
Satu minggu belum menjadi tanda kepulangan Kevin, dua minggu berjalan Nina belum juga menampakkan senyum di wajahnya menyambut kedatangan sang suami. Hingga pernikahan berjalan sampai tiga bulan lamanya ia sampai merasa putus asa menantikan kepulangan tentara tampan itu. Bukan hanya Nina yang sedih Sekar dan Riana pun turut merasakan kesedihan itu. Melihat wanita cantik yang tiap pagi dan sore duduk memangku sang anak di kursi taman dengan wajah penuh harap terus menatap ke arah pagar rumah jelas menunggu kepulangan pria yang berjanji akan segera pulang dalam waktu cepat.
"Kasihan Nina, Bu." sahut Sekar yang membuat Riana menoleh dan menatapnya.
"Bukan hanya Nina, Bu sekar. Kevin pun juga kasihan mereka berdua adalah pengantin baru tapi justru langsung di pisahkan begitu cepat dan sangat lama waktunya." kedua wanita paruh baya itu tampak mengangguk mengerti apa yang Nina rasakan.
Di lihatnya Nina berdiri kembali ketika merasakan pergerakan sang anak yang meminta untuk di bawa berkeliling sekitar rumah lantaran bosan. Dengan sabar Nina menuruti permintaan bayi berusia tiga bulan itu. Tak pernah sekali pun ia mengeluh bahkan Nina mengurus anaknya sendiri tanpa merepotkan ibu dan mertuanya.
"Siapa itu?" pertanyaan dari Nina terdengar lirih mendengar suara panggilan dari arah luar pagar. Entah apa yang terjadi namun jika di perhatikan suara itu tidaklah asing.
Rasa penasaran yang belum sempat di lontarkan seketika membuat tiga wanita di halaman itu nampak kaget mendapati beberapa anggota berpakaian tentara memasuki halaman rumah Kevin. Mereka berjalan cepat sembari memapah tubuh pria menundukkan kepalanya.
"Ada apa ini?" pertanyaan itu Nina lontarkan saat mendekati para tentara itu dan matanya membulat penuh.
__ADS_1
"Abang!" teriak Nina melihat jika seseorang yang sedang ia tunggu kepulangannya kini sudah berdiri lemas di depannya.
"Bang Kevin demamnya tinggi sekali, Bu. Tapi beliau memaksa di antar ke rumah." salah satu tentara yang memapah Kevin memberi tahu Nina.
Segera mereka pun membawa Kevin masuk ke rumah dengan Riana yang mengambil alih gendongan sang cucu. Nina berlari mengikuti sang suami dengan wajah panik.
"Ada apa dengan suami saya? Bang, kita ke rumah sakit sekarang yah?" Nina membujuk sang suami saat Kevin di letakkan di kasur tempat tidur. Namun, pria itu justru fokus menatap para anggotanya untuk meminta keluar.
"Bang, ayo ke rumah sakit setelah ganti bajunya." Nina bergegas ingin beranjak dari kasur dan mengambil pakaian sang suami yang bersih. Tak tega melihat tubuh Kevin yang berantakan seperti itu ia biarkan saja. Sayangnya Kevin tak menginginkan apa yang Nina inginkan.
Wanita itu terhenti dari pergerakannya ketika pria itu dengan erat menahan tangan Nina.
"Jangan kemana-mana. Tetaplah di sini," ujarnya dengan lemas.
__ADS_1
Nina menggeleng tak setuju mendengar penuturan sang suami. "Enggak, Bang. Kita harus ke rumah sakit. Demam di tubuh abang benar-benar tinggi." Nina kembali memeriksa dengan punggung tangan yang ia tempelkan pada kening sang suami.
"Abang hanya lelah, Nina. Bantu abang lepas baju saja di kamar. Abang juga hanya butuh rebahan sebentar pasti akan sembuh kok. Regi jangan di bawa ke sini dulu takutnya abang nularin dia lagi." Nina mengangguk mendengar ucapan sang suami.
Meski sebenarnya bayi itu dan Kevin sama-sama merindukan, namun daya tahan tubuh bayi seperti Regi masih belum cukup kuat melawan virus. Mereka tak ingin sang anak merasakan sakit yang sama dengan Kevin.
Sebagai seorang istri Nina patuh pada Kevin. Ia menyeka tubuh sang suami dengan air hangat lalu mengganti pakaiannya. Barulah ia bergegas untuk mengambil makan di luar kamar.
"Bang," sahut Nina yang tertahan pergerakannya ketika ingin turun dari tempat tidur.
"Di sini saja. Abang rindu." lemas Kevin berucap sembari menatap wajah sang istri dengan tatapan sayu sebab lemas sekali rasanya.
"Tapi, Bang...emmm..." Nina membulatkan mata saat tubuhnya di tarik kuat dan bibirnya terbungkam secara mendadak.
__ADS_1