
Suara ledakan yang menggelegar bersamaan dengan tangan Sekar memegang dadanya kuat. Ada perasaan yang sangat mengganggunya saat ini. Sekar meneteskan air mata seraya berkata,
“Kevin, anakku…” ia ketakutan.
Wanita paruh baya itu terduduk gemetar. Perasaannya sangat tidak enak. Sedangkan Nina yang terbangun segera melihat ke arah Sekar. Ia bangkit dan memegang pundak wanita itu.
“Bu, ada apa?” tanya Nina. Bisa di lihat jelas Sekar tengah pucat. Tangannya begitu dingin Nina rasakan. Ini sudah pasti menyangkut tentang Kevin. Apa yang di rasakan dengannya pun juga sama apa yang Nina rasakan.
“Nina, segera mandi dan temani ibu ke kantornya Kevin. Ibu ingin tahu keadaan mereka.” ujarnya yang tak bisa duduk diam di rumah saja. Sementara keadaan sang anak terus menjadi pikirannya.
“Baik, Bu.”
Di sinilah keduanya berada dengan di kawal beberapa anak buah Kevin. Meski awalnya di tolak oleh mereka, namun Sekar bersikeras ingin keluar. Tak ada yang berani membantah ucapan Sekar di depan pagar itu. Sebab Kevin menugaskan mereka menjaga sang ibu. Lagi pula penjahat yang menargetkan mereka juga telah mereka tahan. Itu artinya akan aman jika mereka mengizinkan keluar Sekar dan Nina saat itu.
Nina yang melewati sang ayah sebenarnya cukup kaget. Pria itu duduk dengan hanya mata yang bisa menatapnya tajam. Ia sama sekali tak bisa melakukan apa pun.
__ADS_1
“Anak tidak tahu diri! Awas kau!” itulah ungkapan marah dari sang ayah ketika melihat Nina keluar dengan Sekar di dalam mobil.
Hanya melewati tanpa menyapa.
“Bagaiamana anak saya? Tolong, beri tahu saja perkembangannya.” Ibu di mohon tenang. Pak Kevin baik-baik saja. Kita hanya menunggu kabar dari mereka.” tutur salah seorang wanita yang berada di bagian kantor.
Mereka tentu sangat menghormati Sekar yang sudah puluhan tahun mereka kenal. Wanita yang selama bersama sang suami terlihat begitu ramah dan kuat. Namun, sejak kepergian sang suami ia tampak rapuh. Ketakutan sering membuatnya datang ke kantor untuk menanyakan kabar sang anak.
Setiap Kevin pulang, ia sering kali di beri ceramah panjang lebar. Dimana sang ayah sering mengatakan ibunya adalah wanita yang kuat. Demi negara ia rela berbagi suami dengan negaranya. Itulah yang selalu membuat Sekar luluh dan menguatkan dirinya.
Nina hanya diam mendampingi Sekar. Sejenak Nina membayangkan jika dirinya akan berada di posisi Sekar nanti.
“Ayo, Bu. Kita kembali.” ajak Nina yang melihat Sekar memperhatikan barisan di depan sana yang memasuki area helikopter.
Mereka akan berangkat menuju tempat Kevin yang baru saja mendapat kabar terjadi kecelakaan. Musuh mereka ternyata sudah memiliki bom tanpa mereka ketahui.
__ADS_1
***
“Argh!” Suara erangan kesakitan Kevin keluarkan saat ini.
Wajahnya yang bercoretan tampak meneteskan darah segar menutup sebelah matanya. Yah darah itu mengucur deras dari kepalanya saat ia terbanting keluar.
“Ni-na…” lirih suaranya terdengar.
Kevin mengingat wajah yang sering tertunduk di depannya.
“Vin…berjanjilah untuk pulang dengan lengkap tanpa kurang satu pun, Nak.” Suara sang ibu menggema di kepalanya dan perlahan Kevin menutup mata.
Di sampingnya pun turut banyak anggota yang sudah tak bergerak juga.
“Tolong! Tolong segera tiba. Kamu butuh bantuan!” Suara bisik-bisik dari seseorang yang saat ini bersembunyi di dalam tumpukan rumput di luar lorong. Ia gemetar ketakutan melihat tak ada satu pun dari timnya yang bergerak. Beberapa lainnya tengah berada di titik lain mencari jalan keluar dari lorong tersebut.
__ADS_1
“Bang Kevin, Bang. Bangunlah!” Ia bergerak memohon namun orang yang ia gerakkan sama sekali tak meresponnya.