
"Senyumannya bikin abang meleleh." Nina yang tengah tersenyum pagi itu di depan rumah duduk mengusap perut buncitnya sontak terhenti begitu saja melihat Kevin datang dengan panggilan baru yang ia berikan.
Ia menoleh kemudian menunduk lagi melihat Kevin turut duduk di sampingnya. Bukan dengan pakaian kerja seperti biasa. Pria itu tengah mengenakan pakaian tugas yang mengingatkan Nina keberangkatan Kevin sebelum insiden kecelakaan beberapa waktu lalu. Mata Nina mendadak berkaca-kaca saat melihat jelas pria itu sudah membawa tas ransel yang biasa di pakai ke lapangan. Hari lahiran yang sudah begitu dekat membuat Nina sangat takut mendengar Kevin akan pergi bertugas lagi. Dan tatapan nanar itu jelas Kevin tahu artinya.
Pelan ia mengusap puncak kepala Nina. Di genggamnya erat tangan Nina. Tak mereka sadari jika dari arah pintu Sekar dan Riana menatap sedih pada keduanya.
"Pak Kevin-"
"Ssst. Jangan panggil itu. Panggil seperti yang ku katakan tadi." pintahnya pelan masih menggenggam hangat tangan Nina.
"A-abang...mau kerja ke kantor kan?" tanya Nina berusaha berpikir positif.
__ADS_1
"Nina, maaf yah sekali lagi abang harus pergi membuat kalian cemas. Bahkan sebentar lagi kamu akan lahiran. Ibu akan menjaga kamu dan menemani kamu saat lahiran. Maafin abang karena tidak bisa berada di sisimu setiap waktu. Abang sudah waktunya kembali ke lapangan, Nina. Secepatnya abang akan pulang." Air mata Nina jatuh begitu derasnya.
Tidak biasanya ia terlihat meneteskan air mata kala Kevin harus pergi bertugas. Entah mengapa terlalu lama berada di sisi pria ini membuatnya semakin banyak permintaan. Nina tak bisa berkata apa pun lagi, hanya air mata yang terus berjatuhan saja.
"Abang harus segera berangkat. Kemarilah." Pelan Kevin membawa Nina ke dalam dekapannya.
Di sanalah tangis Nina pecah tak bisa ia tahan suaranya lagi. Takut akan kepergian Kevin kembali membuatnya kehilangan benar-benar. Rasanya sudah cukup sekian lama ia melihat pria ini tak sadarkan diri. Baru saja merasa tenang tinggal dengan keadaan baik-baik saja, kini Kevin justru harus pergi lagi ke medan perang.
"Berjanjilah untuk pulang segera dan baik-baik saja." Kevin mengangguk mendengar ucapan Nina. Ia pasti akan pulang dalam keadaan baik-baik saja. Setelah perpisahan sedih itu kini akhirnya Kevin pun meninggalkan rumah. Nina di dampingi oleh Sekar dan Riana saat melihat kepergian Kevin yang tak lagi terlihat.
Dua hari sudah waktu yang terlewatkan tanpa ada Kevin. Nina masuk ke kamar pria itu dan merapikan kamarnya meski sudah rapi. Entah mengapa ia merindukan kehadiran Kevin saat ini. Aroma tubuh pria itu begitu membuatnya tenang. Lama Nina duduk di sisi tempat tidur Kevin demi menenangkan diri. Hingga tiba-tiba ia bersuara kesakitan saat perutnya merasakan kontraksi yang sangat dahsyat.
__ADS_1
"Ibu, sakit. Bu, tolong." ia berteriak meminta tolong hingga dua wanita paruh baya itu pun datang dengan wajah panik.
"Nina, ada apa?" tanya Bu Sekar panik.
"Sepertinya Nina mau lahiran, Bu." ujar Riana menjawab. Sebab Nina sudah kesakitan tak bisa bicara apa pun lagi.
Sekar buru-buru memanggil anak buah Kevin yang bertugas di depan rumah. Hal ini sudah Kevin persiapkan dengan matang sebelum ia pergi. Tak ingin Nina kesulitan untuk persalinan, dengan begitu mudahnya helikopter pun membawa mereka ke sebuah rumah sakit yang langsung menyambut Nina. Beberapa dokter dan perawat bekerja sangat sigap.
Terharu Nina rasakan di saat dirinya seperti ini Kevin telah mempersiapkan semua dengan sangat baik. Rasanya pria itu tengah bersamanya saat ini membantu Nina mengurus semuanya. Hingga tak butuh waktu lama Nina pun berhasil melahirkan dengan baik. Air matanya jatuh memeluk sang anak yang menangis di sampingnya. Sekar dan Riana turut memeluk Nina terharu. Mereka sangat bahagia melihat bayi tampan itu lahir dengan sempurna.
"Kenapa menangis, Nina?" tanya Riana yang mengusap air mata sang anak.
__ADS_1
"Abang akan pulang kan, Bu?" Nina bertanya dengan suara bergetar pada kedua wanita paruh baya di depannya.
Sekar dan Riana pun mengangguk mengiyakan meski air mata di wajah keduanya juga turut mengalir dengar derasnya.