
Malam ini adalah malam kedua kepergian Kevin bertugas. Berkali-kali pria itu pergi bahkan berbulan-bulan baru kembali, namun inilah momen yang paling mendebarkan bagi Sekar dan seisi rumah. Firasat yang tak enak mereka rasakan dari hari ke hari. Begitu pula dengan Nina yang juga merasakan ketakutan luar biasa. Namun, sebisa mungkin ia menyembunyikan agar tak menambah kecemasan Bu Sekar.
Usai makan malam, mereka pun duduk menonton televisi sembari menunggu mata masing-masing mengantuk. Hingga tepat jam sepuluh malam lebih lima belas menit, Nina mengajak Bu Sekar istirahat.
“Bu, ayo Nina malam ini mau tidur sama ibu boleh? Lagi kangen kamar ibu rasanya.” tuturnya yang beralasan. Beruntung dulunya Nina memang sering tidur di kamar Bu Sekar untuk mengisi kesunyian kamar wanita paruh baya itu.
“Nina, ada ibu kamu loh. Ibu tidak apa-apa kok.” ujar Sekar yang tak enak.
Seharusnya Nina justru menemani ibunya sendiri. Riana yang mendengar ucapan Sekar pun terkekeh.
“Saya sudah biasa tidur tanpa Nina, Bu. Malah aneh rasanya kalau tidurnya berdua Nina.” ujarnya beralasan.
Mendengar ucapan sang ibu, Nina pun memberi kode pada ibunya untuk mengerti. Riana tentu saja paham dan sangat tidak keberatan. Ia paham jika Sekar sedang butuh teman agar tidak larut dalam kesedihannya.
“Terimakasih yah, Nina.” tutur Bu Sekar memegang tangan Nina yang memegang lengannya. Nina penuh perhatian menuntunnya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Dari belakang, Riana terharu melihat kelembutan sang anak. Ia sedih mengingat kejadian yang begitu menyesakkan dada. Nina tidak seharusnya mendapatkan kemarahan sang suami. Ia gadis penurut tak pernah membantah siapa pun.
“Malang sekali nasibmu, Nak. Semoga takdir baik berpihak padamu.” gumamnya.
Tanpa ia ketahui jika dalang dari semua penderitaan sang anak kini tengah berdebat di luar rumah yang ia tinggali saat ini.
“Keluar kalian!” Faris berteriak tanpa perduli tubuhnya yang di pegang oleh security.
Para anggota Kevin masih belum ada yang bergerak sebab Faris belum tiba di depan gerbang rumah Kevin. Pria itu baru berhasil menerobos portal keamanan dengan beberapa anak buahnya yang menyerang security. Tentu saja tidak semudah yang ia pikir. Security dengan gerakan cepat mengumpulkan temannya dan menahan mereka.
Bukannya takut mendengar ucapan security, Faris justru terkekeh.
“Apa-apa polisi. Kalian tidak malu bersembunyi di ketiak mereka, hah? Aku bisa bayar berapa pun. Aku tidak takut pada siapa pun. Tahu kalian?” Geram ia memukul salah satu dari security itu.
Para anggota Kevin pun segera bergerak kala mengetahui tindakan anarkis dari Faris. Mereka langsung menangkap semua anggota dari desa itu dan mengikat di depan gerbang Kevin. Setidaknya dengan begitu pekerjaan mereka akan jauh lebih ringan sampai Kevin datang.
__ADS_1
“Kurang ajar kalian. Lepaskan saya!” Faris dan Bara terus berteriak marah. Mereka benar-benar tak perduli jika menjadi tontonan beberapa orang yang lewat.
Suara keributan itu tentu saja menyita perhatian Riana yang belum masuk ke kamarnya.
“Kok ada suara teriak-teriak yah?” tanyanya pada pelayan yang ikut nonton bersamanya.
“Mba, coba tvnya di matikan dulu.” ujarnya.
Benar dugaan Riana, saat tv di matikan suara bariton terdengar sangat ribut. Namun, itu hanya terdengar sampai ruang tengah saja. Tidak dengan kamar Sekar.
“Mba temani saya cek keluar yah? Atau kita intip di jendela saja?” ujar Riana yang mengingat pesan Kevin sebelum pergi.
Mendengar ucapan Riana, segera pelayan menyela. “Jangan ibu, biar saya telepon security depan saja. Bahaya kalau kita buka pintu rumah ternyata ada penjahat.”
Riana mendengar kata penjahat pun hanya mengangguk saja. “Penjahat itu pasti suami saya, Mba.” gumamnya dalam hati tanpa berniat mengakui sang suami pada pelayan.
__ADS_1
Riana merasa malu sejujurnya memiliku suami yang begitu arogan. Namun, bagaimana pun Faris. Pria itu adalah pria yang sudah bertahun-tahun dengannya hingga mendapatkan dua anak.