Mataharinya Desa Dan Sang Tentara

Mataharinya Desa Dan Sang Tentara
Keputusan Besar


__ADS_3

Kepulangan sang suami justru membuat tubuh Nina terkulai lemas. Meski sedang sakit, Kevin benar-benar terlihat seperti orang baik-baik saja ketika melakukan adegan ranjang. Nina tak bisa berkata-kata melihat keganasan sang suami. Satu hari itu Kevin mengurung Nina sesekali memberinya jeda untuk melihat sang anak. Mungkin sebagai anak yang patuh, Regi mengerti jika kedua orangtuanya tengah melampiaskan rindu yang menggebu saat ini. Bayi tampan itu tampak menikmati tidurnya satu hari itu juga. Berada dalam pengawasan kedua nenek yang begitu sayang padanya membuat bayi itu nyaman.


"Abang, sudah yah? Lihat wajah abang sangat pucat saat ini." tutur Nina mengusap keringat di dahi sang suami usai mengalami pelepasan.


"Aku sangat merindukan mu, Nina. Di sana pikiranku ingin pulang terus. Membayangkan Regi pasti sudah sangat besar, tetapi ketika pulang justru aku harus sakit seperti ini." sesalnya yang tidak bisa menggendong sang anak.


Nina hanya tersenyum mendengar curhatan sang suami. Pikirnya selama ini ia saja yang menahan rindu dan sangat menginginkan sang suami pulang. Ternyata Kevin pun demikian. Di peluknya erat sang suami. Inilah resiko menjadi istri tentara. Harus siap di tinggal kapan pun.

__ADS_1


"Aku juga sangat rindu dengan abang. Bagaimana dengan rencana abang untuk keluar dari sana?" tanya Nina.


Ingatannya masih jelas tentang ucapan Kevin yang ingin pensiun dini dan beralih menjadi pengusaha saja. Sebab berdampingan dengan istri dan anak membuat Kevin tak bisa lagi proofesional seperti sebelumnya. Ia begitu lemah ketika di hadapkan dengan tangisan sang ibu dan Nina. Jujur selama ini ia ingin sekali mengakhiri kerjanya melihat sang ibu yang terus terpuruk. Namun, jiwanya untuk meneruskan kerjaan sang ayah begitu besar. Hingga Kevin merasa rapuh ketika tak bisa mendampingi sang istri untuk persalinan. Rasa bersalah yang kian terus menyergap hatinya membuat Kevin mantap untuk mengakhiri masa kerjanya untuk mengabdi pada negara.


Di tariknya tubuh polos wanita cantik itu masuk ke dekapannya, Kevin mengecup kening sang istri. "Abang akan segera mengajukan. Yang terpenting kemarin adalah terakhir untuk abang berangkat meninggalkan kalian semua." senyuman mengembang indah di wajah Nina.


Ketampanan Kevin terlihat berkali-kali lipat ketika mengenakan seragam loreng itu. Nina selalu jatuh hati melihat penampilan sang suami yang begitu tampan.

__ADS_1


***


Dan di sinilah seorang pria tampan mantan prajurit TNI itu berdiri. Sebuah perusahaan yang semula di kelola oleh orang-orang kepercayaan sang ayah. Kini ia sudah menduduki kursi kebesaran dimana masa pengabdiannya telah berakhir dengan melewati banyak persyaratan yang harus di lakukan.


Jas mahal telah membalut rapi tubuh tinggi tegap itu. Kevin menatap hamparan gedung-gedung tinggi yang sama dengan harapannya saat ini sangat tinggi. Siang ini adalah hari dimana ia akan berdiri di ruang meeting para pemegang saham untuk mengumumkan dirinya yang akan kembali bergabung menggantikan sang ayah.


"Pak Kevin, semua sudah siap di ruang meeting. Bapak bisa segera ke ruangan, mari." ucap sang asisten pria yang memasuki ruangan sang tuan saat itu

__ADS_1


__ADS_2