Mataharinya Desa Dan Sang Tentara

Mataharinya Desa Dan Sang Tentara
Rencana Sekar


__ADS_3

Gelisah di toko bunga menunggu pesan dari Kevin yang tak kunjung tiba, akhirnya Sekar memilih pulang dengan supir dan meninggalkan Nina di toko bersama satu karyawan baru. Wanita itu nampak sangat buru-buru sekali pergi. Nina yang melihat hanya mendapat pesan dari Sekar untuk lanjut menjaga toko. Tak ingin kepo dengan urusan orang, Nina hanya patuh. Ia menjaga toko dengan baik hari itu. Meski pun pikirannya sedang kalut namun pekerjaan tetaplah pekerjaan yang harus ia utamakan saat ini.


Sementara di tempat yang berbeda kini Sekar baru saja tiba dengan berjalan cepat menuju rumah. Mencari sang anak di kamar tak ada wujudnya. Ia berjalan kembali menuju ruang kerja Kevin, hasilnya juga tak ada.


"Dimana sih anak itu?" gerutunya lalu bertanya pada sang pelayan dan di sinilah ia berada. Berdiri menggelengkan kepala setelah menghela napas lelah melihat tingkah sang anak yang justru seperti bule di panta.


"Kevin, kamu dari tadi ibu tunggu ternyata begini kelakuan kamu?" Kevin terlonjak kaget hingga melompat ke kolam dan menjatuhkan semua makanan yang ia bawa berjemur di atas air kolam itu.


Bukannya prihatin dengan sang anak yang mandi bersama makanan dan minuman, Sekar justru beranjak masuk ke rumahnya sembari berkata. "Vin, Ibu tunggu kamu di ruang tengah yah?" ujar Sekar pada Kevin.


Tak bisa marah sedikit pun pada sang ibu, Kevin hanya bisa patuh segera masuk ke rumah dengan handuk kimono di tubuhnya. Ia berjalan cepat menuju kamar untuk membersihkan badan dan berganti pakaian. Barulah keduanya duduk berdua di sofa. Kevin melihat wajah sang ibu yang nampak serius saat ini.


"Mikir si Nina, Bu?" tanya Kevin yang tepat sasaran.

__ADS_1


"Siapa bilang? Kamu yah yang mikir si Nina?" Sekar justru bertanya balik pada sang anak di mana Kevin menggeleng kikuk.


Pria itu merubah posisi duduknya dengan asal sekedar membuat tubuhnya nyaman.


Kevin nampak tak berbicara apa pun setelah sang ibu menodongnya pertanyaan mematikan itu.


“Bu, sebentar lagi aku pergi. Jadi aku tentu saja memikirkan pekerjaanku.” kilahnya yang membuat Sekar menghela napas saja.


“Sebentar lagi pergi, dan kamu belum nikah juga. Itu kan, Vin? Sudah ah jangan gengsi gitu. Ibu pulang yah demi bicarain hal ini juga. Kamunya malah asik sendiri sampai nggak lihat ponsel. Ibu tuh mikir buat bawa semua pasukan kamu ke desanya Nina. Kita bawa si Jhon dan orangtuanya untuk meminta maaf. Sisanya yah kita serahkan dengan hukum. Dengan begitu kita bisa minta ayahnya Nina juga untuk menikahkan kalian kan?”


“Lah itukan gunanya pasukan mu kita bawa. Ibu yakin kok mereka pasti takut melihat anak ibu ini kalau sudah pakai seragam.” Sekar tampak tersenyum menggoda sang anak.


Kevin diam memikirkan ucapan sang ibu. Sebab desa tempat Nina tinggal termasuk desa yang bahaya. Beberapa orang desa yang ingin menguasai tempat itu seolah menjadi musuh bagi para tentara termasuk Kevin dan kelompoknya.

__ADS_1


Namun, melihat semangat dari sang ibu rasanya Kevin tak sampai hati jika mematahkan semangat sang anak.


Ia pun memilih untuk mengiyakan saja. Sisanya akan ia pikirkan nanti saja.


Setelah di pikir-pikir pernikahan Nina tentu saja tidak sah di mata hukum sebab Jhon pasti sudah menggunakan indentitas palsu. Dan pernikahan mereka hanya sah di mata agama.


Kevin baru menyadari hal itu.


“Yasudah ayo mending kamu temanin Nina di toko. Ibu mau istirahat dulu.” Sekar pun berlalu pergi meninggalkan sang anak yang terbengong mendengar perintahnya.


Kevin memperhatikan penampilannya yang maco, membayangkan merangkai bunga sungguh menggelikkan.


“Kenapa harus bunga sih, Bu?” tanyanya dengan suara kecil yang tidak di dengar oleh sang ibu.

__ADS_1


Sontak Kevin pun bergegas berganti pakaian tak ingin membiarkan Nina dalam bahaya jika di toko tanpa sang ibu. Jhon atau pun kedua orangtuanya bisa kapan saja datang dan memberi hukuman pada Nina.


__ADS_2