
Sejak ketuk palu hasil sidang perceraian sosok ayah tak lagi pernah Nina lihat. Entah kemana ia pergi bahkan Riana yang sedih dengan perpisahan itu tak bisa melakukan apa pun. Sang suami kekeuh ingin pisah lantaran ia merasa sudah gagal menjadi suami dan ayah. Bahkan seluruh tanah dan rumah sudah ia berikan nama sang istri dan Nina.
“Bu, jangan sedih yah? Ayah sudah baik tidak berlaku kasar pada kita lagi. Ayah ingin ibu bahagia.” Nina memeluk sang ibu dengan penuh pengertian.
Sejahat apa pun seorang suami, hidup bertahun-tahun dalam satu atap tentu tak mudah untuk bercerai begitu saja. Bahkan kini Riana sadar jika rasa cinta yang ia pikir sudah tak tersisa ternyata kembali timbul dan selama ini hanya tertutup dengan rasa takut akan kekerasan yang sang suami lakukan.
“Iya, ibu baik-baik saja kok. Ibu sudah senang bersama kalian di sini. Tapi, adikmu justru entah apa yang dia lakukan di luar sana. Ibu yakin Kevin pasti akan di buat pusing oleh anak itu.”
“Sudah ibu jangan cemaskan abang. Abang Kevin bukan pertama kali menghadapi anak nakal sepertinya, Bu. Bara pasti akan tunduk dengan abang.”
Kini Riana benar-benar menghabiskan waktunya sepanjang hari bersama anak dan cucu. Sesekali ia berjalan dengan sang besan untuk memanjakan diri.
Nina bersyukur melihat suaminya yang tak pernah membedakan antara ibu dan mertuanya. Kevin begitu memanjakan ketiga wanita yang ada di hidupnya saat ini.
“Nin, apa yang kamu lamunkan?” Malam itu Nina duduk di atas kasur dengan bersandar. Kini perutnya sudah kian besar.
__ADS_1
Kevin pun mengurangi kerjaan di luar rumah lantaran ingin antisipasi jika sang istri mengeluh sakit perutnya.
“Aku kepikiran adikku, Abang. Bagaimana dia?” pertanyaan Nina membuat Kevin tersenyum mendengarnya.
“Jangan cemas. Aku latih dengan keras bukan untuk menyiksa Bara kok. Setelah aku yakin dengannya, maka aku akan membawanya ke perusahaan untuk kerja dan lanjut sekolah sekaligus.”
Mendengar ucapan sang suami rasanya Nina tak kuasa menahan haru. Kevin begitu baik menerima semua kekurangan keluarganya. Ia memeluk tubuh sang suami yang berdiri di sisi ranjang dengan mengusap puncak kepalanya.
“Jangan banyak pikiran yah? Adiknya Regi nanti sedih juga.”
“Aku nggak banyak pikiran kok, Abang.”
“Adek mau ayah hibur juga nggak? Ayah ajak adek main mau kan? Kita main jungkat jungkit,” saat itu juga suara tawa keduanya terdengar menggema di kamar hingga berganti dengan suara erotis. Pertanda jika permainan yang di maksud Kevin adalah permainan panas di atas ranjang.
Hubungan keduanya memang sangat harmonis di tambah lagi sejak kehamilan kedua Nina dimana artinya Kevin menanti buah hati dari hasil jerih payahnya.
__ADS_1
Sedikit pun Nina merasa tak ada takut sekali pun atas suami yang akan membedakan kasih sayang antar kedua anaknya kelak. Sebab antara ibu dan mertua pun ia benar-benar adil.
Singkat cerita kebahagiaan yang terus Kevin berikan kini sudah mengantar Nina pada suasana yang begitu indah. Dimana ia sudah melahirkan buah hati yang begitu tampan untuk kedua kalinya.
Wajah yang sangat mirip dengan Kevin kali ini membuat Nina gemas dengan sang anak yang masih merah.
Tak lupa pemandangan di halaman rumah pagi itu sangat heboh. Ketika Regi tidak ingin mengalah untuk di gendong sang nenek. Ia terus merengek ingin di gendong Nina.
“Ayo Regi sama ayah saja yah?” Bocah kecil itu menggeleng. Dan berakhirlah Nina menggendong sang bayi serta Regi yang di tempelkan di punggung Nina oleh Kevin.
Semua terkekeh melihat kelucuan pagi itu. Akhirnya semua perjuangan pahit Nina dan Riana kini berakhir dengan tawa yang begitu bahagia. Keluarga kecil yang hidup bahagia itu tak sadar jika ada sepasang mata yang juga tersenyum melihatnya dari arah pagar yang bisa terlihat celah di dalam sana.
“Berbahagialah kalian semua. Aku juga senang melihatmu bahagia Nina, Riana.”
Langkah lebar itu bergerak menjauh meninggalkan area perumahan milik Kevin dengan senyum terlukis indah. Meski rasa penyesalan terus merasuki hatinya. Kini ia memilih untuk pergi meninggalkan semuanya tanpa beban lagi.
__ADS_1
“Terimakasih Tuhan, menghadirkan pendamping yang menyempurnakan segala kekuranganku ini.” Nina menatap penuh cinta suami yang pernah menjadi abdi negara itu.
TAMAT