
Pagi harinya Nina tampak bermain dengan bunga-bunga yang di tanam indah di taman rumah milik Kevin. Ia menarik beberapa rumput liar yang tumbuh dengan ukuran kecil. Rambut hitam panjang yang menjuntai begitu cantik meski terlihat dari arah belakang.
"Eh Nina, di cari di kamar tidak ada ternyata di sini kamu. Sedang apa? Itu tanaman milik Kevin." ujar Sekar memberi tahu Nina yang sampai terlonjak kaget mendengar sapaannya.
"Ibu..." ujarnya membalikkan tubuh.
Nina melihat ada segelas minuman hangat berwarna cokelat di tangan Sekar dan satu pasang roti tawar yang sudah berisi selai. Ia di ajak duduk santai di taman rumah pagi itu, rasanya rumah tampak berbeda hari ini. Sekar sangat senang melihat ia tak lagi sendirian. Jika biasanya wanita itu akan sibuk mengikuti para pelayan untuk bekerja di dapur demi mencari teman, kini tak lagi ia rasakan kesepian itu. Nina benar-benar hadir di tengah-tengah kesepiannya.
"Kamu suka dengan apa?" tanya Sekar mencari tahu sosok Nina yang belum begitu ia kenal.
"Seperti ibu lihat. Saya suka dengan bunga. Mereka begitu cantik-cantik." jawab Nina dengan senang.
__ADS_1
Keduanya muai berbincang melanjutkan obrolan semalam lagi.
Hari yang berlalu begitu cepat. Setiap pagi bahkan Sekar memiliki hoby baru untuk pergi ke pasar bersama Nina. Dan itu tentu saja membuat pekerjaan pelayan terasa ringan. Di siang hari mereka akan bersibuk ria membuat berbagai macam kue dengan jumlah sedikit. Seolah Nina mencari jenis kue yang akan menjadi kesukaan Sekar.
Hingga satu minggu berlalu, tak terasa kini Kevin sudah saatnya kembali ke rumah. Ia memilih untuk membelikan makanan sang ibu. Ketika mobil yang ia bawa terhenti di sebuah halaman rumah miliknya matanya termanjakan dengan pemandangan bunga yang tampak berbeda pot dari biasanya. Ada pemandangan pot besar yang baru dan unik-unik di sana. Bahkan beberapa bunga baru juga nampak bertambah. Senang, tentu saja sebagai penyuka bunga Kevin suka rumahnya menjadi lebih berwarna.
Inilah yang selalu ia inginkan ketika pulang melihat pemandangan yang segar sebab di hutan ia selalu bertemu dengan keusangan kayu-kayu yang ia pakai untuk tinggal.
Pelan ia melangkah memasuki rumah yang pintunya terbuka. Samar suara tawa dua wanita terdengar begitu seru hingga Kevin terus memasuki dan menuju ke dapur dimana suara itu berasal.
"Loh Tuan Kevin," sang pelayan yang kaget sontak membuat Nina dan Sekar terhenti dari tawa mereka. Pandangan mata keduanya tertuju pada sosok pria yang mengenakan seragam kebanggannya lengkap dengan sepatu hitam yang tinggi dan bisa Nina lihat itu pasti sangat berat.
__ADS_1
"Kevin, akhirnya kamu pulang juga. Sini Ibu lagi buat kue sama Nina." ujar Sekar mendekati sang anak.
Kevin pun lantas mencium punggung tangan sang ibu. Nina hanya diam kikuk tak berbicara apa pun padanya. Mereka semua menuju ke meja makan dimana kue berbagai macam telah terhidang dengan sangat menarik. Melihat itu tentu saja Kevin tak bisa berbohong. Ia begitu lapar dan menikmati satu demi satu kue yang masih hangat.
Nina tampak gugup sedangkan Sekar tersenyum melihat sang anak memakan satu demi satu. Sebab ia yakin ini pasti akan sangat di sukai oleh Kevin.
"Siapa yang membuatnya, Bu? Sebab setahu ku Ibu tidak suka membuat kue." ujar Kevin dengan frontalnya.
"Eh kamu ini asal bicara. Ibu suka kok buat kue asal ada temennya. Nina yang buat semua adonannya ibu hanya bantu buat cetak dan tunggu matangnya." tutur Sekar dengan tenangnya.
Sudah Kevin duga jika ini bukan hasil karya tangan sang ibu. Namun, rasa yang di tawarkan kue buatan Nina memang benar-benar enak.
__ADS_1
Pria itu pun mengisi perutnya dengan berbagai kue tanpa memakan nasi. Hingga akhirnya Sekar memintanya untuk membersihkan tubuh dulu. Nina yang sejak kedatangan Kevin hanya diam kikuk. Ia berpikir kemana setelah ini. Sebab kedatangan Kevin pertanda untuk dirinya harus mencari tempat tinggal di kota besar ini.
Sedih tentu saja ia merasa sedih meski baru beberapa hari bersama Bu Sekar, ia merasa sangat nyaman. Nina merasakan sedang bersama sang ibu di desa.