Mataharinya Desa Dan Sang Tentara

Mataharinya Desa Dan Sang Tentara
Berterus Terang


__ADS_3

Tak terasa dua bulan sudah Nina berada di kediaman milik Kevin, wanita itu sudah mulai sibuk bekerja di toko bunga yang baru satu minggu lalu di buka. Yah, pemiliknya adalah Sekar ibu dari Kevin. Satu bulan lebih tentara itu pergi tak kunjung kembali. Dan saat itu pula Nina mulai membuat Bu Sekar cemas, sebab ia sering kali lari ke kamar mandi tiba-tiba untuk mengeluarkan isi perutnya. Nina mengalami morning sicknes. Di mana ia selalu tampak lemas di pagi hari usai terkuras tenaganya.


"Nina, kamu kenapa kok akhir-akhir ini sering muntah? Kita ke dokter yah?" tanya Sekar seraya memegang lengan wanita itu.


Ia takut jika Nina memiliki penyakit yang serius dan lambat di ketahui. Namun, Nina yang jauh lebih tahu apa yang terjadi padanya tentu saja tidak mau di bawa ke rumah sakit. Ia lebih memilih menggelengkan kepala menolak ajakan Bu Sekar.


"Tidak, Bu. Ini hanya penyakit magg saya saja yang kambuh. Di minumkan air hangat pasti akan sembuh lagi." Nina yang gugup segera meninggalkan Bu Sekar menuju kedepan.


Ia kembali menyibukkan diri dengan menata beberapa bunga yang baru tiba. Toko bunga itu hanya mereka berdua saja yang bekerja. Sebab, awal membuka Bu sekar belum begitu banyak mendapatkan pelanggan.  Di sini Nina mulai gelisah. Dari hitungannya saat ini kandungannya sudah berusia tiga bulan yang artinya sebentar lagi perutnya semakin menonjol.


"Huh baru saja hidupku tenang sekarang aku sudah harus memikirkan tempat tinggal lagi. Bu Sekar tidak mungkin mau menampung aku di rumahnya sedangkan aku sedang hamil. Statusku bahkan adalah istri orang. Bagaimana ini?" gumam Nina dalam hatinya.


Upahnya yang di berikan Bu Sekar memang tak pernah ia ambil dan Nina sudah merencanakan kepergiannya satu bulan lagi. Setidaknya ia bisa mendapatkan tempat tinggal dulu dan biaya hidup. Untuk biaya persalinan akan ia pikirkan kembali ke depannya.


Nina tidak sadar jika dari arah dalam Bu Sekar tampak memperhatikan Nina dengan cermat. Di tatapnya tubuh Nina dari atas hingga bawah.


"Apa iya hamil? Ah masa sih? Tapi semuanya sepertinya iya." gumam Bu Sekar dalam hati lagi.


Siang harinya mereka pun mulai kedatangan para pembeli bergantian. Sekar juga sibuk merangkai bunga dan Nina juga sibuk memilih bunga yang di tunjuk para customer. Keduanya di sibukkan dengan banyaknya pelanggan baru yang datang siang itu hingga malam.


"Mba, saya mau beli mawar merahnya di rangkai bentuk love yah?" Nina tampak menunduk, ia baru saja merapikan bunga yang sudah sedikit berantakan sebab ia ambil sedari siang. Dan mendengar suara pria datang membeli bunga, Nina pun segera mengambilnya seperti permintaan.


"Apa ada inisial yang ingin di letakkan di tengahnya, Pak?" tanya Nina masih sibuk memilihkan bunga mawar merah. Tanpa ia tahu jika pria yang di hadapannya tengah tersenyum memandangi wajah Nina yang menunduk sangat cantik.

__ADS_1


"Nina..." Suara pria itu membuat Nina tersentak kaget mendengar nama yang ingin di sematkan di tengah mawar merah pesanannya.


Sontak Nina menengadah menatapnya. "Pak Kevin?" Nina kaget dan terdiam mematung. Detik berikutnya ia pun sadar jika sedang berpikir yang membuatnya salah paham.


"Em maaf Pak, saya kaget. Lalu siapa inisial yang ingin di rangka di tengah mawar merah ini?" Nina pun kembali bertanya sebab ia mengira jika pria di hadapannya ini hanya menyapa namanya.


Kevin masih saja menatap Nina dengan tatapan dalamnya. Ia diam beberapa saat hingga membuat Nina salah tingkah. Wanita itu gelabakan menoleh kesana kemari bingung harus melakukan apa lagi.


"Nama di tengah bunga itu Nina." ujar Kevin kembali menyebut nama yang sama dengan Nina.


"Oh baik, Pak. Akan saya buatkan." ujar Nina nampak salah tingkah.


Meski nama yang di sebut Kevin adalah nama yang sama dengannya, Nina sadar ia tidak boleh berpikir jika itu adalah dirinya. Mungkin hanya kebetulan nama yang sama.


Beberapa menit setelahnya Nina pun datang menghampiri Kevin yang tengah berbincang-bincang dengan sang ibu usai berpelukan. Keduanya begitu menyedihkan ketika melepas rindu. Bahkan Nina merasa terharu dengan kasih sayang yang ada di antara mereka. Kevin sosok pria yang sangat menyayangi sang anak.


