
Suasana yang membuat ketegangan beberapa waktu akhirnya terjawab juga hari ini. Sebuah rumah sakit yang berdiri atas nama tentara menjadi tempat Kevin dan beberapa anggotanya terbaring tidak sadarkan diri. Sekar pun menangis meraung melihat keadaan sang anak yang berada di ruangan ICU tidak sadarkan diri. Di sebelahnya gadis yang tak lain adalah Nina juga ikut meneteskan air mata melihat keadan Kevin. Pria yang sebelumnya sudah menyatakan keinginan untuk menikahinya usai melahirkan. Tentu saja ia sedih, bohong jika tinggal sekian lama dan selalu mendapat perlindungan dari Kevin, hati Nina tidak tersentuh.
"Kevin," Sekar menatap sang anak dari kejauhan. Saat ini Kevin belum bisa di jenguk.
"Bu, ayo duduk dulu. Ini ibu minum dulu." Nina membawa Sekar duduk. Ia takut jika keadaan Sekar akan lemas dan akan membuat keadaan semakin sulit nantinya.
"Nina, ini minum juga untukmu." Riana memberikan sang anak juga minum.
Di peluknya Sekar yang tengah rapuh. Wanita paruh baya itu merasakan takut yang luar biasa. Ia sangat takut merasakan kematian akan menghampiri sang anak. Hal yang sama saat ini terjadi pada sang suami beberapa tahun lalu. Dimana suaminya pulang di tangani di rumah sakit dan tidak bisa di selamatkan.
Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu hingga satu malam mereka masih duduk menunggu keadaan Kevin yang tak kunjung sadar. Kini waktu sudah menunjuk pada angka sepuluh malam di mana ruang tunggu terasa semakin dingin. Nina melihat keadaan Sekar yang semakin pucat.
"Bu, kalian pulang saja. Sekalian bawa Bu Sekar yah? Biar Pak Kevin Nina yang jaga di sini." ujarnya pada sang ibu.
__ADS_1
Bagaimana pun Kevin dan sang ibu sudah begitu banyak membantunya dan inilah rasanya waktu yang tepat untuk Nina membalas budi baik mereka. Riana melihat sang anak dengan tatapan tak tega.
"Nina, kamu sedang hamil, Nak. Biar Ibu saja yang jaga di sini. Nanti ibu akan kabari..." Belum sempat Riana menyelesaikan ucapannya, Nina sudah menyela.
"Bu, Nina tidak apa-apa kok. Ibu saja yang pulang dengan Bu Sekar. Besok gantian Nina yang pulang." ujarnya mencari alasan. Setelah lama Riana berpikir akhirnya dengan berat hati ia menyetujui sang anak.
Dua wanita paruh baya itu akhirnya pulang meninggalkan Nina sendiri di rumah sakit. Meski awalnya Sekar pun tidak ingin pergi, namun melihat Nina yang bisa di percaya ia pun terpaksa pergi sebab kepalanya memang sangat pusing karena kurang tidur beberapa hari ini.
Saat mereka tiba di rumah, Sekar dan Riana tak lagi melihat sekumpulan orang desa yang di ikat di depan pagar rumah itu. Entah kemana para anak buah Kevin membawa mereka. Yang jelas keadaan rumah sudah nampak sepi seperti biasanya. Hanya ada seorang security yang berjaga malam ini.
Air matanya jatuh melihat pria tampan yang tak terlihat jelas wajahnya sebab begitu banyak perban di seluruh wajah dan tubuhnya saat ini. Rasanya sangat sedih melihat pria yang selalu menampakkan wajah tegasnya kini terbaring lemah.
"Pak Kevin, segeralah sembuh. Sadarlah, Pak. Saya akan menjaga bapak selama bapak sakit. Saya berjanji akan merawat bapak dengan baik seperti kalian yang menolong saya selama ini. Jangan tinggalkan kami, Pak. Kami tidak tahu harus meminta perlindungan pada siapa lagi jika bapak tak ada." suara tangisan Nina saat itu tak mendapat respon apa pun dari Kevin.
__ADS_1
Hanya air mata yang menetes dari sudut mata Kevin saat itu. Entah apa arti air mata yang jatuh itu. Apakah karena sakit atau karena sedih mendengar ucapan Nina. Hanya Kevin yang tahu saat ini. Nina mengusap sangat pelan punggung tangan Kevin sembari terisak. Tak lama setelah itu dokter pun terdengar meminta Nina untuk keluar.
Satu malaman Nina tidur di kursi sambil duduk. Tangannya mengusap perutnya di bawah sana memohon untuk sang anak tetap sabar.
"Nak, sabar dan kuat yah. Beliau adalah orang baik. Kita harus bisa membalas Pak Kevin dengan kebaikan juga. Dia penyelamat kita, Sayang. Besok ibu akan membawamu istirahat sebentar di rumah yah?" Nina memohon pada anaknya untuk kali ini.
Jujur Nina pun merasa tak tega dengan janin di perutnya yang ia bawa untuk tidur dengan udara yang dingin. Namun, Nina sadar jika dirinya satu-satunya yang bisa di harapkan. Jangan sampai meminta Bu Sekar untuk menjaga Kevin dan berakhir wanita itu akan jatuh sakit juga.
Di depan sana juga beberapa anggota keluarga darii tentara lainnya turut menjaga suami mereka dan keluarga mereka yang menjadi korban. Ada yang tertidur, ada yang menangis ada yang diam melamun. Nina bisa merasakan bagaimana sakitnya menjadi mereka melihat orang yang paling di sayang terbaring koma di dalam sana.
Dua anggota tentara pun datang membawa makan dan minuman hangat untuk di bagikan pada keluarga yang menunggu keluarga mereka di ICU. Termasuk Nina, ia mendapatkan teh hangat dan roti serta makan satu bungkus. Sungguh, kekeluargaan mereka begitu erat terasa.
"Terimakasih, Pak." ujar Nina tersenyum.
__ADS_1
"Aku akan menjaga Bapak dan memastikan bapak sembuh. Pak Kevin jangan khawatir, saya akan merawat Pak Kevin dengan baik. Saya janji itu." tutur Nina dalam hatinya.