Mataharinya Desa Dan Sang Tentara

Mataharinya Desa Dan Sang Tentara
Perpisahan


__ADS_3

Rasanya waktu begitu sangat singkat. Sedih rasanya baru saja tiga hari lalu menikah dan menjalani status sebagai seorang istri, kini sudah saatnya bagi Nina melepas kepergian sang suami. Matanya berkaca-kaca saat menyaksikan sang suami memakai seragam kebanggaannya berdiri menghadap kaca di depan sana. Pantulan yang sangat sempurna di pagi ini. Nina mengangumi semua yanga ada pada diri sang suami. Ketampanan, tinggi tubuhnya dan masih banyak lagi. Tak rela rasanya berpisah dalam waktu secepat ini. Hingga lama wanita itu terdiam. Kevin pun sadar melihat tatapan nanar sang istri. Jika bisa di katakan dirinya pun juga merasa berat untuk pergi. Masih banyak hal yang ingin ia lakukan bersama sang istri, seperti bergadang semalaman untuk melepaskan hasrat mungkin, tidak hanya itu saja. Mereka bahkan belum banyak menghabiskan waktu bersama dengan sang baby.


"Jangan sedih seperti ini, Nina. Abang akan segera pulang. Ini tidak akan lama kok. Abang janji denganmu. Kita akan liburan bersama." Di peluknya erat tubuh sang istri.


Kevin berkali-kali mendaratkan kecupan di kening sang istri, dan hal itu sukses membuat air mata Nina jatuh dengan sendirinya. Wajah cantik itu ia tenggelamkan ke dada bidang sang suami.


"Cepat pulang yah, Bang." ujar Nina yang mendapat sambutan sentuhan bibir dari Kevin.


Pria itu menyempatkan diri untuk menikmati bibir ranum sang istri, sayang hal itu tak bisa berhenti begitu saja. Sebab jiwa pengantin baru nyatanya masih melekat begitu eratnya di tubuh mereka.

__ADS_1


"Boleh Abang minta lagi, Nina?" tanyanya dengan napas yang berat. Ada gejolak yang ingin pria itu tuntaskan saat itu juga dan Nina sangat paham segera menganggukkan kepala.


Sebab ia pun juga menginginkan sentuhan dari sang suami sebagai bekal rindu untuk waktu yang masih belum bisa di pastikan berakhir kapan.


Keduanya melakukan penyatuan pagi itu dengan waktu yang cukup singkat sebab keberangkatan Kevin sudah sangat mepet. Ia harus segera berangkat saat itu juga.


"Ini Kevin sama Nina kok nggak turun-turun sih? Anaknya sudah gelisah mau nen kayaknya." ujar Riana yang mencari sang anak. Sang cucu di gendongannya suda memiringkan wajah ke arah sumber makannya. Sayang, yang menggendong saat ini adalah sang nenek.


"Umur sudah bau tanah gini nggak mungkin mikir punya anak. Lagian mau punya anak sama siapa? Suami saja nggak tahu dimana sekarang." ujar Riana yang tak mengurus sang suami yang begitu jahat padanya.

__ADS_1


Tinggal dengan sang menantu dan besan nyatanya jauh lebih nyaman dan aman. Toh mereka juga senang rumah terasa ramai seperti ini.


"Nah itu mereka turun juga. Nina, lihat anakmu kehausan ini." sahut Riana segera menyusul.


"Jangan cuman ingat ngasih susu ke suami, Nin. Lihat anakmu kasihan." ujar Sekar menimpali dan itu sukses membuat Nina menunduk malu.


"Ibu," tegur Kevin yang tak sampai hati sang istri merasa malu seperti itu. Sekar pun terkekeh lucu tanpa meminta maaf.


Mereka semua sarapan bersama dan kini akhirnya Kevin memeluk begitu erat Nina yang menggendong sang anak. Kembali Nina menangis melihat sang suami yang akan pergi.

__ADS_1


"Sayang, tenanglah. Jangan menangis lagi." ujar Kevin yang tak mendapat ucapan apa pun dari sang istri. Mereka semua sedih saat melihat Kevin di jemput oleh juniornya. Pria tampan itu bahkan sempat melambaikan tangan kembali pada Nina yang membuat wanita itu tersenyum dan menangis bersamaan.


"Sabar, Nina. Kamu kuat." ujar Sekar mengusap punggung sang menantu. Sedih rasanya melihat mereka yang baru saja nikah sudah harus berpisah kembali.


__ADS_2