
"Nina..." terdengar sapaan dari arah pintu kamar itu yang membuat tubuh Nina tersentak kaget.
Wanita itu menoleh dan memutar tubuhnya cepat. Senyum di wajah Nina pun hilang dalam sekekap. Ia buru-buru mendekati wanita yang baru saja menyebut namanya. Yah dia adalah Bu Sekar. Ia masuk ke kamar Kevin sebab ang ibu di bawah menanyakan Nina yang tak kunjung keluar. Sementara Kevin di kolam pasti sudah menunggunya.
"Eh...Bu Sekar. Ada apa, Bu?" tanya Nina dengan wajah kikuk.
Mendengar pertanyaan Nina membuat Bu Sekar terkekeh. Wanita itu seolah mengartikan jika Nina sedang tidak di tunggu oleh siapa pun. Sejenak manik mata wanita paruh baya itu teralihkan pada jendela yang terbuka dengan lebar. Sinar mentari begitu cerah terlihat di sana. Pelan ia pun melangkah melewati Nina yang tampak gelisah.
"Bu, Ibu mau kemana? Eh saya mau tanya di mana jubah untuk Pak Kevin? Dari tadi saya cari tidak ada." Nina buru-buru berkata demikian sambil menarik tangan Bu Sekar dengan beraninya.
Menyadari sikapnya yang terlalu berani saat manik mata Bu Sekar menatap tangannya segera Nina pun menghentikan tangannya.
__ADS_1
"Kamu ini kenapa, Nina? Itu jubahnya ada di gantungan kelihatan jelas masa nggak lihat? Hem...gimana kamu bisa lihat kalau nyarinya justru di bawah sana? Kevin ini suka banget sih tebar pesona." gerutu Bu Sekar yang membuat Nina menunduk malu dan memilih keluar dari kamar membawa jubah yang di minta oleh Kevin.
Seperginya Nina dari kamar, Bu Sekar pun terkekeh geli melihat tingkah Nina yang gerogi bukan main saat kedapatan olehnya memperhatikan sang anak. Ia pun memutuskan keluar dari kamar juga dan menuju kamar untuk membersihkan dirinya.
Nina yang baru tiba di tepi kolam hanya memberikan jubah pada Kevin dan segera berbalik meninggalkan pria itu tanpa mau menatap tubuh Kevin yang sangat menggoda. Melihat itu Kevin mengernyitkan keningnya heran namun ia acuh dan segera berenang.
"Bu, ayo kita ke kamar ibu." ajak Nina pada sang ibu yang duduk di sofa santai saat itu.
"Udah ibu tenang saja. Nina punya banyak stok baju kok. Ayo jangan sampai Bu Sekar mendengarnya." ujar Nina tanpa ia tahu jika dari arah kamar Sekar belum menutup pintu kamar sepenuhnya.
Wanita itu tampak mendengar ucapan Riana yang mengatakan tak memiliki baju pada sang anak. Dan Naina pun berkata jika ia memiliki stok baju banyak dimana semua baju itu adalah baju milik Sekar di masa mudanya sampai usia tiga puluh tahun. Semua ia berikan sebab Nina tidak ingin di belikan baju. Menurut Nina baju itu semua masih sangat bagus untuk di pakai.
__ADS_1
"Ini baju dari Bu Sekar, Bu. Nina yakin ini pasti muat dengan ibu. Lagian terlalu banyak juga kalau buat Nina hamil kan cuman beberapa bulan saja." ujarnya.
Melihat banyaknya baju bergantung di lemari, Riana menyetujui ucapan sang anak. Semua masih sangat bagus bajunya.
Di kamarnya, Sekar justru sudah menghubungi temannya yang memiliki butik untuk membawakan baju-baju ke rumahnya. Ia ingin Nina memilih sendiri bersama sang ibu baju yang baru bukan bekas pakainya.
Suasana panas terjadi di desa kala Faris mendapatkan telepon dari kepolisian. Kedua matanya membulat sempurna mendengar ucapan pria yang melaporkan keadaan sang anak di kota.
"Apa? Di tahan? apa-apaan ini? Baik. Besok saya akan kesana." Faris pun segera mematikan sambungan telepon itu dengan sedikit menghempas benda pipih miliknya.
"Anak ini bikin ulah saja. Tidak adik, kakak, istri semua saja." ujar Faris menggeram.
__ADS_1
Ia mendapatkan kabar tentang Bara yang di tahan sebab telah membuat celaka salah satu anggota polisi dengan aksi nekatnya yang menabrak saat hendak di tilang. Bahkan Faris mendengar suara dari seberang telepon sang anak yang meminta di jemput malam itu juga. Sayangnya, jarak ke kota dari desa lumayan jauh. Hingga Faris tak akan mau turun malam itu juga. Ia merasa sangat lelah dan memilih untuk beristirahat.