Mataharinya Desa Dan Sang Tentara

Mataharinya Desa Dan Sang Tentara
Kedatangan Faris Ke Kota


__ADS_3

Saat bangun di pagi hari, Nina tampak merasa heran. Tak biasanya ia akan melihat dapur yang hanya berisi sang pelayan. Sementara sang ibu baru saja mandi di kamarnya saat Nina menghampirinya. Nina pun menatap pintu kamar Bu Sekar yang masih tertutup rapat. Khawatir membuatnya bergegas melangkah mendekati kamar wanita paruh baya itu. Nina mengetuk beberapa kali pintu kamar Sekar.


"Ibu,"


"Bu Sekar!"


"Bu, ini Nina."


Tok tok tok


Ia mengetuk pintu sembari beberapa kali memanggil Sekar hingga tak lama kemudian terdengarlah suara pintu di buka dari dalam. Nina pun menghela napas lega saat mendengar pintu terbuka dan tampaklah wajah Sekar yang berbeda sekali dari biasa. Jika di setiap pagi Nina melihat wanita ini akan menyapanya dengan tersenyum, pagi ini tidak. Mata sembab dan ujung hidung yang memerah. Sekar mengusap wajahnya yang kusam dan terlihat ia belum mandi pagi itu.


"Nina, kamu sudah bangun?" tanyanya dengan wajah polos.

__ADS_1


"Bu, ini sudah jam delapan loh. Tidak biasanya ibu bangun sesiang ini." ujar Nina cemas dan heran.


"Bu, Pak Kevin pasti akan pulang dan dia baik-baik saja. Kita harus doakan Pak Kevin terus. Saya juga bantu doa kok. Asal ibu tahu doa saya pasti sangat ampuh, Bu." tutur Nina membuat kening Sekar mengerut dalam.


"Iya, kan saya orang teraniaya, Bu. Jadi pasti doanya di kabulkan sama Tuhan." ujar Nina dengan terkekeh berusaha menghibur Sekar.


Mendengar goyunan receh Nina, Sekar hanya menggelengkan kepala tersenyum. "Yasudah, ibu mau mandi dulu yah?" ujarnya.


Nina pun menuju dapur kembali setelah memastikan kamar sekar tertutup rapat. Ia membantu sang pelayan menyiapkan sarapan dan tak lama kemudian akhirnya Sekar bersama Riana datang menuju meja makan. Nina tersenyum menyapa kedua wanita paruh baya itu yang datang.


Mereka bertiga sarapan dengan ekspresi yang berbeda-beda. Nina juga bahkan merasakan kekosongan di rumah kala tak ada kehadiran Kevin.


"Ibu makannya yang banyak yah? Setelah sarapan kita mau perbaiki bunga di taman. Siapa tahu Bu Sekar mau ikut." ujar Nina yang di angguki oleh Riana.

__ADS_1


Mereka hari itu pun menghabisi waktu dengan bercocok tanam. Kesedihan Sekar perlahan hilang berganti dengan perasaan yang senang. Bunga di taman rumahnya tampak begitu cantik.


Berbeda halnya dengan keadaan di kantor polisi. Kali ini Faris marah-marah pada sang anak. Mobil yang di bawa Bara ke kota harus di tahan sebab tak memiliki surat yang lengkap. Faris sangat geram ia tak perduli penyebab sang anak melakukan hal itu.


"Kamu terlalu ceroboh, Bara. Lihat apa jadinya sekarang? Kamu di tahan karena mencelakai polisi. Ayah harus mengeluarkan uang yang banyak untuk menjamin kamu agar bisa keluar. Benar-benar keterlaluan kamu." makinya pada sang anak.


Sepanjang jalan pulang ia terus merutuki perbuatan anaknya. Mereka bukan pulang ke desa, melainkan Faris menuju ke sebuah penginapan dimana harganya terjangkau dan tempatnya cukup nyaman. Baginya tempat tinggal tidak perlu yang mewah yang penting nyaman seperti di desa.


"Kita harus di kota beberapa waktu. Mereka berdua harus kita bawa pulang dan mendapatkan hukumannya masing-masing. Berani-beraninya sudah meninggalkan desa. Memangnya siapa pria itu?" ucap Faris mengingat sosok Kevin yang sok pahlawan menakutinya di depan banyak orang.


"Aku sudah tahu di mana rumahnya, Ayah. Itu sebabnya aku sampai di tangkap polisi." ujar Bara berbohong.


Bukannya menerima ucapan sang anak, ia justru menoyor kepala Bara dengan keras. "Hentikan kebohonganmu itu, Bara. Kau sudah mencelakai orang. Habis makan, malam ini juga kita akan pergi menuju rumahnya. Rumah itu harus kita hacurkan." ujar Faris mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Bara yang melihat kemarahan sang ayah tak berani berkata apa pun.


__ADS_2