
Nina yang di kamar pun terdiam membisu mendengar ucapan sang calon suami yang mengatakan jika besok adalah hari pernikahan mereka. Kevin paham, semua begitu mendadak dari yang mereka atur sebelumnya. Melihat sang calon istri yang terdiam, pria itu dengan pelan mendekati Nina lalu membawa kepala wanita bersandar pada dada bidangnya. Di usap lembut kepala Nina sembari ia mengumpulkan keberanian untuk mengatakan semuanya.
“Nina, tidak masalah bukan jika kita menikah besok? Semua sudah aku urus.” ujar Kevin lembut.
Nina mendongak menatap wajah tampan Kevin. Dimana saat ini ia tengah duduk di sisi ranjang.
“Apa sebabnya sampai harus memajukan pernikahan kita, Bang?” tanya Nina mencari tahu lebih dulu. Ia tak mau berkecil hati dengan pemikirannya jika hari yang sudah mereka pilih akan di ganti.
Sebelum berkata, Kevin memilih menarik napas lebih dalam lalu menghembuskan perlahan lagi.
“Abang akan berangkat empat hari lagi, Nina.” Pelukan pun terlepas saat itu juga. Nina mendorong pelan tubuh Kevin lalu menatapnya penuh tanya.
Melihat itu Kevin sontak menganggukkan kepala. “Iya, abang dapat perintah mendadak. Secepatnya abang akan pulang. Itu sebabnya abang mau pernikahan di langsungkan sebelum abang berangkat. Setidaknya abang sudah tenang jika wanita yang abang cintai sudah menjadi milik abang seutuhnya.”
__ADS_1
“Lalu bagaimana denganku, Bang? Milikku justru pergi meninggalkan aku.” tutur Nina nampak sedih.
Ini bukan perkara mudah. Dimana keduanya harus berpisah setelah baru saja bersatu dalam ikatan pernikahan, seharusnya mereka bisa menikmati momen indah ini yang tak akan pernah terulang lagi. Justru Kevin harus berangkat.
“Secepatnya abang akan pulang. Abang janji kita akan pergi berlibur dan kemungkinan abang akan mengajukan pensiun dini.” Wajah sedih Nina seketika berubah berbinar. Ia sungguh ingin mendengarnya sekali lagi.
Kevin tersenyum melihat binar indah di mata sang calon. Ia memeluk Nina kembali hingga akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu pun tiba.
Suasana haru hari itu telah tiba. Pernikahan yang sudah sah membuat Nina dan lainnya tampak tersenyum lega. Berbeda dengan sang ayah yang justru di pulangkan ke desa oleh para anak buah Kevin. Bukan di bebaskan, lebih tepatnya di jaga dari jarak jauh.
Tak ada sahutan dari pria paruh baya itu setelah mendengar ucapan sang menantu. Sungguh rasanya ia sangat malu di lihat banyak orang saat pernikahan Nina, ia di bawa dengan beberapa mobil mengawal ke desa. Begitu pula dengan adik Nina yang ikut di pulangkan.
Setidaknya hukuman ini sudah jauh lebih baik, dari pada mereka benar-benar di habisi oleh Kevin seperti yang pria itu katakan sebelumnya.
__ADS_1
“Terimakasih yah, Bang.” ujar Nina memeluk sang suami dengan senyum bahagianya.
Kini ia hidup dengan tenang tanpa rasa bersalah pada sang ayah. Sementara Riana pun memilih ikut tinggal dengan Nina dari pada harus kembali ke desa tersiksa bersama sang suami.
“Bu, kami titip si kecil yah? Bolehkan?” Kevin bertanya saat para tamu undangan pulang semua.
Riana dan Sekar tertawa cekikikan sementara Nina menunduk malu mendengar sang suami langsung bicara to the poin.
Yah seperti rencana jika setelah pernikahan mereka akan menghabiskan waktu bulan madu di salah satu hotel mewah. Hanya itu yang bisa Kevin berikan untuk saat ini. Mengingat waktu mereka sangat sedikit.
“Bu, susunya sudah Nina taruh semua di freezer. Nanti tinggal di hangatkan saja kok.”
Kedua wanita paruh baya itu dengan senang hati menjalankan tugas mereka momong cucu.
__ADS_1
Tak ada sedikit pun rasa enggan dari Sekar mengingat bayi yang ia gendong saat ini bukanlah anak dari Kevin.