
Air mata haru menetes pagi itu kala Sekar datang terburu-buru ke rumah sakit dengan kabar yang Nina berikan. Sungguh kebahagiaan yang tak ternilai kini Sekar rasakan melihat dua mata pria yang begitu ia sayangi bisa kembali terbuka dan melihatnya lagi. Tangis pun sulit ia redam saat memeluk erat tubuh sang anak. Beberapa kali ia mencium kepala Kevin tanpa hentinya. Melihat itu Nina dan sang ibu juga sampai menjatuhkan air mata tak kuasa melihat kesedihan Bu Sekar. Selama berbulan-bulan terus mencemaskan keadaan sang anak sampai berada di titik pasrah untuk melepaskan Kevin pergi. Kini akhirnya Tuhan memberi nasib baik padanya. Tuhan sedang tidak ingin melihat wanita paruh baya itu kembali merasakan sakitnya kehilangan keluarganya.
"Kamu jahat, Vin. Kamu jahat. Ibu sendirian, Nak. Kenapa janjimu tidak kamu tepati pulang dengan utuh. Ibu hampir mati melihat kamu seperti ini." Dan masih banyak ucapan kemarahan dari wanita itu yang ia lontarkan pada anaknya.
Kevin masih diam memeluk erat tubuh sang ibu tanpa berkata apa pun. Ia tahu jika dirinya di posisi sang ibu pun pasti Kevin sama dan mungkin akan jauh lebih rapu dari sang ibu. Nina tampak mengusap punggung Bu Sekar penuh prihatin. Untuk saat ini ia merasa jauh lebih tenang setelah sejak subuh hingga pagi berada di dekapan pria yang sangat ia rindukan. Jangan berkata ia terlalu murahan, dalam keadaan hamil mau di peluk oleh pria lain. Nina sendiri tak tahu mengapa sulit menolak perintah dari Kevin. Entah rasa takut jika ia akan kehilangan pria ini lagi untuk selamanya hingga membuatnya hanya bisa patuh setidaknya masih berada di batas wajar.
"Maafkan aku yah, Bu? Sekarang aku sudah sehat dan kita bisa bersama lagi." ujar Kevin menghibur sang ibu. Berharap semuanya akan baik-baik saja. Sekar nampak hanya mengangguk dan berderai air mata.
__ADS_1
Mereka semua pun berkumpul di ruangan itu saat sang dokter datang memeriksa keadaan Kevin yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Semua bisa bernapas lega kala mendengar dokter mengatakan keadaannya membaik hingga hanya membutuhkan istirahat saja saat ini.
Sejak saat itu Kevin masih berada dalam pengawasan dokter hingga hanya bertugas di kantor saja. Ia pun sedikit merasa sedih sebab tak bisa ikut bertugas dengan para rekannya. Namun, di sini Kevin juga melihat sang ibu yang masih sangat terpukul dengan kejadian beberapa waktu lalu.
Beberapa bulan lamanya waktu yang sudah ia lewatkan dengan bekerja di kantor, kini tak terasa usia kandungan Nina sudah mendekati masa lahirnya. Ingin sekali ia menikahi Nina untuk menutup aib ini, namun wanita berbadan dua itu sangat tahu diri. Bagaimana pun Kevin adalah orang yang cukup di kenal baik oleh orang-orang. Oleh sebab itu ia tak ingin merusak nama Kevin dengan masa laluny yang buruk itu.
Jelas ia melihat pergerakan mata pria itu kini bergerak mengarah pada perutnya yang sudah menunggu waktunya lahiran.
__ADS_1
"Nina, apa boleh aku yang memberinya nama? Tidakkah kau keberatan jika dia menjadi anakku juga bukan?" pertanyaan yang membuat dada Nina terasa sesak. Matanya berkaca-kaca mendengar ucapan dari Kevin.
Sungguh Nina tak menyangka jika Kevin begitu memiliki hati yang tulus sampai membicarakan perihal anak yang belum saja ia sendiri memikirkan namanya. Lama Nina terdiam membisu tak tahu harus menjawab apa pada Kevin.
"Kalian akan segera menikah bukan setelah lahiran Nina?" Tiba-tiba suara Bu Sekar pun turut terdengar dari arah dalam rumah saat itu.
Nina menoleh ke belakang dan menunduk setelahnya. "Kevin akan menjadi seorang ayah untuk anakmu, Nina. Jangan terlalu banyak berpikir. Ibu rasa ini memang sangat tepat, Nak. Masa depan anakmu sangat butuh sosok ayah meski pun bukan ayah kandungnya."
__ADS_1