bagaimana caranya meminta maaf tanpa membuat mereka di hakimi?" gumam Sekar mencari jalan tengah.

__ADS_1


Setidaknya semua permasalahan selesai secara baik-baik. Tiba-tiba saja wanita itu kepikiran dengan sang anak yang saat ini tengah menghabiskan waktunya istirahat di rumah. Kevin mengatakan jika hari ini ia akan bersantai di rumah sekedar melepas penat sebelum akhirnya ia kembali bertugas.


"Oke, Kevin. Ini sangat tepat." ujar Sekar bersemangat mengirimkan pesan pada sang anak untuk segera datang ke toko bunga.


Namun pesan yang ia kirim tak kunjung mendapatkan balasan. Di sini orang yang di tunggu sang ibu nyatanya tengah bersantai di kolam renang sembari berjemur di teriknya matahari. Tubuh yang berwarna sawo matang itu begitu seksi ketika tak memakai baju. Ia hanya menggunakan celana renang saja.


"Kemana sih Kevin ini?" Sekar nampak bersungut saat sang anak tak kunjung membalas pesannya.


Kevin tengah sibuk dengan pikirannya yang berputar kesana kemari. Tentang janin Nina, tentang Jhon dan juga tentang dirinya yang tak kunjung menikah. Hanya helaan napas yang bisa ia keluarkan saat lagi-lagi Kevin mengingat pernikahannya yang tertunda karena ulah sang sepupu.


"Kenapa serumit ini sih membahagiakan Ibu?" tanyanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Nyatanya pertanyaan itu lebih pantas untuk kebahagiaan dirinya, bukan untuk sang ibu. Kevin hanya merasa sedikit gengsi untuk mengakui jika dirinya lah yang sudah tergila-gila dengan Nina.


__ADS_2