"Pak, permisi ini bunga yang anda minta." ujar Nina menyerahkan mawar merah berbentuk love dan mawar putih di tengahnya bertuliskan nama Nina.


Mulanya Bu Sekar mengernyitkan kening heran melihat nama yang tertulis di sana. Sementara Nina segera bergerak memutar tubuh hendak pergi dari sana.


"Mau kemana?" tanya Kevin datar menatap Nina yang terus menundukkan kepalanya. "Saya...mau juain orang lagi, Pak." jawab Nina dengan kikuk.


Saat itu Kevin masih diam. Ia bergerak menghadap sang ibu kembali. "Bu, bolehkah aku meminang wanita yang setia menemani ibu sepanjang hari? Wanita yang sangat ibu sukai ini?" Di saat itu juga Sekar dan Nina sama-sama mengangkat wajahnya tampak syok.

__ADS_1


Bukan tak suka, Sekar sangat suka mendengar hal ini. Namun, dugaannya barusan membuatnya ragu. Hingga akhirnya wanita paruh baya itu meyakini jika dirinya hanya terlalu berlebihan dalam berpikir pada Nina. Sedangkan Nina tergagap tak bisa bicara apa pun. Di lihatnya Kevin menatap sang ibu yang kini tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.


"Ibu setuju saja asal kamu bahagia, Vin." ujar Sekar mengusap kepala sang anak yang kini sudah tumbuh dewasa. Sosok pria yang begitu ia cintai setelah sang suami pergi.


Mendengar ucapan sang ibu, Kevin segera beralih menatap Nina. Ia sadar ini semua terlalu singkat. Dan Sekar pun tahu alasan sang anak melamar mendadak seperti ini. Selama bekerja, Kevin jarang bertahan lama di rumah. Ia akan sangat sering pergi keluar untuk menyelesaikan tugasnya di medan perang. Dan itu tentu tidak akan mudah bagi mereka berpisah. Kevin selalu merasa jika setiap berangkat bekerja ada tanda tanya besar yang bersarang di kepalanya. Apakah ia akan bisa kembali bertemu sang ibu lagi atau tidak?  Begitu pun dengan Sekar yang selalu mendoakan sang anak. Dalam lubuk hati yang paling dalam ada ketakutan jika itu adalah waktu terakhir sang anak ia lihat.


Air mata Sekar menetes jatuh saat itu juga melihat Kevin justru menyerahkan bunga yang baru Nina berikan padanya kembali ia berikan lagi. Nina diam mematung tanpa berkata apa pun.


"Menikahlah denganku. Menjadi istriku dan menjadi menantu untuk ibuku. Kau satu-satunya wanita yang ibu pilih untuk menemaninya. Dan aku percaya akan kebaikan mu, Nina." ujar Kevin membuat Nina berkaca-kaca menatapnya.


Ini adalah momen yang begitu indah Nina rasakan. Di pinang oleh pria tampan dan berhati lembut. Namun, Nina tahu dirinya bukanlah wanita yang pantas untuk seorang Kevin. Nina memiliki masa lalu yang buruk dan itu tidak mungkin bisa Kevin terima sebagai seorang tentara yang akan banyak hal mereka lalui sebelum pernikahan.


Sekar mengangguk saat Nina menatapnya. Berharap wanita itu akan memberikan jawaban yang sesuai dengan harapan mereka.


Namun, Nina justru dengan memejamkan mata menjatuhkan air matanya. Ia tak lagi bisa menyembunyikan ini semua. Nina menggerakkan tangan mengusap perutnya yang sedikit berisi. Kevin hanya diam tanpa tahu apa-apa. Sedangkan Sekar sudah membuka mulut syok mengetahui apa yang ia duga ternyata benar. Sekar yakin Nina akan mengatakan hal yang sama dengan yang ia pikirkan.


"Saya bukan wanita yang pantas menerima lamaran Bapak. Saya wanita hina yang mengandung anak dari pria brengsek." Nina menangis histeris saat itu juga.


Buru-buru Sekar pun bergegas meminta para pembeli bunga untuk bubar dengan permintaan maaf yang sangat besar ia menutup toko itu sementara waktu.


Tubuh Kevin lemas begitu saja mendengar ucapan Nina. Bunga yang ia pegang di depan Nina jatuh begitu saja. Kevin masih menggeleng seolah tak percaya dengan ucapan Nina.


"Apa yang kamu katakan, Nina? Itu kebohongan. Kau ingin menolakku dengan alasan tak masuk akal itu kan?" cecar Kevin sampai memegang kedua lengan Nina.

__ADS_1


Bagaimana mungkin niat yang sudah ia kumpul satu bulan ini selama di hutan sirna begitu saja. Kevin berulang kali bahkan meyakinkan dirinya untuk melamar Nina. Banyak pertimbangan yang ia pikirkan dari keluarga Nina yang kemungkinan akan sulit memberikan restu pada mereka.


__ADS_2