Mataharinya Desa Dan Sang Tentara

Mataharinya Desa Dan Sang Tentara
Pilihan Kevin


__ADS_3

Lama menjadi abdi negara rasanya Kevin tak percaya jika dirinya berdiri di sini menjadi pemimpin di perusahaannya sendiri. Tatapan semua orang yang ada di ruangan itu terfokus padanya mendengarkan satu persatu point yang di ucapkan oleh Kevin. Pria itu nampak sangat serius hingga tak satu pun berani bersuara saat ini. Dimana sosok wanita ternyata sudah menunggunya di dalam ruang kerja. Sungguh Nina terasa sangat bernapas lega saat ini. Ia menggendong sang anak menunggu sang suami keluar dari ruang meeting.


Selang beberapa menit kemudian akhirnya terlihat wajah tampan pria berjas mahal itu membuat bibir Nina melengkung tersenyum. Ia melangkah memeluk sang suami dengan perasaan begitu lega.


“Terimakasih abang.” ujar Nina memeluk erat tubuh kekar sang suami.


Pelukan yang sangat terasa bahagia di rasakan wanita itu hingga tersalur ke sang suami.


“Jangan berterimakasih, Nina. Abang yang seharusnya terimakasih padamu. Abang sudah memiliki keluarga yang sangat bahagia saat ini. Semangat abang untuk menyayangi nyawa jauh lebih besar saat ini. Minggu depan siap kan kita bulan madu?” Merona kedua pipi Nina mendengar ucapan sang suami. Dimana ia pun sangat tak percaya jika di pernikahan keduanya ia bisa mendapatkan suami yang sangat penyayang.

__ADS_1


Tak ada jawaban yang Nina berikan selain anggukan kepala yang Kevin lihat. Di kecupnya dalam kening Nina hingga wanita anak satu itu memejamkan matanya.


Keduanya makan siang bersama di restauran dengan bekal yang Nina bawakan tetap di bawa oleh Kevin.


“Bang, kita kan bisa makan siang di kantor abang saja. Kenapa harus ke restauran mahal ini sih?” Tentu saja Nina sangat tahu sebab ia melihat bangunan megah dan para pengunjungnya rata-rata memiliki mobil dan penampilan yang mewah.


Kevin gemas sekali mendengar ucapan sang istri. Pria itu hanya senyum tanpa menjawab.


“Abang, makanlah.” ujar Nina terdiam saat bibirnya terbungkam dengan suapan sang suami.

__ADS_1


Kevin tak segan menyuapi sang istri. Ia begitu menikmati perannya sebagai seorang suami dan ayah. Nina tak hentinya mengucap syukur dalam hati bisa menikah dengan Kevin.


Sejak hari itu menjadi pengusaha, pernikahan keduanya berjalan begitu bahagia. Nina menjadi Nyonya dari seorang mantan prajurit tentu begitu banyak di hormati orang sekeliling. Ia selalu tak lupa dengan tugasnya selama satu minggu membawakan makan siang sang suami.


Hingga tiba waktu yang di janjikan oleh Kevin dimana mereka kini berada di pesawat dengan sang anak yang tetap ikut. Sekar dan Riana bahkan meminta untuk Nina meninggalkan anaknya dan di jaga oleh mereka. Namun, Kevin justru menolak keras. Ia akan tetap membawa sang anak pergi bulan madu. Inilah yang memang harus ia terima menjadi ayah sambung dari anak Nina.


Sekar memeluk sang besan saat menyaksikan pesawat yang Nina dan Kevin naiki. Anaknya telah bahagia memiliki seorang istri dan anak. Sungguh tak pernah ia bayangkan jika akhirnya Kevin akan memilih jalan seperti ini. Ia menghentikan kerjaannya yang sudah ia pilih sejak awal demi sebuah keluarga kecil.


“Terimakasih, Bu. Terimakasih telah menerima Nina dengan ikhlas dan tulus.” ujar Riana menatap sendu wanita seusia di depannya.

__ADS_1


“Terimakasih juga sudah membuat Kevin memilih jalan ini berkat adanya Nina. Saya benar-benar sangat bersyukur, Bu.”


__ADS_2