Mataharinya Desa Dan Sang Tentara

Mataharinya Desa Dan Sang Tentara
Kembalinya Sang Kekasih


__ADS_3

Sudah satu minggu kelahiran sang buah hati, dimana Nina sudah kembali ke rumah Bu Sekar saat ini. Ada perasaan bahagia yang ingin sekali ia ungkapkan, namun sesuatu yang mengganjal di hatinya terasa sangat sesak. Kevin tak kunjung pulang dan ketakutannya akan hal buruk menimpa pria itu terus mengusik pikiran Nina setiap harinya. Di sini ia duduk memangku sang anak, kegiatan rutin selama beberapa hari setiap pagi membawa sang anak berjemur.


Melihat hal itu, Riana turut merasakan sedih yang di rasakan anaknya. Nina memang gadis yang baik dan tak banyak bicara. Apa pun yang ia alami selalu ia pendam sendiri. Namun, sebagai seorang ibu yang melahirkan Riana tentu saja paham jika Nina sedang bersedih.


"Sini cucu ibu, mau ibu gendong juga kan Regi? Iya nak?" Riana membuyarkan lamunan Nina saat itu. Ia seketika tersenyum melihat sang ibu yang datang menyapanya dan anaknya.


Regi Aprilio nama yang Kevin titipkan pada Nina sebelum ia berangkat bertugas. Nina pun merasa tak keberatan sama sekali dengan nama yang Kevin berikan.


"Ayah apa kabar yah, Bu?" tiba-tiba saja Nina teringat dengan sang ayah yang entah bagaimana saat ini kabarnya.


Riana yang mendengarnya pun justru menghela napas kasar. Ia justru tersenyum-senyum pada sang cucu yang ada di gendongannya saat ini. Sedangkan Nina masih duduk membiarkan Regi dalam gendongan sang ibu.


"Jangan berpikir ayahmu akan luluh hanya karena kehadiran Regi, Nina. Ibu sudah sangat tahu watak ayahmu itu. Sudah sebaiknya kalian fokus menata masa depan. Ayahmu dan adikmu itu sudah pantas mendapat hukuman dari Pak Kevin. Beruntung ada dia, kalau tidak entah ibu sendiri tidak tahu apa yang terjadi denganmu dan juga Regi."


Riana benar sebab sang suami begitu marah dengan Nina karena mempertahankan janin yang ada di perutnya.

__ADS_1


"Assalamualaiku." Nina dan Riana sama-sama menoleh ke sumber suara, dimana seorang pria memakai tas ransel berdiri tegak di belang mereka. Entah dari mana datangnya yang jelas mereka sangat-sangat terkejut. Tak kuasa menahan khawatirnya Nina berangsur berdiri dan lari memeluk pria itu.


"Abang!" serunya masuk ke dalam pelukan Kevin. Dada yang beberapa hari ini sesak sebab memikirkan orang yang di depannya saat ini tanpa bisa berbagi pada siapa pun akhirnya terlepas juga.


Nina sampai tidak sadar jika air matanya berjatuhan di dada Kevin. Yah, pria yang datang barusan adalah Kevin. Pria itu membalas pelukan Nina tak kalah eratnya. Sungguh sedih sekali rasanya melihat ada bayi di depannya saat ini yang tak sempat ia tunggu kelahirannya.


"Maafkan Abang, Nina. Abang benar-benar tidak bisa menolak tugas saat itu sampai membiarkan mu melahirkan sendiri." tutur Kevin yang mengusap air mata di wajah Nina.


Riana tersenyum melihat keduanya begitu sangat dekat. Mereka benar-benar pasangan serasi di mata Riana. Pelukan Nina dan Kevin akhirnya terlepas kala Sekar datang dengan dehemannya di iringi senyum bahagia.


"Sekarang kalau datang yang di peluk bukan ibu lagi yah, Vin? Sudah ada gantinya nih ibu." Ujarnya mengejek sang anak dan juga Nina. Mendengar hal itu Nina hanya bisa menunduk malu.


Mereka semua tertawa bersama hingga memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Kedatangan Kevin dan kehadiran Regi benar-benar menjadi pewarna di keluarga Sekar. Ia sangat bahagia rumahnya menjadi ramai seperti ini.


Meja makan kini menjadi tujuan mereka semua untuk sarapan. Riana yang membantu Sekar memasak saat pagi tadi tampak menghidangkan makanan yang sehat dan meggugah selera Kevin. "Wah sarapannya enak banget ini, Bu?" ujar Kevin tak sabar menyantap makanan.

__ADS_1


Regi yang ada di gendongan pria itu saat ini sudah ia letakkan di box bayi ketika di pastikan sudah tertidur lelap lagi.


"Vin, jadi kapan kalian akan mengurus pernikahan kalian?" Pertanyaan Sekar sontak membuat Nina tersedar makanan.


"Pelan-pelan, Nina." ujar Riana memberikan minum pada sang anak.


"Besok aku akan mengambil berkas yang harus di lengkapi dari kantor, Bu. Secepatnya akan segera di laksanakan." tutur Kevin yang tak mau lagi di tunda-tunda. Sebab ia takut jika panggilan ke medan perang kembali ia dapatkan sebelum menikahi Nina.


"Malam ini bisa kan kita pergi bertiga keluar dengan Regi?" tanya Kevin menatap Nina yang makan dengan wajah menunduk malu,.


Semua menatap Nina saat mendengar ajakan Kevin. Yah, setidaknya mereka memiliki waktu untuk berbicara serius di luar tanpa ada gangguan dari kedua ibunya. Tak banyak yang di lakukan Nina selain mengangguk saja.


Sedangkan di tempat lain kini Bara dan Faris saling berbincang di dalam sel bawah tanah. Ruangan itu begitu minim pencahayaan. Hanya lampu yang tidak begitu terang di gantung di atas sana.


"Ayah, kita harus lakukan sesuatu. Aku tidak mau di penjara seperti ini sampai mati. Aku masih ingin hidup bebas." ujar Bara yang tak mau lagi mengikuti jejak sang ayah.

__ADS_1


"Sudah diamlah, Bara. Kamu jangan seperti anak kecil yang merengek seperti itu. Ayah sedang berpikir apa yang harus kita lakukan agar di bebaskan dari sini." ujar Faris berpikir keras.


Mengingat kata-kata Kevin jika pria itu tidak akan melepaskan mereka selama ini sendiri belum yakin untuk melepasnya. Itu artinya apa pun yang Faris dan Bara lakukan tak akan merubah keputusan Kevin.


__ADS_2