
Seperti ajakan Kevin sebelumnya, di sinilah Nina bersama sang anak malam ini. Makan bertiga dengan keadaan yang begitu tenang. Sebuah sky bar yang menampakkan keindahan malam hari di hotel mewah menjadi tempat pilihan Kevin. Ia akan meminta waktu untuk bicara serius dengan Nina. Wanita beranak satu itu terlihat tengah menikmati makanan yang super lezat menurutnya. Sesekali Kevin mengajak bercanda si bayi yang terbangun dari tidurnya.
“Percuma di ajak bicara, Abang. Dia kan masih terlalu kecil belum paham.” ujar Nina.
Kevin tak tega melihat Nina yang kesulitan makan, hingga akhirnya ia pun mengambil alih si baby ke dalam gendongannya. Berpikir mungkin akan sangat sulit tetapi dirinya memang harus belajar sebab anak Nina akan menjadi anaknya juga.
“Pelan-pelan, Bang.” ujar Nina sedikit ragu saat sang anak di gendong Kevin yang begitu nampak kaku.
“Nina, tangannya sepertinya kurang nyaman.” sahut Kevin yang menunjuk tangan bayi itu terhimpit tubuhnya.
Sejenak Nina gugup saat melihat itu. Apa artinya ia akan menyentuh tubuh pria itu demi mengambil tangan sang anak.
__ADS_1
“Nina?” Panggilan Kevin membuat Nina sadar ketika ia melamun.
“Ah iya, Bang.” jawabnya.
Benar apa yang dia pikirkan. Tangan Nina tak sengaja menyentuh dada bidang pria tampan di depannya ini. Keduanya tampak canggung setelah itu.
“Makanlah dulu.” pintah Kevin.
Meski tak enak hati, namun Nina tak mau mengundur waktu. Lebih cepat lebih baik jika dirinya makan dan cepat selesai agar Kevin juga bisa makan setelahnya.
Hingga akhirnya selesai makan malam itu, Kevin berdehem sejenak untuk menetralkan diri dari rasa canggungnya.
__ADS_1
“Nina, saya bertujuan mengajak kamu keluar malam ini karena niat saya yang ingin tahu apa kamu bersedia menjadi pendampingku?” Tanpa basa basi, itulah Kevin yang sebenarnya.
Nina terdiam sejenak mendengar ucapan pria di depannya saat ini. Tak tahu harus menjawab apa, sebab ini pertama kalinya ia berbicara mengenai hal yang serius seperti ini.
“A-apa abang serius juga bisa menerima anakku-“ belum selesai Nina berucap, Kevin sudah lebih dulu menyela kata-katanya.
“Dia anak kita. Bukan anakmu saja, Nina. Dari awal saya sudah katakan saya menerima semua yang ada pada diri mu dan juga hidupmu.” Nina beralih menatap sang anak yang nampak lelap di pangkuan Kevin saat ini.
Seorang bayi yang polos tentu tak akan pandai bertingkah di luar keinginannya. Ia akan sangat bisa merasakan kenyamanan dari orang yang tulus dengannya. Dan itulah yang harus Nina utamakan. Kebaikan Kevin selama ini pun tidak sepantasnya ia ragukan lagi.
“Iya, Bang. Saya bersedia menjadi penamping abang.” Kevin tersenyum menatap Nina yang menunduk malu saat ini.
__ADS_1
Keduanya malam itu pun lanjut membicarakan semua perihal pernikahan dan rencana hidup mereka ke depannya. Rasanya Kevin tak sabar untuk segera menjalani hari dimana ia menjadi seorang suami dan seorang ayah. Tentu rasanya sangat menyenangkan. Apalagi kepulangannya setiap kerja di sambut dengan mereka berdua.
Membayangkan hal itu Kevin sampai tersenyum-senyum sendiri saat di depan Nina.