
Perjalanan menuju ke arah desa saat ini begitu membuat Nina sangat ketakutan. Genggaman tangan Sekar pada tangannya bahkan tak berarti apa pun saat ini. Ketakutan pada sang ayah membuatnya tak tahu harus bagaimana saat ini. Nina menahan tubuhnya yang gemetar sepanjang jalan. Mobil Kevin berjalan di tengah-tengah di antara beberapa mobil yang juga mengawal perjalanan mereka.
Beberapa jalanan rusak mulai mereka lewati yang artinya mobil mereka akan segera tiba di desa tempat Nina. Di mobil lainnya Jhon juga duduk bersama kedua orangtuanya untuk bertanggung jawab atas perbuatan mereka pada keluarga Nina.
“Yang tenang. Kevin akan menyelesaikan semuanya kok. Kamu jangan cemas.” Sekar menggenggam tangan Nina yang terasa begitu dingin.
“Ayah itu orangnya nekat sekali, Bu. Saya bukan takut untuk diri saya sendiri. Tapi, saya takut jika ayah melukai ibu dan juga semua orang yang membantu kita.”
Di belakang Nina yang berbicara seketika membuat Kevin angkat suara.
“Hanya orang-orang yang membantu? Kamu tidak takut dengan nyawa saya yang terancam?” tanya Kevin tampak kesal pada Nina yang tidak khawatir dengannya.
__ADS_1
Lagi lagi Sekar menggeleng mendengar sang anak yang sempatnya memikirkan hati di tengah keadaan sedang genting seperti ini.
Jalan mobil pun kini mulai melambat saat pemukiman para warga sudah mulai terlihat. Dan Nina sangat hapal rumah-rumah yang berada di pinggir jalan itu. Mereka semua adalah keluarga Nina yang memiliki tanah paling luas dan di sisi jalan. Yang artinya harganya jauh lebih tinggi dari pemukiman warga lainnya.
“Ada apa ini?”
“Wah mobil pasukan. Ini pasti ada masalah besar.” Begitulah hebohnya warga bertanya-tanya.
“Ayah, ada apa ini? Mereka semua siapa?” Riana nampak berlari mendekati sang suami.
Kini wanita itu keluar dengan mata sembab dan tubuh kurusnya yang berubah drastis sejak kepergian Nina yang di nyatakan tiada lagi oleh suaminya sendiri.
__ADS_1
“Heh paling pasukan yang ingin menguasai desa ini. Tidak akan ku biarkan mereka.” Faris berdiri dengan membawa parang panjangnya. Ia tak lupa memanggil orang-orangnya yang tengah berkumpul di halaman belakang.
Seperti yang Nina tahu jika sang ayah memang sangat banyak memiliki pasukan.
Satu persatu pria berseragam loreng itu turun dari mobil. Mereka menunggu mobil yang lain juga terbuka dan membentuk barisan. Dimana di tengah-tengah barisan itu nampak seorang pria dengan tubuh tegapnya berdiri menggenggam tangan wanita cantik yang sudah berbeda penampilan. Meski tak berdandan sekali pun, Nina nampak jauh lebih bersih. Bahkan pakaian yang ia pakai milik Sekar di waktu tubuhnya masih kecil sangat cantik.
“Ni-nina?” Riana berucap dengan membungkam bibirnya yang bergetar. Air mata wanita itu jatuh tanpa henti. Senyum di bibirnya membuat Nina sangat sedih. Sang ibu sangat kurus, Nina tahu ini aemua karena dirinya yang pergi.
“Dia ibuku…jangan sakiti dia, Pak.” bisik Nina memberi permohonan pada Kevin.
“Siapa yang mau menyakiti? Kita kesini untuk menyelesaikan masalah.” sahut Kevin.
__ADS_1