
Mendengar kebenaran dari security jika di depan adalah sang suami, Riana hanya berani mengintip lewat jendela rumah. Faris sama sekali tak nampak sebab ia saat ini berada di luar pagar. Tanpa ia tahu pria itu sedang suduk di ikat bersama para anggotanya sembari mulut mereka di tutup agar tidak berisik.
“Ayo kita ngopi saja.” ajak salah satu anak buah yang Kevin tugaskan.
Mereka semua pun akhirnya bisa duduk tenang menjaga rumah Kevin. Tanp ada rasa was-was lagi dari serangan musuh. Sebab musuh yang mereka targetnya telah berada di tangan mereka.
“Kurang ajar mereka. Berani sekali memperlakukan aku seperti ini. Lihat saja aku tidak akan mau menikahkan Nina dengan pria kurang ajar seperti itu!” umpat Faris dalam hati geram.
Ia merasa dirinya benar-benar di remehkan saat ini. Meski sebenarnya apa yang terjadi padanya bukanlah perintah dari Kevin. Ia hanya memerintah untuk mengamankan rumah dari orang-orang desa tersebut.
Malam yang dingin terpaksa harus ia habiskan dengan menikmati udara luar di depan rumah Kevin.
“Santai, Pak. Istirahat saja hitung-hitung kita sama-sama jaga istri dan anak bapak.” sahut tentara satunya lagi.
Tanpa bisa berkata apa pun, Faris hanya mendelikkan matanya.
Suasana yang berbeda tampak tenang di dalam rumah. Sekar malam ini tidur dengan lelapnya di temani Nina yang tidur di sampingnya.
__ADS_1
“Syukurlah ibu sudah tidur. Semoga Pak Kevin segera pulang biar Bu Sekar juga tenang. Semoga semuanya baik-baik saja.” tuturnya dalam hati penuh harap.
Di pagi harinya seperti biasa, Nina akan berkeliling rumah memperhatikan lingkungan rumah itu usai sarapan bersama dua wanita lainnya. Nina duduk di kursi saat melihat bunga mawar yang memiliki perpaduan warna banyak yang mulai kuncup.
Ia tersenyum. “Pak Kevin kalau lihat ini pasti senang pas mekar.” ujarnya kembali mengingat sosok pria yang sangat suka dengan bunga.
Bayangan Kevin membeli bunga dengan ia merangkai sendiri dan memberikan pada Nina, sungguh manis. Nina tidak sadar jika wajahnya terus tersenyum tanpa ia sadari jika dari arah lain ada yang memperhatikan.
“Sekarang saya memiliki teman Bu merindukan Kevin. Nina diam-diam juga sudah menyimpan rindu yang besar dan khawatir pada anak saya.” tutur Sekar.
Riana hanya tersenyum. “Saya sedih melihat anak saya sendiri. Nasibnya sungguh malang mencintai pria sedang perutnya buncit dengan pria lain. Seandainya saya bisa mengentikan ulah suami saya pada saat itu, mungkin ini semua tidak terjadi. Nina akan hidup sebagai mana mestinya seorang wanita yang akan menikah. Tidak ada beban pikiran, hidupnya bahagia dan di hormati.” Riana sangat sedih.
“Bu, jangan bicara seperti itu. Jujur awalnya saya pun merasa sulit percaya ini. Nina akan menjadi menantu saya dengan perut yang bahkan masih belum tahu jenis kelam*n anaknya apa? Tapi, seiring berjalannya waktu itu semua tak lagi menjadi masalah bagi kami. Toh Nina seperti itu bukan pilihannya. Dia hanya menjalankan kewajibannya sebagai istri yang di nikahi paksa. Tidak ada yang salah pada Nina, Bu. Nina wanita yang baik dan penyayang. Saya yakin anak saya akan bahagia bersamanya.” sahut Sekar mantap panjang lebar menjabarkan isi hatinya pada sang calon besan.
“Dia sedang menikmati rindunya dengan Kevin. Ini harus di abadikan.” Sekar mengangkat ponsel miliknya dan memotret Nina yang terus tersenyum pada bunga-bunga yang siap untuk mekar.
Riana senang melihat Sekar benar-benar baik.
__ADS_1
“Kamu beruntung Nina berada di lingkungan mereka.” gumamnya dalam hati.
Tak ada yang tahu jika pria yang tengah mereka sebut namanya saat ini tengah berlari dari tempat persembunyian mencari mereka.
Para kelompok pemburu tentara nampak menarik satu anggota Kevin yang berjalan bagian paling belakang.
Kevin tak akan membiarkan satu pun anggota mereka tak bisa pulang dengan utuh.
“Kita berangkat sama-sama maka pulang akan tetap sama-sama.” itulah isyarat yang Kevin ucapkan saat ini.
Hutan yang nampak kabut itu menjadi tempag yang sangat menyeramkan saat ini.
Semua nampak kelelahan akibat berlari saat mendengar helikopter mereka meledak. Yah, siapa lagi ulahnya jika bukan orang di pedalaman hutan itu. Mereka sangat marah mendengar wilayah mereka ingin di jadikan tempat bangunan-bangunan tinggi oleh pemerintah.
Berharap dengan banyak memakan korban jiwa, maka tempat itu tidak akan di ambil alih. Dan mereka bisa menguasai hutan itu sesukanya.
Kevin memberi perintah untuk mereka berjaga di beberapa titik.
__ADS_1
“Kalian kalian ikut saya di belakang.” pintahnya mulai melangkah pelan memasuki sebuah lorong yang di duga adalah tempat mereka semua.
Kevin harus bisa menyelamatkan anggotanya. Beberapa dari mereka juga di tugaskan untuk mencari ujung lorong itu, mereka tidak sedikit. Kevin tidak ingin banyak korban lagi. Maka ia membagi beberapa kelompok dengan jumlah yang lumayan banyak.